{"id":11153,"date":"2026-04-19T02:34:23","date_gmt":"2026-04-19T02:34:23","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/minim-infrastruktur-pemasangan-cctv-tps-di-surabaya-masih-tersendat\/"},"modified":"2026-04-19T02:34:23","modified_gmt":"2026-04-19T02:34:23","slug":"minim-infrastruktur-pemasangan-cctv-tps-di-surabaya-masih-tersendat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/minim-infrastruktur-pemasangan-cctv-tps-di-surabaya-masih-tersendat\/","title":{"rendered":"Minim Infrastruktur, Pemasangan CCTV TPS di Surabaya Masih Tersendat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/04\/18\/f7d8a440311b.jpg\" alt=\"Minim Infrastruktur, Pemasangan CCTV TPS di Surabaya Masih Tersendat\"\/>\n            <\/div>\n<p>Pemerintah Kota Surabaya menargetkan pemasangan CCTV di 179 titik tempat penampungan sementara (TPS) untuk meningkatkan pengawasan lingkungan. (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p><strong>SUARA INEONESIA, SURABAYA<\/strong> \u2013 Ambisi Pemerintah Kota Surabaya memperketat pengawasan di tempat penampungan sementara (TPS) melalui pemasangan CCTV belum sepenuhnya berjalan mulus. Dari target 179 titik, masih ada 33 lokasi yang tertahan pemasangannya akibat keterbatasan infrastruktur dasar.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Surabaya, Eddy Christijanto, mengungkapkan hingga kini baru 146 titik CCTV yang telah berfungsi. Sisanya masih dalam tahap pengerjaan karena terkendala akses jaringan fiber optik dan ketersediaan listrik.<\/p>\n<p>\u201cYang 33 ini masih proses karena kami juga mencari jaringan fiber optik dan jaringan listriknya,\u201d ujar Eddy, Sabtu (18\/4\/2026).<\/p>\n<p>Kendala tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah TPS berada di kawasan dengan dukungan infrastruktur yang minim, sehingga pemasangan perangkat pengawasan tidak bisa dilakukan secara instan. Kondisi ini memaksa Pemkot melakukan penyesuaian teknis di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cAda TPS yang jaringan infrastrukturnya masih minim sehingga pemasangannya membutuhkan waktu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Di tengah keterbatasan tersebut, Pemkot Surabaya mencoba mencari jalan keluar. Salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas umum yang sudah tersedia di sekitar lokasi TPS, termasuk jaringan penerangan jalan umum (PJU) sebagai sumber listrik alternatif.<\/p>\n<p>\u201cUntuk listrik, kami bisa ambil dari jaringan PJU atau fasilitas umum lain, tentunya melalui koordinasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Namun persoalan tidak berhenti pada pemasangan fisik. Tahap berikutnya justru lebih kompleks: menyatukan berbagai sistem CCTV yang berbeda merek dan spesifikasi ke dalam satu jaringan terpadu.<\/p>\n<p>Eddy mengakui, integrasi ini menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, pihaknya tengah melakukan sinkronisasi sistem agar seluruh kamera dapat dipantau dalam satu platform.<\/p>\n<p>\u201cKarena CCTV yang digunakan berbeda-beda merek dan spesifikasi, kami lakukan sinkronisasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Untuk mempercepat solusi, Pemkot menggandeng kalangan akademisi. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dilibatkan untuk mengkaji integrasi lintas sistem agar seluruh perangkat bisa terhubung dalam satu ekosistem pengawasan.<\/p>\n<p>\u201cKami sedang mengkaji bersama ITS agar berbagai tipe CCTV bisa disatukan dalam satu sistem,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan lingkungan, khususnya di titik-titik rawan pelanggaran pengelolaan sampah. Pemkot berharap, ketika seluruh sistem terpasang dan terintegrasi, pengawasan tidak hanya lebih efektif tetapi juga mampu mendukung penegakan hukum secara lebih presisi.<\/p>\n<p>\u201cDengan sistem ini, kami harap pengawasan lebih optimal dan bisa membantu aparat dalam menjaga keamanan,\u201d pungkas Eddy. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Dona Pramudya <\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69e43267a0f09\/Minim-Infrastruktur-Pemasangan-CCTV-TPS-di-Surabaya-Masih-Tersendat\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Pemerintah Kota Surabaya menargetkan pemasangan CCTV di 179 titik tempat penampungan sementara (TPS) untuk&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11154,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/f7d8a440311b-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}