Wadahi Suara Santri, Pemkab Banyuwangi Gelar Rembug Santri Bahas Isu Digital Hingga Bullying
Pemkab Banyuwangi jaring aspirasi santri lewat forum Rembug Santri. (Foto: Istimewa).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat komitmen pembangunan inklusif dengan merangkul beragam lapisan masyarakat dalam perumusan kebijakan. Langkah terbaru diwujudkan dengan menggelar forum musyawarah bertajuk “Rembug Santri” yang berlangsung di Aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada Selasa (20/10/2026).
Melalui wadah ini, kalangan santri diberikan ruang terbuka untuk menyuarakan aspirasi, kebutuhan, serta gagasan mereka secara langsung kepada jajaran pemerintah daerah sebagai masukan penyusunan program ke depan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan, forum yang perdana dilaksanakan ini diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara santri dan para pemangku kepentingan, sekaligus melahirkan solusi nyata dalam memperluas peluang karir serta pengembangan potensi para alumni pesantren.
“Kami melihat bahwa selama ini belum banyak santri yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas. Jumlah santri yang mampu meniti karier di bidang strategis juga masih terbatas. Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak-up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka. Sehingga, pemerintah daerah tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya,” kata Ipuk.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 50 perwakilan santri yang berasal dari 15 pondok pesantren se-Banyuwangi. Berbagai topik hangat di tengah masyarakat turut menjadi bahan diskusi, seperti penanganan kasus perundungan (bullying) di lingkungan pesantren, bahaya penyalahgunaan narkoba, fenomena maraknya sound horeg, hingga konsep karakter santri ideal di masa mendatang.
Dalam sesi dialog, sejumlah masukan dilontarkan peserta. Salah satunya disampaikan Elsya Putri Natalia Saputro, santri Pondok Pesantren Adz-dzikra yang juga menempuh pendidikan tinggi di Universitas Cordoba Banyuwangi. Ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan digital bagi kalangan santri.
“Santri kerap dinilai ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Maka, kami berharap agar pemkab memberikan pendampingan dan pelatihan softskill berbasis digital bagi para santri. Karena di zaman yang serba digital ini, skill tersebut sangat kita butuhkan,” ujar Elsya.
Masukan lain datang dari M. Ibrahim Al Hafidi yang menyoroti fenomena musik sound horeg. Ia menilai perlu adanya payung hukum yang tegas agar kegiatan tersebut tetap berjalan kondusif.
“Harus ada ketentuan hukun dan aturan yang jelas. Sehingga adanya fenomena ini tidak mengganggu, melainkan bisa menjadi ajang hiburan yang mendidik, serta memberikan dampak ekonomi bagi warga,” ujarnya.
Selain itu, para santri juga menggarisbawahi upaya pencegahan tindakan perundungan di lingkungan pondok. Mereka mengusulkan penguatan peran pengasuh dan pengurus pesantren sebagai sosok pengganti orang tua.
“Peran kyai harus bisa menggantikan sosok ayah di rumah. Pendamping kamar juga harus bisa merangkul dan mengayomi sehingga santri merasa aman dan mendapatkan kasih sayang penuh meski jauh dari orang tua,” ujarnya.
Menurut peserta, munculnya perilaku bullying kerap dipicu oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang. Karena itu, hadirnya figur teladan di lingkungan pondok diharapkan mampu menekan potensi terjadinya tindakan kekerasan.
Bupati Ipuk menegaskan bahwa pelibatan publik merupakan prinsip utama dalam pembuatan kebijakan daerah agar setiap program dapat tepat sasaran sesuai kebutuhan warga.
Ia menambahkan, selain Rembug Santri, Pemkab Banyuwangi telah rutin menggelar forum serupa untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Rembug Lansia, Rembug Anak, Rembug Disabilitas, dan Rembug Perempuan.
“Semua rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut, akan menjadi atensi dan bahan pertimbangan kami dalam pengambilan kebijakan daerah,” tegas Ipuk.
Adapun forum dialog ini turut menghadirkan beberapa narasumber kunci, di antaranya Dr. Endi Fadlullah (Ponpes Bustanul Makmur), Ning Atina Balqis Iskandar (Ponpes Darussalam Blokagung), serta Ustadz Ghifari Miqdad Al-ghifari (Ponpes Daar Al Ihsan Mabadiul Ihsan Karangdoro). (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Alfiana Putri |
