{"id":11235,"date":"2026-04-21T03:31:29","date_gmt":"2026-04-21T03:31:29","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/21\/amalia-desiana-perempuan-pertama-bupati-banjarnegara-terinspirasi-kartini-tangguh-hadapi-stigma-dan-kritik\/"},"modified":"2026-04-21T03:31:29","modified_gmt":"2026-04-21T03:31:29","slug":"amalia-desiana-perempuan-pertama-bupati-banjarnegara-terinspirasi-kartini-tangguh-hadapi-stigma-dan-kritik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/21\/amalia-desiana-perempuan-pertama-bupati-banjarnegara-terinspirasi-kartini-tangguh-hadapi-stigma-dan-kritik\/","title":{"rendered":"Amalia Desiana, Perempuan Pertama Bupati Banjarnegara: Terinspirasi Kartini, Tangguh Hadapi Stigma dan Kritik"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/04\/20\/d05a39d9e605.jpg\" alt=\"Amalia Desiana, Perempuan Pertama Bupati Banjarnegara: Terinspirasi Kartini, Tangguh Hadapi Stigma dan Kritik\"\/>\n            <\/div>\n<p>Langkah tegas Bupati Banjarnegara menjadi bukti bahwa perempuan dapat berperan strategis dalam pembangunan daerah. (Foto Istimewa)<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, BANJARNEGARA<\/b> &#8211; Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam kiprah perempuan masa kini. Hal itu tercermin dari sosok Bupati Banjarnegara Amalia Desiana yang menjadi perempuan pertama memimpin daerah.<\/p>\n<p>Sekaligus membuktikan bahwa perempuan mampu berkarya, memimpin, dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Menurut Amalia Desiana, inspirasi dari Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi juga dorongan nyata bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menciptakan suasana berbeda dalam kepemimpinan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKartini menjadi contoh bahwa wanita bisa berkarya dan memberikan perubahan,\u201d ujarnya, Senin (20\/4\/2026).<span style=\"font-size: 1rem;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Menjadi bupati perempuan pertama di Banjarnegara bukanlah perjalanan yang mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, terutama stigma sosial yang masih memandang perempuan terbatas pada peran domestik.<\/p>\n<p>Pandangan seperti \u201cwanita hanya di dapur\u201d, \u201ctidak bisa bekerja malam\u201d, hingga \u201ctidak setara dengan laki-laki\u201d menjadi hambatan yang harus ia patahkan.<\/p>\n<p>Di lingkungan pemerintahan sendiri, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti, termasuk dalam beradaptasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang mayoritas diisi laki-laki. Tantangan justru lebih banyak datang dari persepsi masyarakat yang sudah mengakar lama.<\/p>\n<p>Selain itu, ia juga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi ekspektasi publik. Banyak masyarakat berharap berbagai persoalan daerah dapat diselesaikan dalam waktu singkat, padahal sejumlah pekerjaan rumah tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ia menegaskan bahwa perubahan membutuhkan proses dan tidak bisa instan.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak bisa menjadi \u2018wonder woman\u2019 yang menyelesaikan semua masalah di Banjarnegara dalam sekejap,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, ia juga tetap menjalankan peran sebagai ibu. Ia mengakui pentingnya dukungan keluarga, terutama suami, dalam membagi tanggung jawab mengasuh anak-anak yang masih membutuhkan pendampingan.<\/p>\n<p>\u201cKami berbagi peran, terutama untuk mendampingi anak-anak. Dukungan suami sangat berarti,\u201d jelasnya.<span style=\"font-size: 1rem;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebagai seorang pemimpin sekaligus perempuan, ia mengaku tidak pernah merasa menyerah. Tantangan yang dihadapinya lebih banyak berasal dari komentar negatif sebagian masyarakat, terutama di ruang digital.<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa dirinya bukan sosok yang anti kritik. Justru sebaliknya, ia sangat terbuka terhadap saran dan masukan sebagai bahan evaluasi dalam memimpin.<span style=\"font-size: 1rem;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Bupati Banjarnegara Amalia Desiana pun menyadari bahwa dirinya tidak sempurna dan memiliki keterbatasan, sehingga peran masyarakat sangat penting dalam proses pembangunan.<span style=\"font-size: 1rem;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Namun, ia juga menyoroti maraknya kritik yang disampaikan melalui akun anonim yang tidak bertanggung jawab. Menurutnya, hal tersebut sering kali tidak disampaikan secara lugas dan konstruktif.<span style=\"font-size: 1rem;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&#8220;Satu hal yang menguatkan adalah pesan\u00a0 ayah saya almarhum Budhi Sarwono untuk melanjutkan perjuangannya yang\u00a0 tidak mudah, saya ingin masyarakat Banjarnegara mendapatkan sesuatu hal yang jauh lebih baik,&#8221; katanya.(*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Iwan Setiawan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69e6da26dca1f\/Amalia-Desiana-Perempuan-Pertama-Bupati-Banjarnegara-Terinspirasi-Kartini-Tangguh-Hadapi-Stigma-dan-Kritik\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Langkah tegas Bupati Banjarnegara menjadi bukti bahwa perempuan dapat berperan strategis dalam pembangunan daerah&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/d05a39d9e605-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11235"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11235\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}