Bangun Toleransi di Tengah Ramadan dan Masa Prapaskah, Siswa SMAN 1 Satarmese Bersihkan Gereja hingga Masjid
Sisawa SMAN 1 Satarmese saat menggelar kegiatan kokurikuler berupa kerja bakti sosial di Nanga Ramut, Desa Terong, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, NTT. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, MANGGARAI – Semangat toleransi lintas agama ditunjukkan siswa kelas XII SMAN 1 Satarmese dengan menggelar bakti sosial di tiga rumah ibadah berbeda, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan tersebut digelar di tengah Ramadan yang sedang berlangsung bagi umat Muslim serta masa Prapaskah bagi umat Kristiani. Para siswa membersihkan Gereja Santa Maria Bunda Segala Bangsa Narang, serta dua masjid, yakni Masjid Albahar Wae Maras dan Masjid Hayya Alassholah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 1 Satarmese, Gregorius Ganggur, mengatakan kegiatan kokurikuler tersebut dirancang sebagai pembelajaran karakter yang kontekstual, sekaligus penguatan nilai kebersamaan di momentum keagamaan.
“Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru di tengah Ramadan dan masa Prapaskah seperti ini, kita menunjukkan kepedulian dan saling menghormati,” ujarnya saat melepas peserta di halaman sekolah.
Kegiatan dibagi dalam dua sesi agar pelaksanaannya lebih efektif. Pada pagi hari, siswa bergerak ke Gereja Santa Maria Bunda Segala Bangsa Narang untuk membersihkan halaman, merapikan taman, membersihkan kaca jendela dan pintu, serta menata fasilitas umum di sekitar kompleks gereja.
Sore harinya, siswa terbagi menjadi dua kelompok menuju Masjid Albahar Wae Maras dan Masjid Hayya Alassholah. Di kedua masjid tersebut, mereka membersihkan lantai dan dinding, menyapu halaman, serta merapikan area wudu dan fasilitas penunjang lainnya.
Pengurus gereja dan masjid menyambut positif inisiatif para siswa. Mereka menilai kegiatan itu tidak hanya membantu menjaga kebersihan rumah ibadah di momen hari besar, tetapi juga memperkuat pesan persaudaraan antarumat beragama.
Koordinator kegiatan, Erfan Sandung, menyebut bakti sosial ini sebagai praktik nyata pendidikan toleransi.
“Ini bukan sekadar kerja bakti. Ini adalah proses belajar tentang solidaritas, gotong royong, dan hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman,” katanya.
Salah seorang siswa kelas XII mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan tersebut.
“Saya merasa bangga bisa membantu membersihkan tempat ibadah, baik gereja maupun masjid. Ini membuat saya semakin memahami arti toleransi yang sebenarnya,” tuturnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Florianus Edi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
