October 17, 2026

Ahmad Yuzar Menghidupkan Pesan Leluhur Lewat Lubuk Larangan

0


News
Ahmad Yuzar Menghidupkan Pesan Leluhur Lewat Lubuk Larangan

Momen Bupati Kampar menangkap ikan di lubuk larangan (Foto: Istimewa)

SUARAINDONESIA, KAMPAR — Suasana Tepian Sungai Kampar di Desa Siberuang, Kecamatan Koto Kampar Hulu, berbeda pada Sabtu, (17/10/2026). Ribuan warga berkumpul menyambut tradisi Ikan Antau Lubuk Larangan.

Sebelum masyarakat turun menangkap ikan bersama-sama, lantunan Surah Yasin, zikir, dan doa mengawali kegiatan tersebut.

Di tengah suasana kebersamaan itu, Bupati Kampar Ahmad Yuzar hadir membuka tradisi yang diwariskan turun-temurun. Baginya, Lubuk Larangan bukan semata-mata tentang ikan yang hidup di sungai, melainkan tentang bagaimana masyarakat menjaga alam, merawat adat, dan mempertahankan semangat gotong royong.

Ahmad Yuzar mengapresiasi ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan panitia yang terus menjaga tradisi tersebut. Ia menilai, di tengah perubahan zaman, kearifan lokal seperti Lubuk Larangan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.

“Lubuk Larangan bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, serta tanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam,” kata Ahmad Yuzar.

Tradisi ini bertumpu pada kesepakatan masyarakat untuk menjaga kawasan sungai dalam jangka waktu tertentu sebelum dibuka untuk kegiatan menangkap ikan bersama. Aturan adat tersebut menjadi salah satu cara masyarakat melindungi sumber daya perairan dari praktik penangkapan yang merusak, seperti penggunaan racun dan penyetruman ikan.

Melalui kesepakatan itu, masyarakat tidak hanya menjaga keberadaan ikan, tetapi juga memelihara tanggung jawab bersama terhadap sungai yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Bagi Ahmad Yuzar, nilai semacam inilah yang membuat Lubuk Larangan layak dipertahankan. Ia berharap tradisi di Desa Siberuang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Kampar dalam merawat warisan leluhur sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Tak berhenti pada pelestarian adat, Ahmad Yuzar juga melihat peluang untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. Ia mendorong agar Lubuk Larangan masuk dalam kalender pariwisata Kabupaten Kampar hingga Provinsi Riau.

Pengembangan sebagai daya tarik wisata diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Namun, upaya tersebut perlu tetap menjaga nilai adat dan kelestarian sungai agar tradisi tidak kehilangan makna ketika semakin dikenal pengunjung.

“Mari kita jaga alam dan sungai kita bersama-sama. Pertahankan adat dan budaya yang telah diwariskan para ninik mamak, perkuat gotong royong, serta pelihara silaturahmi,” ujar Ahmad Yuzar.

Kegiatan itu turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Kampar Tengku Nurheryani Ahmad Yuzar, Sekretaris Daerah Kampar Ardi Mardiansyah, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, Camat Koto Kampar Hulu Ahmad Begab, Kepala Desa Siberuang Doni Chandra, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Di Siberuang, Lubuk Larangan menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dengan aturan formal. Kesepakatan adat, kepatuhan masyarakat, dan semangat kebersamaan juga dapat menjadi kekuatan untuk merawat sungai.

Bagi Ahmad Yuzar, mempertahankan tradisi ini berarti menjaga dua warisan sekaligus: kelestarian alam dan identitas budaya masyarakat Kampar.(*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Yudha Pratama
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *