{"id":11149,"date":"2026-04-19T02:10:58","date_gmt":"2026-04-19T02:10:58","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/sugito-adhi-memulihkan-memori-hotel-menata-ulang-kepemimpinan-di-dua-kota\/"},"modified":"2026-04-19T02:10:58","modified_gmt":"2026-04-19T02:10:58","slug":"sugito-adhi-memulihkan-memori-hotel-menata-ulang-kepemimpinan-di-dua-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/sugito-adhi-memulihkan-memori-hotel-menata-ulang-kepemimpinan-di-dua-kota\/","title":{"rendered":"Sugito Adhi: Memulihkan Memori Hotel, Menata Ulang Kepemimpinan di Dua Kota"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"flex-wr-s-s p-b-10\">\n              <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"><br \/>\n                <a href=\"#\" class=\"f1-s-4 cl8 hov-cl10 trans-03\">Jefri Hadi <\/a><br \/>\n                <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>19 April 2026 | 03:04<\/span> <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>Dibaca 1 kali<\/span><br \/>\n              <\/span><br \/>\n              <!-- <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"> 4281 Views <\/span> \n              <a href=\"#\" class=\"f1-s-3 cl8 hov-cl10 trans-03 m-r-15\"> 0 Comment <\/a>  -->\n            <\/div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">Ekbis<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/04\/18\/a5dabbdd4f67.jpg\" alt=\"Sugito Adhi: Memulihkan Memori Hotel, Menata Ulang Kepemimpinan di Dua Kota\"\/>\n            <\/div>\n<p>Sugito Adhi, dalam jabatan Cluster General Manager Hotel Grand Mercure Malang Mirama &amp; Mercure Surabaya Grand Mirama. (Foto: Humas Hotel GMMM untuk Suaraindonesia.co.id)<\/p>\n<p><strong style=\"font-size: 1rem;\">BERITA PLUS, SURABAYA &#8211; <\/strong><span style=\"font-size: 1rem;\">Perjalanan kembali ke dua kota, Malang dan Surabaya bagi Sugito Adhi bukan sekadar rotasi jabatan. Ada dimensi emosional dan profesional yang berkelindan, terutama setelah tiga tahun meninggalkan keduanya, (Minggu 19\/4\/2026)<\/span><\/p>\n<p>Kini, sebagai Cluster General Manager di dua properti berbeda, ia menghadapi tantangan yang tak lagi sama seperti dulu.<\/p>\n<p>\u201cMalang dan Surabaya ini bisa dibilang amanah baru, atau mungkin juga seperti kembali lagi. Tapi kembali setelah tiga tahun itu tidak sama,\u201d ujar Sugito Adhi, dalam jabatan Cluster General Manager Hotel Grand Mercure Malang Mirama\u00a0 (GMMM) &amp; Mercure Surabaya Grand Mirama MSGM).<\/p>\n<p>Menurutnya, perubahan yang terjadi selama tiga tahun terakhir menghadirkan tantangan baru. Ia harus beradaptasi dengan kondisi hotel yang berbeda dari sebelumnya, termasuk situasi renovasi besar yang tengah berlangsung.<\/p>\n<p>\u201cSaya meninggalkan ini selama tiga tahun, dan saat kembali kondisinya sudah tidak sama dengan yang dulu. Banyak perubahan yang menjadi tantangan bagi saya dan tim, bagaimana mengembalikan hotel ini menjadi lebih baik lagi dalam kondisi sekarang yang jauh lebih menantang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saat itu, kata Sugito, hampir separuh bangunan hotel masih dalam tahap renovasi. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan tidak berjalan mudah.<\/p>\n<p>\u201cWaktu itu hotel dalam kondisi renovasi, hampir setengah dari gedung. Jadi memang tidak mudah. Saya harus kembali ke Malang dan Surabaya, berbaur dengan tim yang ada, dan mengajak mereka berjalan bersama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Upaya tersebut perlahan menunjukkan hasil. Hingga kini, proses renovasi telah mencapai sekitar 95 persen. Namun, tantangan berikutnya bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan membangun kembali kesan dan memori yang pernah melekat di benak publik.<\/p>\n<p>\u201cSekarang bagaimana membuat bukan image baru, tapi mengembalikan bagaimana hotel ini dulu pernah dikenang. Mulai dari awal lagi, sebagai hotel yang punya kesan kuat di Surabaya hingga perjalanan panjangnya sampai sekarang,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Mengelola dua hotel sekaligus di dua kota berbeda menjadi fase tersendiri dalam perjalanan kariernya. Sugito mengakui, pada awalnya hal tersebut bukan perkara mudah.<\/p>\n<p>\u201cMemang tidak mudah pada awalnya harus memimpin dua hotel sekaligus. Saya harus mencari rumus yang paling efisien,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menyebut, tantangan tersebut tidak hanya terkait lokasi, tetapi juga perbedaan karakter masing-masing hotel, mulai dari brand, jenis layanan, hingga usia bangunan.<\/p>\n<p>\u201cDua hotel ini berbeda lokasi, berbeda brand, berbeda jenis layanan. Walaupun terlihat mirip, tetap saja ada perbedaan, termasuk dari sisi umur bangunan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Untuk menyiasati kompleksitas itu, Sugito menerapkan pendekatan manajerial yang terintegrasi. Ia menyusun kebijakan yang seragam agar kedua hotel dapat berjalan dalam satu arah yang sama.<\/p>\n<p>\u201cSaya buat kebijakan yang sama, seolah-olah dua hotel ini satu. Jadi tidak membingungkan. Secara operasional tetap berjalan masing-masing, tapi secara manajerial itu satu lini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga mengandalkan peran tim dan para asistennya untuk memastikan koordinasi berjalan efektif.<\/p>\n<p>\u201cSaya siapkan asisten-asisten untuk membantu agar dua hotel ini bisa berjalan bersama. Dengan begitu, saya lebih mudah memberikan direction sesuai dengan visi yang sudah ditetapkan,\u201d kata Sugito.<\/p>\n<p>Ketertarikannya pada dunia hospitality ternyata sudah tumbuh sejak masa sekolah menengah atas. Tanpa disadari, minat tersebut kemudian berkembang menjadi panggilan hidup.<\/p>\n<p>\u201cSejak SMA saya sudah tertarik di dunia pariwisata. Saya ambil jurusan bahasa dan sastra waktu itu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ketertarikan itu membawanya melanjutkan pendidikan di bidang hospitality di Bali. Dari sana, perjalanan kariernya di industri perhotelan mulai terbentuk.<\/p>\n<p>\u201cDari situ saya mulai memahami dunia hospitality, hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan dan terus berkembang sampai sekarang,\u201d tutur Sugito. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Jefri Hadi <\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/ekbis\/69e3bf6c3ed9e\/Sugito-Adhi-Memulihkan-Memori-Hotel-Menata-Ulang-Kepemimpinan-di-Dua-Kota\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jefri Hadi &#8211; 19 April 2026 | 03:04 &#8211; Dibaca 1 kali Ekbis Sugito Adhi,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11150,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11149","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/a5dabbdd4f67-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11149","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11149"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11149\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11149"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11149"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11149"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}