{"id":11176,"date":"2026-04-19T10:32:13","date_gmt":"2026-04-19T10:32:13","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/fgd-pengelolaan-sampah-makassar-kolaborasi-hulu-hilir-jadi-kunci-atasi-krisis\/"},"modified":"2026-04-19T10:32:13","modified_gmt":"2026-04-19T10:32:13","slug":"fgd-pengelolaan-sampah-makassar-kolaborasi-hulu-hilir-jadi-kunci-atasi-krisis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/19\/fgd-pengelolaan-sampah-makassar-kolaborasi-hulu-hilir-jadi-kunci-atasi-krisis\/","title":{"rendered":"FGD Pengelolaan Sampah Makassar: Kolaborasi Hulu-Hilir Jadi Kunci Atasi Krisis"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/04\/19\/7aac4dec06bc.jpg\" alt=\"FGD Pengelolaan Sampah Makassar: Kolaborasi Hulu-Hilir Jadi Kunci Atasi Krisis\"\/>\n            <\/div>\n<p>Peserta FGD Pengelolaan Sampah Kota Makassar bersama perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Dewan Lingkungan Hidup di Auditorium Gedung PKK Kota Makassar, Jumat (17\/4\/2026). (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p><strong>BERITA PLUS, MAKASSAR &#8211;\u00a0<\/strong>Krisis pengelolaan sampah di Kota Makassar kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Di tengah capaian pengelolaan yang baru menyentuh sekitar 2 persen, sementara target nasional mencapai 51,2 persen, berbagai pihak menegaskan perlunya langkah kolaboratif dari hulu hingga hilir untuk mencegah krisis semakin meluas.<\/p>\n<p>Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sampah Kota Makassar yang mempertemukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dewan Lingkungan Hidup, serta perwakilan pemerintah kecamatan dan kelurahan, yang digelar di Auditorium Gedung PKK Kota Makassar, Jumat (17\/4\/2026).<\/p>\n<p>Anggota Dewan Lingkungan Hidup, Marini Ambo Wellang, menekankan bahwa akar persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat akhir atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan harus dimulai dari sumbernya.<\/p>\n<p>\u201cKolaborasi dan sinergi semua pihak menjadi kunci. Penanganan sampah harus diperkuat dari hulu hingga tengah. Peran camat dan lurah sangat penting dalam menggerakkan perubahan perilaku masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyebut bahwa ke depan diperlukan pemetaan berbasis wilayah agar strategi pengelolaan sampah dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kecamatan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menyoroti perlunya transformasi besar dalam sistem pengelolaan sampah yang selama ini masih didominasi pola buang langsung ke TPA tanpa proses pemilahan yang memadai.<\/p>\n<p>\u201cTidak boleh lagi open dumping. Kita harus beralih ke sanitary landfill, di mana hanya residu yang masuk ke TPA. Pemilahan harus dimulai dari sumber, bukan di akhir,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Kondisi TPA Makassar juga disebut sudah berada dalam situasi kritis. Anggota Dewan Lingkungan Hidup, Dr. Irwan Ridwan, bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai potensi krisis jangka pendek.<\/p>\n<p>\u201cDengan kondisi saat ini, TPA diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 18 bulan tanpa intervensi signifikan. Ini sudah masuk kategori darurat,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, data menunjukkan bahwa Makassar menghasilkan sekitar 1.034 ton sampah per hari, namun lebih dari 900 ton di antaranya belum terkelola secara optimal. Hal ini menunjukkan kesenjangan besar antara produksi sampah dan kemampuan pengolahan yang tersedia saat ini.<\/p>\n<p>Ketua Dewan Lingkungan Hidup, Hj. Melinda Aksa, menegaskan bahwa penguatan sistem berbasis masyarakat menjadi salah satu kunci utama penyelesaian masalah.<\/p>\n<p>\u201cKita membutuhkan sekitar 300 bank sampah, tetapi yang aktif baru sekitar 100. Pemilahan dari rumah tangga adalah fondasi utama. Semua pihak harus terlibat, dari RT hingga pemerintah kota,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat yang cenderung menyerahkan sepenuhnya pengelolaan sampah kepada pemerintah tanpa melakukan pemilahan sejak dari rumah.<\/p>\n<p>Di beberapa wilayah, upaya pengurangan sampah sebenarnya sudah menunjukkan hasil positif. Kecamatan Tallo misalnya, mampu mereduksi sekitar 50 ton sampah per hari melalui integrasi pengelolaan sampah dengan program urban farming. Namun keberhasilan ini belum merata di seluruh wilayah Kota Makassar.<\/p>\n<p>Pemerintah Kota Makassar juga mulai mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah, termasuk rencana pembangunan Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) di Tamangapa dengan kapasitas sekitar 1.300 ton per hari, serta teknologi seperti RDF, gasifikasi, dan pirolisis sebagai solusi jangka panjang.<\/p>\n<p>FGD ini menegaskan bahwa penanganan sampah di Makassar tidak lagi bisa dilakukan dengan pendekatan parsial. Diperlukan perubahan sistemik yang melibatkan kolaborasi lintas sektor, penguatan peran wilayah, serta perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Arya Rahmansyah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69e49ac401b75\/FGD-Pengelolaan-Sampah-Makassar-Kolaborasi-Hulu-Hilir-Jadi-Kunci-Atasi-Krisis\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Peserta FGD Pengelolaan Sampah Kota Makassar bersama perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Dewan Lingkungan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11177,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11176","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/7aac4dec06bc-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11176"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11176\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}