October 17, 2026

Peta Pilrek UINSA Menguat di Lima Besar, Visi Transformasi Kampus Jadi Penentu

0



Jefri Hadi
– 06 April 2026 | 20:04 – Dibaca 0 kali

News
Peta Pilrek UINSA Menguat di Lima Besar, Visi Transformasi Kampus Jadi Penentu

Gedung UINSA 2026 (Foto: Istimewa)

BERITA PLUS, SURABAYA – Kontestasi pemilihan Rektor (Pilrek) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2026-2030 kian mengerucut, namun belum menunjukkan dominasi tunggal, Senin (6/4/2026).

Survei terbaru menempatkan Prof. Dr. Rubaidi sebagai kandidat teratas, sementara dinamika elektabilitas dan munculnya pemilih mengambang menegaskan bahwa pertarungan masih sangat terbuka dengan arah perubahan ditentukan oleh kapasitas, visi, dan model kepemimpinan yang ditawarkan.

Survei yang dilakukan Aliansi UINSA Jaya terhadap 1.830 responden yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan menggambarkan dua variabel utama dalam kontestasi, yakni tingkat pengenalan dan preferensi.

Dalam aspek pengenalan, Rubaidi memimpin dengan 35,96 persen, diikuti Prof. Dr. Akh. Muzakki sebesar 34,92 persen. 

Namun, ketika beralih ke elektabilitas, Rubaidi tetap unggul dengan 25,46 persen, disusul Prof. Dr. Sri Warjiyati (16,89 persen), sementara Muzakki turun ke posisi ketiga dengan 10,93 persen.

Temuan ini menunjukkan adanya jarak antara popularitas dan kelayakan dipilih.

“Pemilih semakin rasional, tidak hanya memilih yang paling dikenal, tetapi yang dianggap paling mampu,” demikian tergambar dalam hasil survei tersebut.

Di posisi berikutnya, Prof. Dr. Masdar Hilmy meraih 10,33 persen dan Prof. Dr. Khoirun Niam sebesar 8,96 persen, mempertegas dominasi lima besar kandidat dalam kontestasi ini.

Pada kelompok menengah, Prof. Dr. Mohammad Kurjum memperoleh 4,97 persen, diikuti Prof. Dr. Evi Fatimatur Rusydiyah (2,90 persen) dan Prof. Dr. Husniyatus Salamah (2,79 persen). Sementara kandidat lainnya berada di bawah 3 persen.

Distribusi ini menunjukkan bahwa kontestasi secara efektif masih terpusat pada lima kandidat teratas, meski peluang pergeseran tetap terbuka.

Menariknya, terdapat 3,06 persen responden yang belum menentukan pilihan.

Kelompok ini dipandang sebagai swing voters yang berpotensi menjadi penentu arah akhir pemilihan.

Dalam situasi di mana belum ada kandidat yang menembus angka dominan di atas 30 persen, suara mengambang ini menjadi sangat strategis. Perubahan kecil dalam preferensi dapat menggeser peta dukungan secara signifikan.

“Tidak ada kandidat yang benar-benar dominan. Jarak antar kandidat masih kompetitif, terutama di posisi tiga besar,” demikian salah satu kesimpulan survei.

Menanggapi posisinya, Rubaidi menilai dukungan tersebut tidak lepas dari pendekatan kepemimpinan yang egaliter dan kedekatannya dengan sivitas akademika.

“Saya tidak pernah menjaga jarak dengan mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan. Kepemimpinan itu harus merangkul,” ujarnya.

Latar belakangnya sebagai santri serta keterlibatan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Nahdlatul Ulama Jawa Timur disebut membentuk karakter kepemimpinan yang demokratis dan kolektif.

Dalam visi kepemimpinannya, Rubaidi menargetkan UINSA masuk 50 besar perguruan tinggi Islam di Asia Tenggara. 

Ia menekankan integrasi keilmuan Islam dengan sains dan teknologi sebagai keunggulan kompetitif kampus.

“Targetnya jelas, sesuai Rencana Induk Pengembangan, UINSA harus menjadi 50 besar di Asia Tenggara,” katanya.

Untuk mencapainya, ia mengusung konsep Academic Renaissance guna mengembalikan marwah akademik melalui penguatan riset dan integritas ilmiah, serta frictionless governance berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat tata kelola kampus.

Di tengah kontestasi tersebut, wacana kepemimpinan kampus juga mengemuka dari kandidat lain. Prof. Dr. Mohammad Kurjum, misalnya, menawarkan pendekatan kepemimpinan humanis melalui analogi “kawanan serigala”.

“Rektor dan dekan idealnya menjadi servant leader, pelayan intelektual yang menempatkan kemajuan kolektif di atas ambisi pribadi,” ujar Kurjum.

Mengacu pada perilaku kawanan serigala, ia menjelaskan bahwa pemimpin sejati tidak selalu berada di depan, melainkan berjalan di belakang untuk memastikan seluruh anggota tetap aman dan tidak tertinggal.

“Pemimpin itu mengatur ritme perjalanan, memastikan semua berkembang bersama,” katanya.

Menurut Kurjum, filosofi tersebut relevan dalam membangun ekosistem akademik yang inklusif dan berkeadaban, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

“Kampus harus menjadi ruang yang melindungi yang lemah, memberi ruang bagi yang muda, dan menjaga nilai-nilai keadaban,” ujarnya.

Ia menegaskan, kepemimpinan kampus bukan sekadar manajerial, tetapi juga moral. “Pemimpin kampus adalah penjaga ruh institusi,” katanya.

Secara keseluruhan, dinamika pemilihan Rektor UINSA menunjukkan pergeseran penting dalam perilaku pemilih. 

Popularitas tidak lagi menjadi faktor utama, melainkan kemampuan kandidat dalam menawarkan solusi konkret dan visi masa depan kampus.

Dengan kontestasi yang masih terbuka dan kompetitif, serta adanya pemilih mengambang, hasil akhir pemilihan akan sangat ditentukan oleh strategi komunikasi, konsolidasi dukungan, serta kemampuan kandidat meyakinkan tim seleksi dan pemangku kebijakan.

Survei ini pun tidak sekadar menjadi alat ukur elektabilitas, melainkan cermin arah perubahan di lingkungan kampus—menuju kepemimpinan yang lebih rasional, inklusif, dan berorientasi masa depan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *