{"id":11243,"date":"2026-04-21T07:33:10","date_gmt":"2026-04-21T07:33:10","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/21\/nyatakan-perang-terhadap-peredaran-obat-keras-ilegal-dandim-0712-tegal-bakal-sikat-beking-dan-pengedar\/"},"modified":"2026-04-21T07:33:10","modified_gmt":"2026-04-21T07:33:10","slug":"nyatakan-perang-terhadap-peredaran-obat-keras-ilegal-dandim-0712-tegal-bakal-sikat-beking-dan-pengedar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/21\/nyatakan-perang-terhadap-peredaran-obat-keras-ilegal-dandim-0712-tegal-bakal-sikat-beking-dan-pengedar\/","title":{"rendered":"Nyatakan Perang terhadap Peredaran Obat Keras Ilegal, Dandim 0712 Tegal Bakal Sikat Beking dan Pengedar"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/04\/21\/40c9c783abd5.jpg\" alt=\"Nyatakan Perang terhadap Peredaran Obat Keras Ilegal, Dandim 0712 Tegal Bakal Sikat Beking dan Pengedar\"\/>\n            <\/div>\n<p>Personel Kodim 0712 Tegal saat menggerebek salah satu warung diduga menjual obat keras ilegal di wilayah Desa Bengle, Senin (20\/04\/2026) malam. (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 1rem;\"><b>BERITA PLUS, TEGAL <\/b>&#8211; Aparat Kodim 0712\/Tegal menggerebek sebuah warung diduga menjual obat keras ilegal di wilayah Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Senin (20\/04\/2026) malam. Namun, penggerebekan bersama perangkat desa tersebut tidak membuahkan hasil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Petugas hanya menemukan bekas bungkus obat keras yang tercecer di dalam warung yang sering disebut &#8220;warung aceh&#8221; tersebut. Diduga kuat penggerebekan telah bocor. Penggerebekan dilakukan berdasarkan informasi warga, yang mencurigai warung tersebut kerap dijadikan transaksi obat keras terlarang.<\/p>\n<p>Komandan Kodim 0712, Letkol Infanteri Rachmat Ferdiantono, mengatakan, jajarannya berkomitmen melakukan perang terhadap peredaran gelap obat keras terlarang di wilayah Kabupaten Tegal dan Kota Tegal.<\/p>\n<p>&#8220;Kami akan mendukung program pemerintah daerah utk sama2 memerangi seluruh sindikat dan pengedar obat keras ilegal khususnya di wilayah Tegal,&#8221; tegas Rachmat Ferdiantono.<\/p>\n<p>Rachmat menambahkan, pihaknya tak hanya tegas terhadap pelaku pengedar obat keras, namun juga memastikan akan bersikap tegas diinternal satuan. Siapapun personel Kodim 0712 yang menjadi beking, perantara bahkan penjual akan disanksi.<\/p>\n<p>&#8220;Selama lima bulan memimpin, saya pastikan bersih hingga saat ini di internal tubuh personel Kodim bebas terkait beking, perantara dan jual beli, apabila ada yabg OTT dan fix ada yanf terlibat saya sudah berkomitmen untuk naikkan dan melaporkan ke pimpinan,&#8221; tegas Dandim.<\/p>\n<p>Letkol Rachmat mengatakan, tindakan represif \u00a0tidak menjadi satu-satunya cara untuk memberantas peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang. Menurutnya langkah yang efektif adalah denhan operasi rutin dan berbasis intelijen.<\/p>\n<p>Menurutnya, penindakan tak hanya ke penjual, tapi hingga ke pemasok dan jaringan distribusi, membuat rancangan pasal berlapis, publikasi hasil penindakan untuk efek jera dan memutus dan lacak jalur distribusi (gudang, distributor)<\/p>\n<p>&#8220;Bila perlu audit ketat apotik dan toko obat resmi, \u2060pengawasan distribusi berbasis digital (tracking obat), membuat tim gabungan kepolisian, Dinkes,BPOM,Satpol,TNI utk bersinergi melaksanakan razia dengan waktu tak ditentukan dan sepanjang waktu, dan srtelah ditutup warungnya, segel TKP dan monitoring berkala,&#8221; beber Dandim.<\/p>\n<p>Upaya pencegahan penyakit sosial di tingkat desa\/kelurahan diperkuat melalui sejumlah langkah konkret dan penguatan sistem peringatan dini. Langkah ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT\/RW hingga tiga pilar desa.<\/p>\n<p>Beberapa langkah konkret yang dijalankan meliputi pemetaan titik-titik rawan seperti warung mencurigakan, kos-kosan, dan tempat tongkrongan yang berpotensi menjadi lokasi aktivitas negatif. Selanjutnya dilakukan pendataan pola mencakup jam operasional, pelanggan, hingga perubahan aktivitas di lokasi tersebut.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat deteksi dini, jaringan informasi lingkungan dibangun dengan melibatkan RT\/RW, Linmas, tukang ojek, dan pedagang sekitar. Sasaran utama sosialisasi dan pembinaan diarahkan kepada remaja\/pelajar, orang tua, pemilik warung, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Edukasi juga dimasifkan melalui penyuluhan di sekolah dan kampus, serta dialog warga lewat forum RT\/RW, pengajian, dan karang taruna,&#8221; kata Dandim.<\/p>\n<p>Selain langkah konkret, sejumlah saran penguatan turut didorong. Di antaranya mengaktifkan kembali siskamling kampung\/desa yang tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga mitigasi sosial. Aturan lingkungan seperti pembatasan jam operasional dan pelaporan tamu juga didorong untuk diterapkan.<\/p>\n<p>Karang taruna, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa dilibatkan sebagai agen pengawas sosial sekaligus _early warning system_. Agenda rutin tiga pilar di tingkat desa\/kelurahan juga dibuat untuk membahas langkah mitigasi dan penindakan atas indikasi penyakit sosial.<\/p>\n<p>Operasi gabungan skala kecil namun konsisten menjadi strategi lain agar kehadiran aparat dirasakan terus-menerus, bukan hanya sesekali. Terakhir, edukasi hukum, pembinaan karakter, dan wawasan kebangsaan singkat digencarkan di sekolah\/kampus hingga tingkat desa dengan koordinasi guru BK untuk deteksi dini siswa berisiko.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan kolaborasi seluruh pihak, langkah ini diharapkan mampu menekan potensi penyakit sosial sejak hulu dan menciptakan lingkungan yang aman serta kondusif bagi masyarakat,&#8221; pungkas Dandim. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Wiwit Kuncoro<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69e710804273f\/Nyatakan-Perang-terhadap-Peredaran-Obat-Keras-Ilegal-Dandim-0712-Tegal-Bakal-Sikat-Beking-dan-Pengedar\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Personel Kodim 0712 Tegal saat menggerebek salah satu warung diduga menjual obat keras ilegal&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11244,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11243","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/40c9c783abd5-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11243","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11243"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11243\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11244"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11243"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11243"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11243"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}