October 16, 2026

Lebaran Lebih Awal, Jemaah Naqsabandiyah Padang Salat Id Rabu 18 Maret

0


News
Lebaran Lebih Awal, Jemaah Naqsabandiyah Padang Salat Id Rabu 18 Maret

Mesjid Jamik Lubuk Sarik, Lubuk Kilangan Kota Padang. (Foto: Istimewa)

BERITA PLUS, PADANG – Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Lubuk Kilangan, Kota Padang Sumatera Barat (Sumbar) lebih dahulu merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H pada Rabu 18 Maret 2025.

Salah satu pelaksanaan Salat Idul Fitri dilakukan bersama-sama di Masjid Jamik Lubuk Sarik, Sejak pagi, gema takbir telah berkumandang dari dalam masjid sebagai penanda datangnya Hari Raya Idulfitri. Ratusan jemaah yang hadir berasal dari berbagai wilayah di sekitar Lubuk Kilangan.

Sementara itu, gema takbir menggema di Kecamatan Pauh, Kota Padang pada Rabu malam ini (18/03/2025) dan akan melakukan Salat Idul Fitri pada besok Kamis 19 Maret 2026.

Jemaah Naqsabandiyah menetapkan 1 Syawal lewat ruqyahtu hilal dan hitung hisab mujib yang diterapkan turun temurun.

Pelaksanaan shalat Idul Fitri direncanakan berlangsung di Surau Baru yang berada di dekat Mapolsek Pauh, Kelurahan Cupak Tangah. Diperkirakan, puluhan jemaah akan mengikuti shalat id secara berjemaah di lokasi tersebut.

Pengurus sekaligus Imam Surau Baru, Zahar, mengatakan ketetapan Idul Fitri ini bukanlah hal yang diputuskan secara tiba-tiba, Melainkan karena jemaah telah menyempurnakan ibadah puasa selama 30 hari.

“Penetapan Idul Fitri tahun ini didasarkan pada penyempurnaan ibadah puasa selama 30 hari penuh. Maka, malam takbiran akan mulai dikumandangkan pada Rabu malam,” kata Zahar pada Rabu 18 Maret 2026.

Menurutnya, tarekatnya memiliki metode hisab dan rukyat yang diwariskan secara turun-temurun. Selain perhitungan astronomi tradisional dan pengamatan hilal, mereka juga berpedoman teguh pada dalil, ijma, dan qiyas.

“Hisab itu berdasarkan hari apa puasa tahun dahulu. Sementara rukyat didasarkan atas kesepakatan bersama Tarekat Naqsabandiyah,” jelas Zahar.

Pengamatan bulan ini juga memilki ciri khas tersendiri, yaitu dengan cara melihat posisi bulan pada waktu subuh di ufuk timur.

“Dalil juga melihat posisi bulan pada hari ke-10 atau ke-15 untuk mengetahui ukurannya, sehingga diputuskan kapan Idul Fitri jatuh,” katanya.

Zahar menegaskan bahwa perbedaan penentuan 1 Syawal dengan pemerintah atau organisasi Islam lainnya bukanlah untuk mencari perselisihan. Keputusan ini murni berlandaskan keyakinan spiritual jemaah Naqsabandiyah di Padang yang mengikuti aliran dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Siddiq. (*).

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Diona Arvoni
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *