{"id":15523,"date":"2026-07-15T09:26:34","date_gmt":"2026-07-15T09:26:34","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/15\/kenalkan-jejak-sejarah-komunitas-tjilatjap-history-luncurkan-buku-tempat-yang-berkisah\/"},"modified":"2026-07-15T09:26:34","modified_gmt":"2026-07-15T09:26:34","slug":"kenalkan-jejak-sejarah-komunitas-tjilatjap-history-luncurkan-buku-tempat-yang-berkisah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/15\/kenalkan-jejak-sejarah-komunitas-tjilatjap-history-luncurkan-buku-tempat-yang-berkisah\/","title":{"rendered":"Kenalkan Jejak Sejarah, Komunitas Tjilatjap History Luncurkan buku &#8216;Tempat Yang Berkisah&#8217;"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">Pendidikan<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/07\/15\/6981371730b4.jpg\" alt=\"Kenalkan Jejak Sejarah, Komunitas Tjilatjap History Luncurkan buku 'Tempat Yang Berkisah'\"\/>\n            <\/div>\n<p>Sindu Pramono (tengah) dan Thomas Sutasman (kiri) saat menyerahkan buku berjudul &#8216;Tempat Yang Berkisah&#8217; kepada Kabid Perpustakaan Adhy Kurniawan di Perpustakaan Daerah Cilacap. (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 1rem;\"><b>BERITA PLUS, CILACAP &#8211; <\/b>Upaya mengenalkan jejak sejarah, warisan budaya, tokoh, tempat, serta peristiwa penting yang pernah terjadi di wilayah Cilacap dan sekitarnya kepada masyarakat luas, tidak hentinya dilakukan oleh Komunitas Tjilatjap History.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Kali ini, komunitas yang digawangi Riyadh Ginanjar ini, mengenalkan jejak sejarah melalui penerbitan buku berjudul &#8220;Tempat Yang Berkisah&#8221;, dan sedianya akan diluncurkan dalam Pemeran Cagar Budaya, awal Agustus 2026 mendatang.<\/p>\n<p>&#8220;Bagi sebagian orang, Cilacap mungkin dikenal sebagai kota pelabuhan, kawasan industri, atau gerbang menuju Pulau\u00a0<span style=\"font-size: 1rem;\">Nusakambangan. Di balik identitas tersebut, tersimpan begitu banyak kisah yang menarik untuk ditelusuri,&#8221; ujar Sindu Pramono, salah satu penulis di buku tersebut, Rabu (15\/7\/2026).<\/span><\/p>\n<p>Ia mencontohkan mulai peninggalan masa kerajaan, jejak kolonialisme, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kemudian perkembangan transportasi, hingga cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSemua itu menjadi bagian dari mozaik panjang perjalanan sejarah daerah ini, dan pembaca buku ini kami ajak menyusuri beragam sudut Cilacap yang mungkin jarang diperbincangkan,&#8221; ungkap Sindu.<\/p>\n<p>&#8220;Ada kisah tentang benteng pertahanan, stasiun kereta api, hotel tua, kemudian situs bersejarah, tokoh lokal, hingga asal-usul nama tempat yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, berbagai cerita tersebut tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menggambarkan kekayaan budaya dan identitas masyarakat Cilacap dari masa ke masa.<\/p>\n<p>Ia berharap buku tersebut dapat menjadi bacaan yang ringan, menarik, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.<\/p>\n<p>&#8220;Semoga buku ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkuat kecintaan terhadap sejarah daerah, serta mendorong upaya pelestarian warisan budaya yang menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat,&#8221; ujar Sindu.<\/p>\n<p>&#8220;Misalnya, siapa sangka, lokasi yang kini dikenal sebagai Taman Zebra, dekat Alun-alun Cilacap, ternyata memiliki sejarah panjang sebagai pusat transportasi darat. Pada tahun 1970-an, tempat ini dulunya adalah Stanplat atau Terminal Bus Cilacap yang sangat ramai pada zamannya,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Sindu mengatakan bahwa banyak jejak masa lalu yang belum banyak diketahui oleh khalayak umum, padahal di dalamnya termuat berbagai peristiwa, kejadian, dan kisah orang-orang di masa lampau.<\/p>\n<p>&#8220;Tentunya, catatan-catatan ini menyimpan nilai-nilai luhur yang menjadi akar identitas Kabupaten Cilacap hingga saat ini. Berbagai catatan yang terserak dari berbagai objek dan bukti sejarah yang ada di Cilacap dapat didokumentasikan dalam bentuk buku,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>&#8220;Hal ini akan menambah wawasan tentang sejarah lokal, serta menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap warisan budaya dan sejarah daerah sendiri,&#8221; sambungnya.<\/p>\n<p>Untuk memudahkan masyarakat yang ingin mengakses informasi yang ada di dalam buku tersebut, Komunitas Tjilatjap History telah memberikan buku tersebut ke Perpustakaan Daerah Cilacap.<\/p>\n<p>&#8220;Tujuannya supaya buku ini mudah didapat kalau ada yang ingin membacanya. Dan buku ini ada 111 halaman,&#8221; pungkas Penggiat sejarah Tjilatjap History yang akrab berharap Mas Sindu ini. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Satria Galih Saputra<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/pendidikan\/6a5751748421b\/Kenalkan-Jejak-Sejarah-Komunitas-Tjilatjap-History-Luncurkan-buku-Tempat-Yang-Berkisah\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendidikan Sindu Pramono (tengah) dan Thomas Sutasman (kiri) saat menyerahkan buku berjudul &#8216;Tempat Yang Berkisah&#8217;&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15524,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-15523","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6981371730b4-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15523","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15523"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15523\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15524"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15523"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15523"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15523"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}