{"id":12878,"date":"2026-05-19T05:02:49","date_gmt":"2026-05-19T05:02:49","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/05\/19\/dugaan-korupsi-hibah-bondowoso-2021-pengadaan-mebel-disebut-dikendalikan-satu-penyedia-milik-eks-pejabat\/"},"modified":"2026-05-19T05:02:49","modified_gmt":"2026-05-19T05:02:49","slug":"dugaan-korupsi-hibah-bondowoso-2021-pengadaan-mebel-disebut-dikendalikan-satu-penyedia-milik-eks-pejabat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/05\/19\/dugaan-korupsi-hibah-bondowoso-2021-pengadaan-mebel-disebut-dikendalikan-satu-penyedia-milik-eks-pejabat\/","title":{"rendered":"Dugaan Korupsi Hibah Bondowoso 2021, Pengadaan Mebel Disebut Dikendalikan Satu Penyedia Milik Eks Pejabat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/05\/19\/a8bd4af23866.jpg\" alt=\"Dugaan Korupsi Hibah Bondowoso 2021, Pengadaan Mebel Disebut Dikendalikan Satu Penyedia Milik Eks Pejabat\"\/>\n            <\/div>\n<p>Foto Ilustrasi<\/p>\n<p><b>BONDOWOSO &#8211;<\/b> Dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2021 mulai menyeret fakta-fakta baru. Salah satu penerima bantuan mengungkap pengadaan perlengkapan Madrasah Diniyah sejak awal diduga telah diarahkan kepada penyedia tertentu yang disebut milik mantan pejabat daerah.&#13;\n<\/p>\n<p>Kasus dugaan penyimpangan hibah APBD Bondowoso 2021-2022 kini telah memasuki tahap penyelidikan. Aparat Kejaksaan Negeri Bondowoso mulai memanggil dan memeriksa para penerima bantuan hibah sebagai bagian dari pengumpulan bahan keterangan.&#13;\n<\/p>\n<p>Penyelidikan tersebut menyasar program hibah miliaran rupiah yang berkaitan dengan pengadaan perlengkapan Madrasah Diniyah (MD) serta rehabilitasi bangunan lembaga pendidikan keagamaan.&#13;\n<\/p>\n<p>Di tengah proses hukum yang terus berjalan, sejumlah penerima hibah mulai buka suara terkait mekanisme pencairan hingga pengadaan barang yang mereka terima.&#13;\n<\/p>\n<p>Salah satunya MT, pengelola Madrasah Diniyah di Kecamatan Wonosari. Ia mengaku telah menjalani pemeriksaan oleh penyidik Kejaksaan Negeri Bondowoso terkait bantuan hibah yang diterima lembaganya pada tahun 2021.&#13;\n<\/p>\n<p>Di hadapan penyidik, MT mengungkap lembaganya memperoleh bantuan hibah sebesar Rp75 juta dari program Pemkab Bondowoso untuk lembaga pendidikan keagamaan.&#13;\n<\/p>\n<p>Menurut MT, dana tersebut dibagi menjadi dua pos anggaran. Sebesar Rp50 juta dialokasikan untuk pengadaan mebel madrasah, sedangkan Rp25 juta lainnya digunakan untuk rehabilitasi ringan bangunan.&#13;\n<\/p>\n<p>\u201cDana hibah sebesar Rp75 juta itu dibagi dua. Rp50 juta untuk pengadaan mebel madrasah dan Rp25 juta untuk rehab ringan bangunan,\u201d kata MT kepada wartawan, Jumat (15\/5\/2026).&#13;\n<\/p>\n<p>Namun pengakuan MT tidak berhenti pada nominal bantuan. Ia justru membuka dugaan adanya pengondisian dalam proses pengadaan barang sejak awal program berjalan.&#13;\n<\/p>\n<p>MT menyebut pengadaan mebel Madrasah Diniyah diduga sudah diarahkan melalui forum organisasi MD yang disebut berkaitan dengan sayap partai politik tertentu.&#13;\n<\/p>\n<p>Dalam pelaksanaannya, paket pengadaan itu terdiri atas 30 kursi siswa, 15 meja, satu kursi guru, dan satu lemari dengan nilai total mencapai Rp50 juta.&#13;\n<\/p>\n<p>Ironisnya, pihak penerima bantuan disebut tidak diberi ruang menentukan penyedia barang secara mandiri sebagaimana mekanisme pengadaan yang semestinya terbuka dan kompetitif.&#13;\n<\/p>\n<p>Bahkan spesifikasi barang disebut sudah ditentukan sebelum dana hibah dicairkan kepada lembaga penerima.&#13;\n<\/p>\n<p>\u201cSemua sudah diarahkan. Kami tinggal menerima barang sesuai ketentuan yang ada,\u201d ujarnya.&#13;\n<\/p>\n<p>MT juga mengungkap seluruh pengadaan mebel bagi penerima hibah Madrasah Diniyah di Bondowoso akhirnya terpusat pada satu perusahaan mebeler milik eks pejabat penting di daerah tersebut.&#13;\n<\/p>\n<p>Pengakuan itu memperkuat dugaan adanya pola pengondisian proyek dalam program hibah APBD yang seharusnya dijalankan secara transparan dan akuntabel.&#13;\n<\/p>\n<p>Dalam pemeriksaan di Kejari Bondowoso, MT mengaku dicecar sejumlah pertanyaan mulai mekanisme pencairan bantuan, proses pengadaan barang, hingga kualitas mebel yang diterima lembaganya.&#13;\n<\/p>\n<p>Namun ia mengaku tidak memahami detail teknis pengadaan karena seluruh proses disebut telah diatur sejak awal.&#13;\n<\/p>\n<p>Bahkan jenis kayu yang digunakan dalam paket mebel bantuan tersebut pun tidak diketahuinya.&#13;\n<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak tahu detail kayunya apa. Yang saya tahu barang datang sesuai paket yang sudah ditentukan,\u201d katanya.&#13;\n<\/p>\n<p>Sementara itu, dana sebesar Rp25 juta untuk rehabilitasi ringan bangunan disebut dikelola langsung oleh pihak madrasah guna memperbaiki sejumlah fasilitas yang rusak.&#13;\n<\/p>\n<p>Kepada penyidik, MT mengaku telah menyampaikan seluruh proses sesuai fakta yang diketahuinya selama menerima bantuan hibah tersebut.&#13;\n<\/p>\n<p>Ia juga menegaskan tidak ada pengurangan maupun penambahan barang dari paket bantuan yang diterima lembaganya.&#13;\n<\/p>\n<p>Meski demikian, pemeriksaan oleh aparat penegak hukum diakuinya meninggalkan tekanan psikologis cukup berat.&#13;\n<\/p>\n<p>MT bahkan mengaku sempat mengalami stres usai menjalani klarifikasi di kantor Kejaksaan Negeri Bondowoso.&#13;\n<\/p>\n<p>Menurutnya, suasana pemeriksaan yang beberapa kali diselingi gelak tawa penyidik membuat dirinya merasa bingung dan tertekan.&#13;\n<\/p>\n<p>Situasi itu membuat MT sempat berpikir untuk mundur dari jabatannya sebagai kepala madrasah.&#13;\n<\/p>\n<p>Sebab, bantuan pemerintah yang semestinya membantu keberlangsungan lembaga pendidikan kecil justru menyeret penerima hibah ke dalam persoalan hukum.&#13;\n<\/p>\n<p>MT menilai lembaga pendidikan seperti Madrasah Diniyah memang membutuhkan dukungan anggaran pemerintah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.&#13;\n<\/p>\n<p>Namun ia menegaskan mekanisme penyaluran bantuan dan pengadaan barang harus dilakukan secara transparan agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.&#13;\n<\/p>\n<p>Ia berharap pemerintah daerah dan pihak terkait melakukan pembenahan serius terhadap sistem hibah daerah, terutama menyangkut mekanisme pengadaan barang dan pertanggungjawaban administrasi penerima bantuan.&#13;\n<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi yang dihimpun, total dana hibah yang kini masuk tahap penyelidikan diperkirakan mencapai sekitar Rp4,8 miliar untuk tahun anggaran 2021-2022.&#13;\n<\/p>\n<p>Program hibah tersebut sebelumnya direalisasikan melalui Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Pemkab Bondowoso.&#13;\n<\/p>\n<p>Bantuan diberikan dalam bentuk pengadaan perlengkapan Madrasah Diniyah dan rehabilitasi bangunan lembaga pendidikan keagamaan.&#13;\n<\/p>\n<p>Masing-masing lembaga diketahui menerima bantuan sebesar Rp75 juta dengan jumlah penerima diperkirakan mencapai sekitar 65 lembaga.&#13;\n<\/p>\n<p>Dalam pelaksanaannya, muncul dugaan mark up harga pengadaan barang yang disebut-sebut digarap oleh satu perusahaan mebeler di Bondowoso.&#13;\n<\/p>\n<p>Dari total bantuan Rp75 juta, sebesar Rp25 juta digunakan untuk rehabilitasi ringan yang dikerjakan langsung oleh masing-masing lembaga penerima.&#13;\n<\/p>\n<p>Sedangkan Rp50 juta lainnya dialokasikan untuk pengadaan kursi, meja, dan lemari Madrasah Diniyah yang diduga ditangani oleh satu perusahaan penyedia.&#13;\n<\/p>\n<p>Perusahaan mebeler tersebut disebut menjadi penyedia tunggal pengadaan barang bagi seluruh penerima hibah APBD Bondowoso tahun 2021-2022.&#13;\n<\/p>\n<p>Pola pengadaan terpusat inilah yang kini mulai ditelusuri penyidik Kejari Bondowoso dalam perkara dugaan korupsi hibah miliaran rupiah tersebut.&#13;\n<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Satria Galih Saputra<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/6a0bec7a413d0\/Dugaan-Korupsi-Hibah-Bondowoso-2021-Pengadaan-Mebel-Disebut-Dikendalikan-Satu-Penyedia-Milik-Eks-Pejabat\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Foto Ilustrasi BONDOWOSO &#8211; Dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2021&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-12878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/a8bd4af23866-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12878"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12878\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}