Menatap 2029: Esensi Gotong Royong dan Keteguhan Khidmah Mas Rio untuk Situbondo
Syamsuri
– 23 September 2026 | 14:09 – Dibaca 1 kali
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang akrab disapa Mas Rio, berbaju khas oren bersama Kyai Kharismatik, KHR. Moh.Kholil As’ad Syamsul Arifin. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, SITUBONDO – Kepemimpinan tidak sekadar tentang kalkulasi elektoral, melainkan sebuah manifestasi ketulusan dan kebersamaan.
Hal inilah yang tecermin dari pernyataan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang akrab disapa Mas Rio, saat merespons aspirasi masyarakat yang mendorongnya untuk melangkah ke panggung Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2029.
Dalam sebuah dialog interaktif melalui siaran langsung di media sosial TikTok pada Rabu (23/9/2026) pagi, Mas Rio menanggapi dinamika politik tersebut dengan penuh kerendahan hati.
Alih-alih langsung menyatakan ambisi menduduki kursi di tingkat provinsi, ia justru merefleksikan kembali hakikat perjuangan finansial dan moral yang melandasi perjalanannya pada Pilkada Situbondo 2024 lalu.
Ia mengakui secara terbuka bahwa kontestasi politik menuntut konsekuensi biaya yang tidak sedikit. Namun, bagi Mas Rio, kemenangan yang diraihnya bukan hasil dari kekuatan modal personal, melainkan buah dari gerakan swadaya dan ketulusan kolektif masyarakat Situbondo.
“Untuk Pilkada kemarin (finansial) sudah habis. Saya tidak memiliki modal (tersisa),” ungkap Mas Rio dengan jujur.
Di balik keterbatasan tersebut, Mas Rio mengisahkan bagaimana struktur sosial Situbondo bergerak secara organik. Dukungan dana dan logistik mengalir dari berbagai elemen, mulai dari kalangan kiai, kaum santri, relawan, hingga masyarakat umum yang bahu-membahu secara sukarela.
“Di Situbondo, para kiai turut bergotong royong, mendampingi kemampuan finansial pribadi saya. Para santri dan relawan juga berpatungan, bahkan memproduksi atribut kampanye seperti kaus secara mandiri,” lanjutnya.
Secara khusus, Mas Rio memberikan penghormatan mendalam kepada Kiai Kholil As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Situbondo.
Ia mengungkapkan bahwa sang ulama kharismatik tersebut secara substansial ikut menanggung akomodasi tim serta kebutuhan konsumsi selama masa perjuangan.
Bagi Mas Rio, seluruh sumber daya yang telah didedikasikan dalam proses tersebut kini telah diikhlaskan sepenuhnya sebagai bentuk pengabdian.
Fenomena solidaritas masyarakat inilah yang mendasari sikap hati-hati Mas Rio dalam merespons wacana Pilgub Jatim 2029. Ia memandang dukungan publik sebagai amanah berat, bukan sekadar komoditas politik untuk memperluas kekuasaan.
“Saat ini memang banyak yang menghendaki saya maju sebagai gubernur,” akuinya.
Kendati demikian, Mas Rio menegaskan bahwa langkah politiknya di masa depan tidak ditentukan oleh ambisi pribadi, melainkan kepatuhan spiritual dan moral kepada guru setianya.
“Seluruh keputusan masa depan telah saya pasrahkan sepenuhnya kepada arahan Kiai Kholil,” tegasnya.
Bagi Mas Rio, esensi dari sebuah jabatan politik adalah ruang untuk memperluas jangkauan pelayanan (khidmah) kepada masyarakat kecil. Kepuasan batin dari kebijakan yang berdampak langsung—seperti program bedah rumah dan pemerataan infrastruktur jalan—jauh lebih bernilai ketimbang materi.
“Semua pengorbanan itu tergantikan oleh kepuasan batin. Ruang saya adalah politik, dan hakikat tugasnya adalah melayani masyarakat,” pungkas Mas Rio. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Syamsuri |
| Editor | : Alfiana Putri |
