October 17, 2026

Terungkap, Ini Penyebab Utama Stunting di Pulau Kangean

0


News
Terungkap, Ini Penyebab Utama Stunting di Pulau Kangean

tim menemukan bahwa banyak bayi di bawah enam bulan sudah diberikan asupan tambahan seperti air tajin (Istimewa)

BERITA PLUS, SURABAYA — Persoalan stunting di wilayah kepulauan kembali menunjukkan wajah yang lebih kompleks dari sekadar kekurangan pangan. Di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, praktik turun-temurun dan minimnya akses layanan kesehatan justru menjadi faktor dominan yang memicu gangguan tumbuh kembang anak.

Temuan ini mengemuka dalam kegiatan skrining kesehatan yang digelar melalui gerakan sosial #BersamaMomUung, hasil kolaborasi Mom Uung bersama tim tenaga medis dan CHeNECE Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Di lapangan, tim menemukan bahwa banyak bayi di bawah enam bulan sudah diberikan asupan tambahan seperti air tajin, air mineral, hingga pisang halus. Praktik ini masih diyakini sebagai cara mempercepat pertumbuhan, meski bertentangan dengan prinsip ASI eksklusif.

Padahal, secara medis, sistem pencernaan bayi pada usia tersebut belum siap menerima makanan atau minuman selain ASI.

“Yang kami temukan bukan sekadar kurang makan, tapi cara memberi makan yang keliru,” ujar dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., yang terjun langsung melakukan pemeriksaan.

Hasil skrining menunjukkan sebagian besar anak mengalami indikasi stunting. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena tidak adanya makanan, melainkan karena pola pemberian nutrisi yang tidak sesuai dengan usia anak.

Masalah tidak berhenti di situ. Pada fase lanjutan, sejumlah ibu justru masih mengandalkan ASI sebagai sumber utama nutrisi meski anak telah berusia di atas 10 bulan. Akibatnya, kebutuhan gizi yang seharusnya dipenuhi melalui MPASI tidak tercukupi secara optimal.

Situasi ini diperparah oleh keterbatasan akses layanan kesehatan. Warga mengaku kehadiran tenaga medis di wilayah tersebut sangat terbatas.

“Dokter biasanya datang sebulan sekali, itu pun tidak lama. Jadi kami jarang tahu kondisi anak secara pasti,” kata Ira, salah satu warga.

Kondisi geografis kepulauan membuat edukasi kesehatan sulit menjangkau masyarakat secara merata. Dalam kekosongan informasi tersebut, praktik tradisional terus bertahan dan diwariskan.

Selain faktor pengetahuan, kondisi psikologis ibu juga menjadi penentu keberhasilan menyusui. dr. Ikhsanuddin Qoth’i menegaskan bahwa produksi ASI sangat dipengaruhi oleh kondisi mental ibu.

“Kalau ibu merasa tenang, didukung, dan cukup istirahat, produksi ASI biasanya lebih optimal. Jadi pendekatannya tidak bisa hanya medis, tapi juga emosional,” jelasnya.

Melihat kompleksitas persoalan tersebut, intervensi yang dilakukan tidak berhenti pada penyuluhan. Para ibu juga mendapatkan pendampingan langsung, mulai dari teknik menyusui, pengenalan pola makan anak, hingga praktik penggunaan pompa ASI.

Founder Mom Uung, Uung Victoria Finky, menyebut pendekatan langsung menjadi kunci untuk memahami kebutuhan nyata di lapangan.

“Masalahnya bukan ibu tidak mau belajar, tapi mereka tidak punya akses informasi yang cukup. Karena itu kami datang langsung, supaya solusi yang diberikan benar-benar bisa diterapkan,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan posko kesehatan yang berfungsi sebagai pusat skrining sekaligus ruang edukasi bagi para ibu.

Kasus di Pulau Kangean menjadi cermin bahwa stunting bukan semata persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan literasi kesehatan dan perubahan perilaku. Tanpa intervensi yang berkelanjutan, praktik keliru yang dianggap wajar berisiko terus memperpanjang siklus stunting di wilayah terpencil.

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Imam Hairon





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *