{"id":11881,"date":"2026-05-02T09:49:21","date_gmt":"2026-05-02T09:49:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/05\/02\/sampah-dikelola-dari-rumah-bukan-dibebankan-ke-tpa\/"},"modified":"2026-05-02T09:49:21","modified_gmt":"2026-05-02T09:49:21","slug":"sampah-dikelola-dari-rumah-bukan-dibebankan-ke-tpa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/05\/02\/sampah-dikelola-dari-rumah-bukan-dibebankan-ke-tpa\/","title":{"rendered":"Sampah Dikelola dari Rumah, Bukan Dibebankan ke TPA"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/05\/02\/21654179ec8c.jpg\" alt=\"Sampah Dikelola dari Rumah, Bukan Dibebankan ke TPA\"\/>\n            <\/div>\n<p>Mashud Azikin (kedua kanan) menyerahkan simbolis wadah pemilahan sampah organik dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis warga bersama unsur pemerintah dan peserta, Kecamatan Manggala, Makassar, Sabtu (2\/5\/2026) (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p>BERITA PLUS, MAKASSAR &#8211; Kolaborasi lintas sektor kini menjadi motor utama dalam mendorong revolusi pengelolaan sampah berbasis warga di Makassar sebagai jawaban atas meningkatnya tekanan terhadap sistem persampahan, terutama di TPA Tamangapa yang kini berada dalam sorotan serius pemerintah pusat.<\/p>\n<p>Di tengah situasi itu, Anggota Dewan Lingkungan Hidup, Mashud Azikin, menegaskan perlunya perubahan mendasar dalam cara pandang pengelolaan sampah.<\/p>\n<p>\u201cParadigma harus berubah. Sampah itu harus dikelola dari rumah, bukan dibebankan ke TPA. Kalau semua dibuang ke Tamangapa, itu sama saja kita menunda masalah, bukan menyelesaikan,\u201d tegas Mashud<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kecamatan Manggala, Sabtu (2\/5\/2026).<\/p>\n<p>Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi serentak di 15 kecamatan sebagai respons atas terbitnya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1202 Tahun 2026.<\/p>\n<p>Mashud Azikin\u00a0menilai, pola lama yang masih bertumpu pada sistem kumpul-angkut-buang sudah tidak lagi mampu menjawab lonjakan volume sampah perkotaan.<\/p>\n<p>Menurutnya, kondisi TPA Tamangapa saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Kapasitas yang terus tertekan, ditambah dampak lingkungan yang mulai dirasakan masyarakat sekitar, menjadi indikator kuat bahwa sistem lama tidak lagi relevan untuk dipertahankan.<\/p>\n<p>Mashud menjelaskan, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga menjadi kunci utama dalam mengurai persoalan dari hulu. Ia mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari sumbernya, khususnya antara sampah organik dan anorganik.<\/p>\n<p>\u201cKalau dari rumah sudah dipilah, beban ke hilir akan berkurang drastis. Ini bukan hanya soal teknis, tapi soal kesadaran dan kebiasaan baru,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam forum tersebut, ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat sistem pendukung, termasuk optimalisasi fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di tingkat kecamatan dan kelurahan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, partisipasi masyarakat dinilai sulit berjalan maksimal.<\/p>\n<p>Namun demikian, Mashud menegaskan bahwa kunci keberhasilan tetap berada di tangan masyarakat. Ia menyebut rumah tangga sebagai titik awal perubahan paling menentukan dalam sistem pengelolaan sampah modern.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah bisa membuat program, tapi kalau masyarakat tidak terlibat, semuanya akan kembali ke pola lama. Jadi ini harus menjadi gerakan bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sosialisasi yang berlangsung interaktif tersebut dihadiri berbagai unsur, mulai dari camat, lurah, LPM, hingga RT\/RW. Para peserta aktif menyampaikan persoalan di wilayah masing-masing, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga rendahnya kesadaran warga dalam memilah sampah.<\/p>\n<p>Mashud menjelaskan bahwa Kementerian Lingkungan turut menegaskan bahwa Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1202 Tahun 2026 bukan sekadar peringatan administratif, melainkan sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan pembenahan sistem secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Ia menyebut pendekatan berbasis wilayah dan masyarakat sebagai strategi utama yang harus dijalankan secara konsisten. Tanpa itu, persoalan sampah akan terus berulang dan semakin kompleks.<\/p>\n<p>Diketahui sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar sendiri telah mulai menggeser fokus kebijakan ke arah pengurangan sampah dari sumber. Edukasi masyarakat, pembudayaan pemilahan, serta penguatan kelembagaan di tingkat lokal menjadi prioritas dalam upaya tersebut.<\/p>\n<p>Sejauh ini, Kecamatan Manggala menjadi salah satu wilayah yang terdampak langsung oleh keberadaan TPA Tamangapa, sehingga langkah pembenahan dinilai sangat mendesak.<\/p>\n<p>Lanjut Mashud\u00a0menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat harus diperkuat agar perubahan tidak hanya berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi benar-benar terimplementasi di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan ini tidak bisa ditunda lagi. Kalau kita ingin keluar dari krisis sampah, maka rumah tangga harus menjadi titik awal pengelolaan, bukan lagi TPA sebagai tumpuan utama. Ini soal komitmen bersama, bukan hanya program pemerintah,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Dengan dorongan berbagai pihak, Makassar kini berada pada fase penting dalam reformasi sistem pengelolaan sampah. Jika perubahan pola dari rumah tangga benar-benar berjalan, maka beban TPA Tamangapa dapat ditekan secara signifikan, sekaligus membuka jalan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Arya Rahmansyah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Imam Hairon<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69f5c20e24544\/Sampah-Dikelola-dari-Rumah-Bukan-Dibebankan-ke-TPA\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Mashud Azikin (kedua kanan) menyerahkan simbolis wadah pemilahan sampah organik dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11882,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11881","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/21654179ec8c-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11881","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11881"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11881\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11882"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11881"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11881"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11881"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}