{"id":14726,"date":"2026-06-25T13:17:40","date_gmt":"2026-06-25T13:17:40","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/06\/25\/delegasi-16-negara-belajar-industri-kayu-berkelanjutan-di-banyuwangi\/"},"modified":"2026-06-25T13:17:40","modified_gmt":"2026-06-25T13:17:40","slug":"delegasi-16-negara-belajar-industri-kayu-berkelanjutan-di-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/06\/25\/delegasi-16-negara-belajar-industri-kayu-berkelanjutan-di-banyuwangi\/","title":{"rendered":"Delegasi 16 Negara Belajar Industri Kayu Berkelanjutan di Banyuwangi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/06\/25\/d7973497882e.jpg\" alt=\"Delegasi 16 Negara Belajar Industri Kayu Berkelanjutan di Banyuwangi\"\/>\n            <\/div>\n<p>Delegasi 16 negara belajar pengelolaan kayu berkelanjutan di Banyuwangi. (Foto: Istimewa).<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, BANYUWANGI \u2013<\/b> Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara mengikuti program peningkatan kapasitas bertema pengelolaan kayu berkelanjutan di Banyuwangi. Selama empat hari, 24\u201327 Juni 2026, para peserta mempelajari berbagai praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, hingga industri pengolahan kayu yang diterapkan di Indonesia.<\/p>\n<p>Program bertajuk Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University. Kegiatan ini didukung pendanaan dari Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI).<\/p>\n<p>Peserta berasal dari berbagai negara di kawasan Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Pasifik. Para delegasi berasal dari Argentina, Brazil, Guatemala, Bolivia, Colombia, Ecuador, Mexico, Ghana, Honduras, Dominican Republic, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua New Guinea, Malaysia, dan Thailand. Mereka terdiri atas unsur pemerintah, akademisi, diplomat, dan pelaku usaha yang bergerak di bidang kehutanan serta komoditas berbasis kayu.<\/p>\n<p>Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang setiap tahun mengangkat komoditas strategis berbeda.<\/p>\n<p>&#8220;Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao,&#8221; kata Erma saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi, Rabu malam (24\/6\/2026).<\/p>\n<p>Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, mengatakan program ini bertujuan memperkenalkan praktik pengelolaan industri kayu yang legal, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global.<\/p>\n<p>Selain memperluas wawasan peserta, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pertukaran pengalaman dan penguatan jejaring kerja sama antarnegara dalam menghadapi tantangan keberlanjutan sektor kehutanan.<\/p>\n<p>&#8220;Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Salah satu materi yang menjadi perhatian peserta adalah penerapan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Sistem tersebut menjadi instrumen nasional untuk memastikan legalitas, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk kayu Indonesia yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri.<\/p>\n<p>&#8220;Banyuwangi memberikan ruang yang baik untuk melihat praktik lapangan, teknologi, dan perkembangan sektor timber berkelanjutan di Indonesia,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Peserta dari Argentina, Facundo Gonzalez, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan mengikuti program tersebut. Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan menjadi pembelajaran yang sangat berharga.<\/p>\n<p>&#8220;Ini suatu kehormatan bisa berada di sini. Kami berharap dapat belajar banyak dari pengalaman Indonesia dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Hal senada disampaikan delegasi Ghana, Ophilious Lambog dari Timber Industry Development Division, Forestry Commission Ghana. Ia menilai forum tersebut menjadi wadah yang baik untuk berbagi pengalaman sekaligus mempelajari praktik terbaik dari berbagai negara.<\/p>\n<p>&#8220;Kami juga terkesan dengan kehangatan warga Banyuwangi. Makanannya juga sangat enak,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan berbagai potensi daerah, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga perikanan. Banyuwangi yang dikelilingi tiga taman nasional dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami tidak hanya berupaya mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan, namun juga terus berupaya melibatkan masyarakat setempat untuk tumbuh bersama,\u201d kata Ipuk.<\/p>\n<p>&#8220;Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa, dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini, kita bisa berjejaring saling sharing praktek-praktek baik dan tentunya membuka peluang kerja sama yang lebih luas,&#8221; kata Ipuk. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/6a3d1f19796cf\/Delegasi-16-Negara-Belajar-Industri-Kayu-Berkelanjutan-di-Banyuwangi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Delegasi 16 negara belajar pengelolaan kayu berkelanjutan di Banyuwangi. (Foto: Istimewa). BERITA PLUS, BANYUWANGI&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":14727,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-14726","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e-300x176.jpg",300,176,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",640,375,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",640,375,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e.jpg",750,440,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/d7973497882e-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14726","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14726"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14726\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14726"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14726"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14726"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}