{"id":15007,"date":"2026-07-02T11:57:28","date_gmt":"2026-07-02T11:57:28","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ngaku-khilaf-pengasuh-pondok-pesantren-di-banyuwangi-jadi-tersangka-pencabulan-dua-santri\/"},"modified":"2026-07-02T11:57:28","modified_gmt":"2026-07-02T11:57:28","slug":"ngaku-khilaf-pengasuh-pondok-pesantren-di-banyuwangi-jadi-tersangka-pencabulan-dua-santri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ngaku-khilaf-pengasuh-pondok-pesantren-di-banyuwangi-jadi-tersangka-pencabulan-dua-santri\/","title":{"rendered":"Ngaku Khilaf! Pengasuh Pondok Pesantren di Banyuwangi Jadi Tersangka Pencabulan Dua Santri"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/07\/02\/55fed684fc76.jpg\" alt=\"Ngaku Khilaf! Pengasuh Pondok Pesantren di Banyuwangi Jadi Tersangka Pencabulan Dua Santri\"\/>\n            <\/div>\n<p>Ilustrasi pencabulan. (Foto: Pixabay).<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, BANYUWANGI \u2013<\/b> Seorang pengasuh salah satu pondok pesantren di Banyuwangi berinisial S (52) ditahan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyuwangi setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencabulan terhadap dua santrinya yang masih di bawah umur.<\/p>\n<p>Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, Kompol Lanang Teguh Pambudi, mengatakan kasus tersebut terungkap setelah dua korban melapor ke Polresta Banyuwangi didampingi kuasa hukumnya. Menindaklanjuti laporan itu, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) melakukan serangkaian pemeriksaan dan mengumpulkan alat bukti.<\/p>\n<p>&#8220;Setelah melakukan pemeriksaan secara mendalam dan mengumpulkan alat bukti lainnya, akhirnya kami menetapkan S sebagai tersangka. Saat ini yang bersangkutan sudah kami lakukan penahanan,&#8221; ujar Lanang dikonfirmasi, Kamis (2\/7\/2026).<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penyidikan, dugaan pencabulan terjadi di lingkungan pondok pesantren pada rentang 2023 hingga 2024. Saat kejadian berlangsung, kedua korban masih berusia sekitar 14 tahun. Kini keduanya telah berusia 16 tahun.<\/p>\n<p>Lanang menyebut, salah satu korban diduga mengalami pencabulan sebanyak belasan kali, sedangkan korban lainnya mengalami satu kali perbuatan serupa.<\/p>\n<p>Dalam menjalankan aksinya, tersangka menggunakan berbagai modus. Kepada salah satu korban, pelaku meminta dipijat dengan alasan kelelahan. Sementara terhadap korban lainnya, pelaku memanfaatkan kondisi korban yang sedang kesurupan dengan dalih melakukan ruqyah.<\/p>\n<p>Setelah itu, korban dibawa ke sebuah ruangan khusus yang hanya dapat diakses oleh pelaku. Di tempat tersebut, tersangka melancarkan aksinya. Akibat kejadian tersebut, kedua korban mengalami trauma sehingga baru berani melapor setelah mendapat pendampingan.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka merasa trauma dan takut. Baru sekarang berani melapor karena mendapat pendampingan dari kuasa hukumnya,&#8221; kata Lanang.<\/p>\n<p>Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 6 huruf c juncto Pasal 15 ayat (1) huruf c, huruf e, dan huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Selain itu, tersangka juga dikenakan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).<\/p>\n<p>Atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara dan\/atau denda paling banyak Rp300 juta.<\/p>\n<p>Tersangka telah mengakui perbuatannya. Kepada penyidik, ia menyatakan melakukan tindakan tersebut karena khilaf. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya korban lain dalam kasus tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Saat ini masih kami dalami kemungkinan adanya korban lain,&#8221; ujar Lanang. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/6a46522444247\/Ngaku-Khilaf-Pengasuh-Pondok-Pesantren-di-Banyuwangi-Jadi-Tersangka-Pencabulan-Dua-Santri\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Ilustrasi pencabulan. (Foto: Pixabay). BERITA PLUS, BANYUWANGI \u2013 Seorang pengasuh salah satu pondok pesantren&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15008,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-15007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76-300x176.jpg",300,176,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",640,375,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",640,375,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76.jpg",750,440,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/55fed684fc76-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15007","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15007"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15007\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}