{"id":15923,"date":"2026-07-23T10:18:10","date_gmt":"2026-07-23T10:18:10","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/23\/20-kasus-pencabulan-di-bawah-umur-terjadi-di-ngawi\/"},"modified":"2026-07-23T10:18:10","modified_gmt":"2026-07-23T10:18:10","slug":"20-kasus-pencabulan-di-bawah-umur-terjadi-di-ngawi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/07\/23\/20-kasus-pencabulan-di-bawah-umur-terjadi-di-ngawi\/","title":{"rendered":"20 Kasus Pencabulan di Bawah Umur Terjadi di Ngawi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">Peristiwa<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/07\/23\/285fcc5cf5c7.jpg\" alt=\"20 Kasus Pencabulan di Bawah Umur Terjadi di Ngawi\"\/>\n            <\/div>\n<p>Pers rilis Polres Ngawi kasus asusila. (Foto: Ari Hermawan\/ Suara Indonesia)<\/p>\n<p><span><span><strong>BERITA PLUS, NGAWI &#8211; <\/strong>Kepolisian Resor Ngawi (Polres Ngawi) mencatat, sepanjang Bulan Januari hingga Bulan Juli Tahun 2026 terdapat 20 kasus aksi kejahatan seksual yakni pencabulan anak di bawah umur.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Wakapolres Ngawi, Kompol Rizki Santoso mengatakan, dari 20 kasus yang ditanganinya, ada 20 lebih korban kekerasan seksual yang rata-rata korbannya masih anak-anak berstatus pelajar.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Modus kejahatannya pun beragam, mulai hubungan terlarang (berpacaran), pengaruh minuman keras, narkoba hingga kejahatan pornografi melalui ponsel dan aplikasi kencan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cSepanjang Tahun 2026 ini kami Polres Ngawi menangani 20 kasus kekerasan seksual yang menimpa anak\u00a0masih di bawah umur. Dari 20 kasus, terdapat lebih dari 20 korban, karena ada beberapa kasus pencabulan yang korbannya lebih dari 1 orang,\u201d kata Rizki saat konferensi pers, Kamis (23\/6\/2026).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Rizki meminta agar orang tua meningkatkan pengawasan terhadap putra putrinya secara ketat, terutama pengawasan dalam menggunakan ponsel karena percakapan mereka dapat dilacak melalui komunikasi gadget.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cKami mengimbau agar para orang tua ketat dalam mengawasi perilaku anak-anaknya, jangan sampai masuk ke dalam lingkungan yang salah. Apalagi sampai menjadi pelaku ataupun korban kejahatan yang dapat merugikan semua pihak,\u201d tegas kata Rizki.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>&#8220;Dan saya sampaikan tegas, pelaku kejahatan seksual di bawah umur bisa dipenjara selama 15 tahun,&#8221; lanjutnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Data yang diterima awak media, kasus kekerasan seksual di bawah umur yang terjadi di Ngawi, diantaranya kasus dengan tersangka penceramah agama yang dikenal dengan nama Gus Bento. Kasus ini sempat heboh karena korbannya adalah santrinya sendiri, dengan jumlah korban mencapai lebih dari empat santriwati.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Kemudian kasus asusila pornografi\u00a0melalui handphone. Korban merupakan seorang pelajar dan videonya sempat beredar di media sosial. Dari kasus ini, pelaku berhasil ditangkap di Blitar.\u00a0Saat ditangkap korban mengakui kesalahannya. Alasannya, tidak terima cintanya diputus oleh korban, karena sakit hati kemudian vidoe korban disebarluaskan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Kasus selanjutnya yang lebih miris, dua perempuan dicekoki miras oleh tiga pemuda, setelah mabuk kedua perempuan itu digilir. Usai sadar dari pengaruh miras, korban lalu melapor ke polisi akhirnya tiga pelaku berhasil diamankan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span><span>Upaya Pemerintah Kabupaten Ngawi maraknya kasus kejahatan seksual<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span><span>Pemerintah Kabupaten Ngawi (Pemkab Ngawi) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlingdungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) melakukan pendampingan terhadap seluruh korban asusila. Tidak hanya kepada korban,\u00a0tim psikolog dari DP3AKB juga turut mendampingi dan mengawal proses penyembuhan psikologis keluarga korban.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cKarena kami melihat tidak hanya korban yang depresi, pihak orang tua lebih syok, lebih berat gangguan psikologis yang dialaminya. Sehingga kami akan terus berupaya maksimal dalam pendampingan baik korban ataupun keluarga korban,\u201d kata Kepala DP3AKB Ngawi, Nugrahaningrum yang akrab dipanggil Aning, Kamis (23\/7\/2026).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Aning menjelaskan, berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan terus ia galakkan. Pun, ia juga menggandeng berbagai pihak, dari lembaga sekolah, karang taruna, dan program Generasi Berencana (GenRe).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cSelama ini kami selalu mengkampanyekan bagaimana anak-anak kita khususnya perempuan dapat terlindungi dari gangguan tindak\u00a0kejahatan. Sosialisasi dari berbagai kegiatan juga terus kita lakukan,\u201d ujarnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cKami juga menggandeng, anak-anak muda misalnya di sekolah, karang taruna dan GenRe dilibatkan dalam kampanye ini,\u201d imbuhnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>Aning berharap, peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya wajib dimaksimalkan, mulai dari perubahan perilaku anak yang tidak seperti biasanya, seperti jam bermain di luar rumah, cara berpakaian, hingga pengawasan penggunaan gadged atau handphone.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cJadi memang di era saat ini, pengaruh gaya hidup negatif terhadap anak perlu diwaspadai. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya,\u201d terang Aning.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span><span>\u201cMaka kami dari DP3AKB dengan segala keterbatasan sumber daya manusia, mengajak seluruh komponen, khususnya peran orang tua untuk ikut mengawasi perilaku anak-anak agar tidak terjerumus dalam hal yang negatif,\u201d tutupnya. (*)<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Ari Hermawan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/peristiwa\/6a61b97455c89\/20-Kasus-Pencabulan-di-Bawah-Umur-Terjadi-di-Ngawi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peristiwa Pers rilis Polres Ngawi kasus asusila. (Foto: Ari Hermawan\/ Suara Indonesia) BERITA PLUS, NGAWI&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15924,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-15923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/285fcc5cf5c7-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}