October 16, 2026

Pengelolaan Sampah di Bandung Dinilai Masih Perlu Pembenahan

0



Asep Tedi
– 20 July 2026 | 09:07 – Dibaca 5 kali

News
Pengelolaan Sampah di Bandung Dinilai Masih Perlu Pembenahan

Sampah rumah tangga menumpuk di sepanjang jalan raya Soreang Kabupaten Bandung, Senin (20/7/2026). (Foto: Asep/Suara Indonesia)

SUARA INDONEISA, SOREANG – Pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung dinilai masih membutuhkan pembenahan, baik dari sisi sistem maupun kesadaran masyarakat.

Saat ini, pengelolaan sampah di sejumlah wilayah dilakukan oleh pengurus RW dengan sistem iuran warga sebesar Rp 60 ribu per bulan.

Sampah rumah tangga diangkut menggunakan mobil sampah secara bergiliran sesuai jadwal masing-masing RT, umumnya satu kali dalam sepekan.

Namun, sampah yang diangkut masih tercampur dan dibungkus plastik sebelum dibawa ke lokasi pembuangan yang disediakan pemerintah daerah di kawasan Citarum.

Sebagian sampah, terutama plastik, masih dibakar di lokasi tersebut. Apabila kendaraan pengangkut mengalami kerusakan, warga juga ikut memberikan kontribusi biaya perbaikan.

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Karmin Suharna, mengatakan saat musim hujan sering terjadi antrean di tempat pembuangan sampah sehingga pengangkutan menjadi terlambat.

“Karena ada beberapa kejadian ketika musim hujan, di tempat pembuangan sampah terjadi antrean sehingga sampah tidak terambil dan hanya ditumpuk menunggu giliran,” ujarnya di Margahayu, Senin (20/7/2026).

Menurut mantan Asisten Teritorial Kasad Tahun 2022 ini, keterlambatan pengangkutan menyebabkan sampah menumpuk hingga tiga hari di lingkungan warga dan bahkan berceceran di pinggir jalan.

“Kalau seandainya pemda bisa mengelola dengan baik, masyarakat tidak terlalu susah untuk membuang sampah karena sampah itu tanggung jawab pemerintah daerah. Warga sudah membayar iuran dan juga pajak,” tegasnya.

Ia mencontohkan masih adanya lokasi pembuangan sampah di pinggir sungai yang kondisinya kumuh karena sampah dibakar begitu saja. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan pemulung maupun masyarakat yang terlibat dalam pengelolaannya.

Karmin menilai masih banyaknya sampah yang ditemukan di berbagai wilayah Kabupaten Bandung menjadi indikator bahwa sistem pengelolaan sampah masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Ia juga mengapresiasi hadirnya Komunitas Peduli Lingkungan Hidup (KPLH) sebagai bentuk inovasi yang dapat mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

“Dengan hadirnya Komunitas Peduli Lingkungan Hidup (KPLH), ini menjadi langkah inovatif yang lahir dari kesadaran pribadi untuk mencintai lingkungan,” ungkap Karmin.

“Jika semangat seperti ini dimiliki seluruh warga negara, persoalan sampah dapat diselesaikan melalui budaya tanggung jawab terhadap lingkungan,” lanjutnya.

Karmin menambahkan, saat musim kemarau masih terlihat banyak sampah di aliran sungai, sedangkan pada musim hujan kondisi tersebut berpotensi memicu banjir akibat kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke sungai.

Menurutnya, pengelolaan sampah harus diarahkan pada konsep daur ulang sehingga mampu mengurangi pencemaran sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Kesadaran yang dimiliki para pegiat lingkungan, khususnya KPLH, diharapkan menjadi inovator ke depan. Sampah dapat diselesaikan dan menghasilkan nilai ekonomi jika dikumpulkan dan didaur ulang dengan baik,” ujar Karmin.

Karmin juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari ajaran agama. Ia menyebut dalam Islam terdapat hadis yang menjelaskan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Karena itu, setiap orang yang beriman semestinya menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya serta tidak melakukan tindakan yang merugikan masyarakat maupun lingkungan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Asep Tedi
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *