Sebanyak 62 Ribu Wisatawan Datang, Rp70 Miliar Berputar di Dieng Selama DCF 2026
Menerbangkan lampion menjadi salah satu momen yang paling dinantikan wisatawan dalam gelaran Dieng Culture Festival (DCF) 2026. (Foto: Dok Iwan Setiawan/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) ke-16 tahun 2026 tak hanya menjadi panggung pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Dieng.
Gelaran wisata budaya ini juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat dengan perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp 70 miliar dalam sepekan.
Besarnya perputaran ekonomi tersebut terasa di berbagai sektor, mulai dari penginapan, transportasi, pedagang, pelaku UMKM, hingga berbagai kebutuhan wisatawan selama berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pendawa Dieng Kulon, Alif Fauzi, mengatakan estimasi tersebut dihitung dari jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai sekitar 62.000 orang selama sepekan, mulai sebelum hingga setelah puncak pelaksanaan DCF.
Dengan asumsi rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar Rp 1 juta untuk akomodasi dan berbagai kebutuhan lainnya, sedikitnya Rp 62 miliar uang beredar di kawasan Dieng.
“Angka itu merupakan akumulasi dari berbagai lini transaksi ekonomi, mulai dari paket partisipan, biaya operasional festival, penginapan, transportasi, sampai omzet pedagang lokal dan pelaku UMKM,” ujar Alif.
Perputaran ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya Festival Kopi Dieng yang menjadi salah satu agenda penunjang DCF 2026.
Festival tersebut mencatat transaksi bisnis komoditas kopi pegunungan mencapai sekitar Rp 15 miliar. Kondisi ini sekaligus membuka ruang lebih luas bagi produk kopi lokal dan memberikan dampak ekonomi bagi petani.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman, menyambut positif dampak ekonomi yang muncul dari pelaksanaan DCF tahun ini.
Menurutnya, manfaat sebuah event tidak hanya dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang langsung masuk ke kas daerah. Lebih dari itu, perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan warga.
“Homestay penuh, aktivitas masyarakat hidup, dan transaksi kopi mencapai Rp 15 miliar. Itu baru yang tercatat, belum termasuk yang tidak terhitung,” kata Tursiman, Rabu (23/9/2026).
Ia menambahkan, pemerintah memiliki kewajiban membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Menurutnya, event pariwisata seperti DCF menjadi salah satu ruang yang mampu mempertemukan sektor wisata, perdagangan, UMKM, hingga pertanian.
Pelaksanaan DCF ke-16 juga dinilai lebih matang dan tertata dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, penyelenggara, serta berbagai stakeholder disebut menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran acara.
Ke depan, penyelenggara bersama pemerintah daerah berkomitmen menjaga momentum tersebut dengan menghadirkan berbagai inovasi dan kreativitas baru.
Salah satunya melalui penguatan aspek Indikasi Geografis (GI) dengan menggandeng Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan sekaligus meningkatkan nilai tawar berbagai potensi lokal khas Dieng, sehingga tidak hanya dikenal sebagai bagian dari atraksi wisata, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang semakin kuat di tingkat nasional hingga global.
Dengan begitu, DCF tidak sekadar menjadi pesta budaya tahunan. Lebih jauh, festival ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Iwan Setiawan |
| Editor | : Alfiana Putri |
