Dari Gerobak Cilok ke Tanah Suci: Jalan Panjang Mislicha Menuju Haji di Usia 85 Tahun
Jefri Hadi
– 24 April 2026 | 19:04 – Dibaca 12 kali
Jemaah haji kloter 10, Mislicha Kasib (85) perempuan paruh baya asal Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan dijadwalkan berangkat malam ini pukul 20.20 wib. (FOTO: Humas AHES/Suaraindonesia.co.id)
BERITA PLUS, SURABAYA – Mengenakan jilbab kuning kecoklatan dengan pandangan tersenyum dan terlihat lepas ceria di wajah sambil menenteng perlengkapan identitas tergenggam di kedua tangan.
Nampak satu jemaah tertua kloter 10 menunggu di ruang antrian dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) yang dijadwalkan terbang ke Tanah Suci melalui Bandara Internasional Juanda pada pukul 20.20 WIB bersama rombongan jemaah lainnya, Jumat (24/4/2026).
Mislicha Kasib (85) perempuan paruh baya itu berasal dari sudut sederhana Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, langkah renta selama puluhan tahun tak pernah berhenti mendorong gerobak ciloknya demi niat dan panggilan ke baitullah tanah suci Mekah menunaikan ibadah haji.
Dari penghasilan yang tak seberapa, ia menabung rupiah demi rupiah. Baginya, sebuah ikhtiar sunyi yang akhirnya mengantarkannya ke panggilan suci.
Mislicha tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) pada Kamis (23/4/2026) malam.
“Sejak dulu saya hanya ingin bisa ke Tanah Suci. Alhamdulillah, meski pelan-pelan menabung, akhirnya tercapai,” ujar Mislicha dengan suara lirih namun mantap.
Sehari-hari, Mislicha berjualan cilok keliling dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Dari jumlah itu, ia menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu untuk ditabung.
Selain itu, ia mengikuti arisan sebagai upaya tambahan mengumpulkan biaya haji.
Ketekunan tersebut membuahkan hasil ketika pada 2017 ia mampu menyetor biaya awal pendaftaran haji sebesar Rp25 juta.
Perjalanan hidup Mislicha tak mudah. Setelah suaminya wafat, ia membesarkan delapan anak seorang diri dan keterbatasan, ia tetap bekerja tanpa mengeluh, memikul tanggung jawab sekaligus menyimpan harapan besar untuk berangkat haji.
“Ibu tidak pernah menyerah. Kami semua tahu beliau menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok,” kata putri bungsunya, Mariatul Kibtiyah (35) disampingnya.
Pada pelaksanaan haji tahun ini, Mislicha didampingi Mariatul yang mendaftar pada 2020 melalui skema penggabungan mahram. Kehadiran sang anak diharapkan dapat membantu kelancaran ibadah Mislicha selama di Tanah Suci.
“Saya ingin mendampingi ibu agar ibadahnya lancar. Ini impian beliau sejak lama,” ujar Mariatul.
Humas PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Embarkasi Surabaya, Fikri menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen memberikan pelayanan optimal, khususnya bagi jemaah lanjut usia.
“Kami memastikan seluruh jemaah, termasuk lansia, mendapatkan pendampingan dan layanan yang memadai agar dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Kisah Mislicha bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, melainkan juga potret keteguhan hati dan kesabaran yang dirajut dalam diam.
Dari gerobak cilok yang didorong setiap hari, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih panggilan suci.
Untuk diketahui, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya telah memberangkatkan 2.612 jemaah haji menuju Tanah Suci hingga Kamis (23/4/2026) malam.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari pemberangkatan beberapa kelompok terbang (kloter), termasuk keberangkatan pada Jumat (24/4/2026) yang mencakup kloter 3 hingga kloter 7. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Imam Hairon |
