{"id":11763,"date":"2026-04-30T09:28:11","date_gmt":"2026-04-30T09:28:11","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/30\/fakta-mengejutkan-di-kangean-mayoritas-anak-alami-stunting\/"},"modified":"2026-04-30T09:28:11","modified_gmt":"2026-04-30T09:28:11","slug":"fakta-mengejutkan-di-kangean-mayoritas-anak-alami-stunting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/04\/30\/fakta-mengejutkan-di-kangean-mayoritas-anak-alami-stunting\/","title":{"rendered":"Fakta Mengejutkan di Kangean: Mayoritas Anak Alami Stunting"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69f30e5057c31\/File too big - max 2 MB\" alt=\"Fakta Mengejutkan di Kangean: Mayoritas Anak Alami Stunting\"\/>\n            <\/div>\n<p>Persoalan stunting di wilayah kepulauan kembali tersingkap (Istimewa)<\/p>\n<p>BERITA PLUS, SUMENEP \u2014 Persoalan stunting di wilayah kepulauan kembali tersingkap. Di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, temuan lapangan menunjukkan mayoritas anak mengalami gangguan tumbuh kembang akibat pola asuh dan pemenuhan nutrisi yang belum tepat. Minimnya akses informasi kesehatan serta kuatnya praktik tradisional menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.<\/p>\n<p>Situasi ini mendorong Mom Uung menginisiasi gerakan sosial bertajuk #BersamaMomUung. Namun lebih dari sekadar aksi sosial, program ini menjadi semacam \u201cintervensi darurat\u201d untuk menutup celah edukasi yang selama ini terabaikan, dengan melibatkan tenaga medis serta tim riset CHeNECE Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.<\/p>\n<p>Temuan di lapangan menunjukkan praktik pemberian makanan tambahan dini masih lazim dilakukan. Bayi di bawah enam bulan kerap diberikan air tajin, air mineral, hingga pisang halus. Kebiasaan ini berangkat dari persepsi keliru bahwa ASI saja tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi.<\/p>\n<p>Di sisi lain, terjadi pula pola sebaliknya. Anak usia di atas 10 bulan masih bergantung dominan pada ASI tanpa diimbangi pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang memadai. Ketimpangan ini menyebabkan kebutuhan nutrisi harian anak tidak terpenuhi secara optimal.<\/p>\n<p>Founder Mom Uung, Uung Victoria Finky, menilai persoalan ini bukan semata soal ketersediaan produk atau layanan kesehatan, melainkan kesenjangan pemahaman yang nyata di tingkat akar rumput.<\/p>\n<p>\u201cMasalahnya bukan hanya akses, tapi juga pemahaman. Banyak ibu sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi tidak punya informasi yang cukup. Di sinilah kami merasa perlu hadir langsung, bukan hanya membawa produk, tapi solusi yang bisa dipraktikkan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Melalui posko kesehatan yang didirikan, tim melakukan skrining langsung terhadap ibu dan anak. Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., menemukan rata-rata anak di Kangean mengalami stunting dengan indikasi kuat akibat pola nutrisi yang tidak tepat sejak dini.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan kasus sporadis. Hampir merata. Artinya ada masalah sistemik dalam pemahaman nutrisi dan praktik menyusui. Kalau tidak segera diperbaiki, dampaknya akan panjang,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Selain pemeriksaan, tim juga memberikan edukasi intensif mulai dari pentingnya ASI eksklusif, teknik menyusui yang benar, hingga pengenalan MPASI sesuai usia. Pendekatan dilakukan secara praktis agar mudah dipahami dan langsung diterapkan oleh para ibu.<\/p>\n<p>Dokter Ikhsanuddin Qoth\u2019i menyoroti faktor psikologis ibu yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, produksi ASI tidak hanya dipengaruhi teknik, tetapi juga kondisi mental ibu.<\/p>\n<p>\u201cBanyak ibu merasa ASI-nya kurang, lalu mengambil jalan pintas dengan memberi tambahan lain. Padahal, faktor stres dan kurangnya dukungan sangat memengaruhi produksi ASI. Ini yang kami coba luruskan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Kesaksian warga menguatkan fakta tersebut. Ira, salah satu ibu di Kangean, mengaku baru mengetahui kondisi anaknya setelah dilakukan pemeriksaan langsung.<\/p>\n<p>\u201cSelama ini saya kira normal. Ternyata anak saya stunting. Dari sini saya jadi tahu apa yang harus diperbaiki, terutama soal makan dan ASI,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Program ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan stunting di daerah kepulauan bukan hanya soal fasilitas kesehatan, tetapi juga distribusi pengetahuan yang belum merata. Tanpa intervensi langsung, kesalahan pola asuh berpotensi terus berulang antar generasi.<\/p>\n<p>Gerakan #BersamaMomUung menjadi pengingat bahwa upaya penurunan stunting tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan makro. Diperlukan pendekatan berbasis komunitas yang menyentuh langsung praktik sehari-hari di tingkat keluarga.<br \/>\u00a0<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Dona Pramudya <\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Imam Hairon<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69f30e5057c31\/Fakta-Mengejutkan-di-Kangean-Mayoritas-Anak-Alami-Stunting\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Persoalan stunting di wilayah kepulauan kembali tersingkap (Istimewa) BERITA PLUS, SUMENEP \u2014 Persoalan stunting&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11763","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":"","thumbnail":"","medium":"","medium_large":"","large":"","1536x1536":"","2048x2048":"","covernews-slider-full":"","covernews-slider-center":"","covernews-featured":"","covernews-medium":"","covernews-medium-square":""},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11763\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}