Pemkab Sumenep Dorong HMT Jadi Benteng Aswaja di Era Digital
Wabup Sumenep KH Imam Hasyim, saat memberikan sambutan. Foto: Wildan/suaraindonesia.co.id.
BERITA PLUS, SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menegaskan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Salah satunya, dengan mendorong Harakah Majelis Taklim (HMT) tampil sebagai benteng utama di tengah derasnya arus digitalisasi.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim, saat menghadiri Halal Bihalal HMT di Pendopo Keraton Sumenep, Kamis (23/04/2026).
Kegiatan itu, disebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus penguatan peran organisasi keagamaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Halal bihalal bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk saling memaafkan dan memperkuat persaudaraan sebagai sesama hamba Allah,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi bahwa halal bihalal memiliki makna lebih dari sekadar tradisi, yakni sebagai momentum untuk merawat kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kesadaran spiritual sebagai sesama umat.
Pemkab Sumenep juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan HMT yang dinilai cukup progresif meski usianya masih relatif muda. Organisasi tersebut, dinilai telah mampu menjangkau hingga tingkat kecamatan bahkan mulai merambah ke desa-desa, menunjukkan daya jangkau yang kuat di akar rumput.
Menurutnya, capaian tersebut menempatkan HMT sebagai wadah strategis, khususnya dalam merangkul berbagai elemen perempuan untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan keagamaan di daerah.
“Tapi ini mereka cukup mengakar ke bawah, sehingga ada 19 dari 27 PAC. Apa lagi itu juga sudah merembet ke desa-desa ya, ini luar biasa sekali,” katanya.
Di sisi lain, ia menyoroti tantangan era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan beragam pemahaman keagamaan. Situasi tersebut, kata dia, menuntut kehadiran organisasi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga mampu menjaga kemurnian ajaran Islam yang moderat.
Lebih lanjut, ia berharap HMT dapat mengambil peran sebagai garda terdepan dalam menjaga dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, terutama di tengah munculnya berbagai pemahaman yang berpotensi menyimpang dari ajaran tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa esensi keberagamaan tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus tercermin dalam kontribusi nyata kepada sesama. Prinsip bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, menurutnya, harus menjadi ruh gerakan HMT.
“Kami minta kepada HMT ini harus menjadi garda terdepan untuk menanamkan rasa idealisme kita,” tandasnya.(*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Wildan Mukhlishah Sy |
| Editor | : Imam Hairon |
