October 17, 2026

Poliwangi Kenalkan Teknologi IoT Olah Limbah Ayam Jadi Pellet Pupuk

0


Pendidikan
Poliwangi Kenalkan Teknologi IoT Olah Limbah Ayam Jadi Pellet Pupuk

Tim Poliwangi mendampingi Bumdes Tambong memproduksi pellet pupuk organik berbasis IoT. (Foto: Istimewa).

BERITA PLUS, BANYUWANGI – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) mendorong pemanfaatan limbah peternakan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur, secara berkelanjutan.

Program bertajuk “Inovasi Teknologi Pelet Pupuk Organik Berbasis IoT dari Limbah Kotoran Ayam untuk Mendukung Kemandirian dan Ketahanan Pangan Desa Tambong” menyasar Bumdes Rekso Wijoyo.

Kegiatan melibatkan Aldy Bahaduri Indraloka, S.Si., M.P., Dosen Jurusan Pertanian sekaligus Ketua Tim PKM; Endi Sailul Haq, S.T., M.Kom., Dosen Jurusan Bisnis dan Informatika terkait.

Turut terlibat Mokhtar Effendi, S.P., M.P., Dosen Jurusan Pertanian, Kepala Desa Tambong Agus Hermawan, S.Sos., NL.P., CPLA., Sekretaris Desa Abdul Mugis, mahasiswa, serta anggota Bumdes.

Ketua Tim PKM Aldy Bahaduri Indraloka, mengatakan limbah kotoran ayam petelur berpotensi diolah langsung menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

“Tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memastikan mitra mampu mengoperasikan teknologi dan mengelola usaha secara mandiri, sehingga program berkelanjutan setelah pendampingan berakhir,” ujar Aldy, Sabtu (15/8/2026).

Program diawali sosialisasi dan praktik produksi pupuk kompos bersama Bumdes Rekso Wijoyo. Kepala Desa Tambong Agus Hermawan, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi.

Menurut Aldy, proses pengomposan membutuhkan teknologi tepat guna berupa aktivator EM4 dan Trichoderma sp. untuk membantu mempercepat fermentasi serta meningkatkan kualitas pupuk organik secara konsisten.

Transfer teknologi diperkuat Endi Sailul Haq, melalui penerapan sensor IoT berbasis suhu untuk memantau kondisi fermentasi secara berkala selama proses pengomposan setiap hari.

Sensor tersebut membantu mitra memantau suhu fermentasi secara terukur, sehingga proses produksi dapat dikendalikan dan menghasilkan kompos secara optimal sesuai kebutuhan pengelolaan usaha Bumdes.

Tim PKM juga menyerahkan mesin pellet atau pelletizer, sekaligus memberikan pelatihan pembuatan pellet pupuk organik berbahan kompos kotoran ayam dan bekatul kepada Bumdes Rekso Wijoyo.

Sekretaris Desa Tambong Abdul Mugis mengapresiasi teknologi tersebut karena dinilai membantu Bumdes meningkatkan pengolahan pupuk kompos menjadi produk pellet yang lebih praktis dan bernilai jual.

“Adanya mesin pellet ini sangat berguna bagi Bumdes dalam mengolah pupuk kompos menjadi pellet,” ujar Abdul Mugis. 

Kehadiran mesin tersebut memudahkan pengolahan dan meningkatkan efisiensi usaha.

Aldy menambahkan, kualitas pellet pupuk organik yang dihasilkan memuaskan dan berpotensi meningkatkan nilai tambah produk kompos yang dihasilkan.

“Pellet memiliki bentuk lebih praktis, sehingga membuka peluang pemasaran lebih luas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” kata dia.

Melalui kegiatan tersebut, Poliwangi memperkuat kontribusinya terhadap pencapaian SDGs, Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, serta Asta Cita melalui penguatan kemandirian pupuk dan ketahanan pangan.

Program bersama Bumdes Rekso Wijoyo menjadi bagian dari upaya Poliwangi memberdayakan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal setempat.

Seluruh kegiatan PKM didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 di Banyuwangi. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *