October 17, 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Daul Combo dan Dugdug di Pulau Madura, Menurut Disporabudpar Sampang

0


News
Menelusuri Jejak Sejarah Daul Combo dan Dugdug di Pulau Madura, Menurut Disporabudpar Sampang

Atraksi musik Daul Combo dan Dugdug di Kabupaten Sampang. (Foto: Hoirur Rosikin/Suaraindonesia.co.id)

BERITA PLUS, SAMPANG – Di balik riuh tabuhan perkusi dan denting melodi yang memecah kesunyian malam di Pulau Garam, tersimpan kekuatan magis yang menyatukan hati masyarakat di empat kabupaten.

Musik tradisional Daul Combo dan Dugdug bukan sekadar hiburan musiman, melainkan manifestasi budaya yang mempererat tali persaudaraan warga Sampang, Pamekasan, Sumenep, hingga Bangkalan dalam satu irama yang selaras.

Seni musik ini konsisten hadir di tengah masyarakat setiap tahunnya, khususnya pada momen bulan suci Ramadan serta perayaan Idulfitri. Perpaduan berbagai alat musik yang menghasilkan harmoni unik ini telah menjadi identitas kolektif yang melekat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Madura.

Kepala Disporabudpar Sampang, Marnilem, melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Abdul Basith, menyampaikan bahwa Daul Combo dan Dugdug adalah seni musik yang tumbuh dari pusaran sejarah panjang Madura. Menurutnya, kesenian ini merupakan potret budaya yang tersusun rapi dan selalu dinanti dalam momen-momen sakral.

“Daul Combo dan Dugdug adalah musik yang menyatukan kebudayaan Madura dan melekat di dalam jiwa masyarakat, khususnya masyarakat Sampang,” jelas Basith, Rabu (01/04/2026).

Ia menjelaskan bahwa secara teknis, musik Daul Combo dan Dugdug memiliki kemiripan. Namun, Daul Dugdug umumnya memiliki komposisi alat musik yang lebih lengkap dan kompleks dibandingkan dengan varian Combo.

Menilik sisi historisnya, terdapat berbagai versi mengenai asal-usul kesenian ini. Salah satu literatur lisan menyebutkan bahwa Daul lahir pada masa Kerajaan Sumenep sebagai sarana untuk membangunkan warga saat sahur.

Versi lain menyebutkan bahwa di Sumenep, musik ini berkembang ketika terjadi pemadaman listrik dalam durasi yang cukup lama, sehingga warga berinisiatif menciptakan kegembiraan melalui ketukan ritmis Combo dan Dugdug.

“Seiring berjalannya waktu, musik Daul terus berkembang melalui kolaborasi alat musik tradisional dan modern yang menyatu menjadi satu irama bagi seluruh masyarakat Madura,” terangnya.

Basith menilai bahwa Daul Combo dan Dugdug tumbuh secara beriringan di Pulau Madura. Oleh karena itu, pelestarian budaya ini menjadi sangat krusial di tengah gempuran modernisasi, terutama di wilayah Kabupaten Sampang.

“Memang banyak versi sejarah mengenai Daul Combo dan Dugdug. Namun, berdasarkan hasil diskusi kami bersama para budayawan, poin utamanya adalah nilai kebersamaan tersebut,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Hoirur Rosikin
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *