Kreatif! Mahasiswa Malang Ubah Sahur On The Road Jadi Panggung Reog Ponorogo
Atraksi pertunjukan Reog Ponorogo oleh mahasiswa saat sahur di Jalan Veteran, Kota Malang. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, MALANG – Suasana dini hari di depan Gerbang Veteran Universitas Brawijaya (UB) mendadak riuh dan meriah, beberapa waktu lalu. Jika biasanya malam Ramadan diwarnai dengan patrol sahur konvensional atau aksi negatif seperti perang sarung, kelompok mahasiswa di Kota Malang punya cara berbeda untuk mengisi waktu menunggu sahur melalui tajuk “Reog Ramadan On The Road”.
Aksi kolaborasi seni ini mempertemukan dua kampus bertetangga, yakni Unit Aktivitas Kesenian Reog UB dan Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang (UM). Mulai pukul 01.00 WIB, suara tabuhan kendang dan selompret khas Ponorogo memecah kesunyian malam, menarik perhatian warga yang melintas.
Kegiatan ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan. Rian (20), mahasiswa UM, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan untuk mempererat hubungan antarkampus melalui jalur seni.
“Ini tahun kedua kami. Kami ingin mempererat tali silaturahmi dengan teman-teman UB melalui sesuatu yang produktif dan berbudaya,” tegas Rian di sela-sela acara.
Daya tarik pertunjukan ini rupanya meluas hingga ke kelompok seni profesional. Sanggar Maruto dan Sanggar Sardulo Djojo turut turun ke jalan memperkuat barisan pembarong dan penari.
“Awalnya tahun lalu kami hanya lewat saat sedang Sahur On The Road biasa. Melihat ada keramaian Reog, kami yang juga pegiat seni merasa terpanggil untuk bergabung. Akhirnya tahun ini kami diajak resmi untuk berkolaborasi,” ungkap Teguh dari Sanggar Seni Maruto.
Di tengah maraknya fenomena perang mercon dan konflik antar-remaja selama bulan suci, kehadiran “Reog Ramadan On The Road” menjadi oase segar. Masyarakat dari berbagai kalangan, baik pemuda maupun orang dewasa, tampak antusias memadati trotoar jalan Veteran untuk menonton.
Penyelenggara berharap kegiatan ini bisa menjadi role model bagi pemuda-pemudi di Kota Malang agar lebih bijak mengisi malam Ramadan. Alih-alih melakukan giat yang memicu keributan, seni tradisional terbukti mampu menjadi wadah berkumpul yang harmonis sekaligus melestarikan budaya bangsa. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Aditya Mahatva Yodha |
| Editor | : Mahrus Sholih |
