{"id":17836,"date":"2026-09-02T16:38:24","date_gmt":"2026-09-02T09:38:24","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/09\/02\/aksi-jalan-miring-mat-tohek-di-semarang-save-ungaran-save-lawu\/"},"modified":"2026-09-02T16:38:24","modified_gmt":"2026-09-02T09:38:24","slug":"aksi-jalan-miring-mat-tohek-di-semarang-save-ungaran-save-lawu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/09\/02\/aksi-jalan-miring-mat-tohek-di-semarang-save-ungaran-save-lawu\/","title":{"rendered":"Aksi Jalan Miring Mat Tohek di Semarang: Save Ungaran, Save Lawu!"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"flex-wr-s-s p-b-10\">\n              <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"><br \/>\n                <a href=\"#\" class=\"f1-s-4 cl8 hov-cl10 trans-03\">Team Work<\/a><br \/>\n                <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>02 September 2026 | 15:09<\/span> <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>Dibaca 0 kali<\/span><br \/>\n              <\/span><br \/>\n              <!-- <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"> 4281 Views <\/span> \n              <a href=\"#\" class=\"f1-s-3 cl8 hov-cl10 trans-03 m-r-15\"> 0 Comment <\/a>  -->\n            <\/div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/09\/02\/e52d9ead056c.jpg\" alt=\"Aksi Jalan Miring Mat Tohek di Semarang: Save Ungaran, Save Lawu!\"\/>\n            <\/div>\n<p>Aktivis lingkungan asal Blora, Mat Tohek, melakukan aksi berjalan miring sambil membawa bendera Merah Putih di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Rabu (2\/9\/2026). (Foto: Lilik Yuliantoro untuk Suara Indonesia)<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 1rem;\"><b>BERITA PLUS, SEMARANG &#8211; <\/b>Kritik terhadap kebijakan pembangunan dan pengelolaan lingkungan disampaikan dengan cara tidak biasa oleh aktivis lingkungan asal Blora, Mat Tohek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Ia berjalan miring dari kawasan Simpang Lima menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (2\/9\/2026), sebagai bagian dari aksi Jateng Guyub.<\/p>\n<p>Mengenakan karung goni, caping bambu, serta membawa kain hitam sepanjang lima meter dan kain putih sepanjang 10 meter, Mat Tohek juga mengibarkan Merah Putih.\u00a0<\/p>\n<p><b>Pesan yang dibawanya tegas: \u201cSave Ungaran, Save Lawu!\u201d<\/b><\/p>\n<p>Langkah miring tersebut menjadi simbol kritik terhadap arah pembangunan yang dinilai terlalu menekankan investasi dan energi, tetapi berpotensi mengabaikan keselamatan lingkungan serta ruang hidup masyarakat.<\/p>\n<p>Setibanya di Kantor Gubernur Jawa Tengah, kain hitam dan putih diserahkan kepada perwakilan Jateng Guyub untuk dibawa dalam agenda audiensi.<\/p>\n<p>Koordinator Umum Jateng Guyub, Joko Priyanto, mengatakan audiensi tersebut merupakan tindak lanjut aksi sebelumnya.\u00a0<\/p>\n<p>Sebulan lalu, massa melakukan aksi selama tiga hari dan memberikan waktu kepada Gubernur Jawa Tengah untuk merespons berbagai tuntutan.<\/p>\n<p>Jateng Guyub, yang disebut mewadahi masyarakat dari 28 kabupaten\/kota, membawa sejumlah persoalan, antara lain lingkungan, agraria, dugaan kriminalisasi masyarakat, pendidikan, dan infrastruktur.<\/p>\n<p>Dalam aksi itu, Mat Tohek juga menyeret banner berlogo Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di atas aspal.\u00a0<\/p>\n<p>Aksi tersebut menjadi sindiran terhadap kebijakan energi yang menurutnya tidak boleh hanya menghitung investasi dan kapasitas listrik, tetapi juga dampaknya terhadap air, tanah, keselamatan warga, dan lingkungan.<\/p>\n<p>Salah satu isu yang disorot adalah rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran.\u00a0<\/p>\n<p>Mat Tohek mengaitkannya dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK\/EK.04\/MEMBPE\/2026 yang disebut mencakup wilayah kerja sekitar 29.800 hektare, potensi 55 megawatt, investasi sekitar 300 juta dolar AS, serta pengeboran hingga kedalaman 1.900\u20132.200 meter.<\/p>\n<p>Ia menegaskan tidak menolak panas bumi, tetapi meminta seluruh risiko dikaji secara transparan dan independen, terutama terkait sesar dan kegempaan, sumber air, hidrogeologi, permukiman, hingga kawasan bersejarah seperti Candi Gedong Songo.<\/p>\n<p>Mat Tohek juga mempertanyakan urgensi penambahan pembangkit jika pasokan listrik Jawa Tengah dan DIY masih memiliki cadangan. Ia menyebut data PLN UID Jateng-DIY 2025 menunjukkan kapasitas terpasang sekitar 6.400 megawatt, sedangkan beban puncak sekitar 4.200 megawatt.<\/p>\n<p>\u201cKeselamatan masyarakat dan lingkungan harus menjadi dasar. Semua risiko harus dibuktikan melalui kajian ilmiah dan data yang transparan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kekhawatiran lain menyangkut sumber air di kawasan Bandungan dan Gedong Songo yang menopang pertanian serta kehidupan masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p>Risiko paparan hidrogen sulfida (H\u2082S), perubahan tata air, kondisi tanah, hingga dampak terhadap bangunan bersejarah juga diminta menjadi bagian dari kajian.<\/p>\n<p>Bagi Mat Tohek, seluruh atribut yang dikenakannya memiliki makna.\u00a0<span style=\"font-size: 1rem;\">Karung goni menggambarkan rakyat kecil, caping melambangkan petani, kain hitam-putih menjadi simbol peringatan dan keseimbangan, sedangkan Merah Putih menegaskan bahwa kritik tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.\u00a0<\/span><span style=\"font-size: 1rem;\">Kini, Mat Tohek dan Jateng Guyub menunggu tindak lanjut pemerintah, bukan sekadar audiensi.<\/span><\/p>\n<p>\u201cPembangunan memang diperlukan. Energi dan investasi juga penting. Tetapi jangan sampai sumber air, ruang hidup, keselamatan warga, dan warisan budaya menjadi taruhannya,\u201d kata Mat Tohek.<\/p>\n<p>Ia menutup aksinya dengan pesan: \u201cSempurnakan hidup dengan tiga hubungan: taat kepada Allah (Hablum Minallah), santun kepada sesama (Hablum Minannas), dan peduli pada semesta (Hablum Minal &#8216;Alam).\u201d (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Team Work<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/6a97ed8ab4ec1\/Aksi-Jalan-Miring-Mat-Tohek-di-Semarang-Save-Ungaran-Save-Lawu\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Team Work &#8211; 02 September 2026 | 15:09 &#8211; Dibaca 0 kali News Aktivis lingkungan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17837,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-17836","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c.jpg",2048,1152,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-300x169.jpg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-768x432.jpg",640,360,true],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-1024x576.jpg",640,360,true],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-1536x864.jpg",1536,864,true],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c.jpg",2048,1152,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-1115x715.jpg",1115,715,true],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-800x500.jpg",800,500,true],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-1024x576.jpg",1024,576,true],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/e52d9ead056c-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17836"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17836\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}