{"id":19498,"date":"2026-10-11T23:05:24","date_gmt":"2026-10-11T16:05:24","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/10\/11\/meniti-jejak-masa-lalu-untuk-masa-depan-revitalisasi-historis-jalur-anyer-panarukan-dimulai\/"},"modified":"2026-10-11T23:05:24","modified_gmt":"2026-10-11T16:05:24","slug":"meniti-jejak-masa-lalu-untuk-masa-depan-revitalisasi-historis-jalur-anyer-panarukan-dimulai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/10\/11\/meniti-jejak-masa-lalu-untuk-masa-depan-revitalisasi-historis-jalur-anyer-panarukan-dimulai\/","title":{"rendered":"Meniti Jejak Masa Lalu untuk Masa Depan: Revitalisasi Historis Jalur Anyer\u2013Panarukan Dimulai"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"flex-wr-s-s p-b-10\">\n              <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"><br \/>\n                <a href=\"#\" class=\"f1-s-4 cl8 hov-cl10 trans-03\">Syamsuri <\/a><br \/>\n                <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>11 October 2026 | 22:10<\/span> <span class=\"m-rl-3\">&#8211;<\/span> <span>Dibaca 0 kali<\/span><br \/>\n              <\/span><br \/>\n              <!-- <span class=\"f1-s-3 cl8 m-r-15\"> 4281 Views <\/span> \n              <a href=\"#\" class=\"f1-s-3 cl8 hov-cl10 trans-03 m-r-15\"> 0 Comment <\/a>  -->\n            <\/div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/10\/11\/ff703b673897.jpg\" alt=\"Meniti Jejak Masa Lalu untuk Masa Depan: Revitalisasi Historis Jalur Anyer\u2013Panarukan Dimulai\"\/>\n            <\/div>\n<p>Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio), menggandeng Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, menggagas Program Anyer Panarukan 3R.\u00a0(Foto: Dok. Pemkab Situbondo)<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, JAKARTA &#8211; <\/b>Jalur legendaris Jalan Raya Pos kini tidak lagi sekadar menjadi catatan dalam buku-buku sejarah. Melalui sebuah langkah kolaboratif yang visioner, Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kabupaten Situbondo resmi menginisiasi program Anyer\u2013Panarukan 3R (Road, Route, Roots).<\/p>\n<p>Inisiatif ini dirancang untuk mengonversi nilai historis jalur sepanjang pulau Jawa tersebut menjadi motor penggerak ekonomi, pariwisata, serta penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).<\/p>\n<p>Simbolisasi kebangkitan jalur bersejarah ini ditandai melalui prosesi peluncuran resmi (Kick Off) yang diselenggarakan di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, pada Minggu (11\/10\/2026).<\/p>\n<p>Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, serta Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo.<\/p>\n<p>Mendes PDT, Yandri Susanto, memberikan apresiasi mendalam terhadap gagasan ini. Ia menegaskan bahwa koridor Anyer\u2013Panarukan memayungi ribuan desa yang kaya akan karakteristik unik. <\/p>\n<p>Kemendes PDT berkomitmen memanfaatkan momentum ini sebagai batu pijakan untuk mengangkat kelas desa-desa di sepanjang jalur tersebut tanpa menanggalkan identitas lokalnya.<\/p>\n<p>&#8220;Saya optimistis program Anyer\u2013Panarukan 3R ini akan berkembang menjadi sebuah gerakan multisektoral yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi, pelestarian kebudayaan, dan penguatan infrastruktur,&#8221; ujar Yandri. <\/p>\n<p>Ia juga memproyeksikan agenda ini sebagai kalender tahunan yang ke depannya akan merangkul lebih banyak pemerintah daerah di sepanjang perlintasan historical tersebut.<\/p>\n<p>Dari ujung timur Jawa, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menekankan pentingnya menyelaraskan warisan masa lalu dengan dinamika modernisasi. <\/p>\n<p>Di tengah masifnya keberadaan Tol Trans Jawa, jalur konvensional Anyer\u2013Panarukan diyakini tetap memiliki daya pikat tersendiri dan memegang peran krusial bagi urat nadi perekonomian lokal.<\/p>\n<p>&#8220;Kita harus menjaga masa depan ruang ini. Jalur Anyer\u2013Panarukan berkembang bersama UMKM dan aktivitas domestik warga. Khusus bagi Situbondo yang menjadi gerbang pelintasan menuju Bali, kami bersiap mengubah status wilayah dari sekadar jalur transit menjadi destinasi utama pariwisata, budaya, dan investasi,&#8221; ungkap Rio.<\/p>\n<p>Bagi Situbondo, inisiatif ini merupakan upaya menempatkan Panarukan dalam narasi sejarah nasional sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, Anyer\u2013Panarukan diharapkan bukan hanya dikenang sebagai jalur bersejarah, tetapi juga dikembangkan sebagai koridor budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak sedang menghidupkan kembali sebuah jalan. Kita sedang menghidupkan kembali cerita tentang perjalanan bangsa. Anyer Panarukan 3R, Road, Route, dan Roots. Dari Anyer ke Panarukan 1.000 KM untuk Indonesia,\u201d tegas Mas Rio.<\/p>\n<p>Senada dengan hal tersebut, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah melihat pilar Route dalam program ini sebagai ruang inkubasi ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat Barat pulau Jawa.<\/p>\n<p>&#8220;Fokus kami adalah mentransformasikan Jalan Raya Pos menjadi episentrum pergerakan ekonomi baru. Potensi kuliner, situs religi, hingga wisata sejarah akan dikemas secara integratif agar mampu membuka lapangan usaha yang lebih luas bagi para pelaku industri kreatif lokal,&#8221; jelas Ratu.<\/p>\n<p>Sinergi perdana antara Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi kedua daerah sekaligus mendorong partisipasi wilayah lain yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos.<\/p>\n<p>Dari perspektif sejarah, Jalan Raya Pos memiliki arti penting dalam memahami perkembangan infrastruktur, pemerintahan, mobilitas, dan kehidupan sosial-ekonomi di Pulau Jawa. <\/p>\n<p>Namun demikian, pengembangan warisan sejarah perlu disertai dokumentasi yang cermat, pembacaan kritis atas konteks zamannya, serta pelibatan masyarakat yang hidup di sepanjang jalur tersebut.<\/p>\n<p>Djoko Marihandono, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, peneliti sejarah \u201cAnyer-Panarukan\u201d dapat memperkuat perspektif sejarah dalam program ini dengan menekankan pentingnya penggunaan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan serta pengaitan sejarah dengan identitas masyarakat masa kini.<\/p>\n<p>\u201cJalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur ini perlu dikaji melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus dibaca dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya. Dengan begitu, pengembangan warisan sejarah dapat tetap berpijak pada fakta dan memberi makna bagi generasi sekarang,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut relevan bagi pengembangan Anyer\u2013Panarukan 3R, terutama untuk mendokumentasikan situs bersejarah, cerita masyarakat, tradisi lokal, serta potensi budaya yang berkembang di berbagai wilayah. Sejarah Jalan Raya Pos juga perlu disampaikan secara utuh, termasuk konteks kolonial dan pengalaman masyarakat pada masa pembangunannya.<\/p>\n<p>Di Situbondo, pengembangan narasi sejarah dapat dihubungkan dengan potensi Panarukan, Kota Tua Besuki, Pendopo Pate Alos, tradisi lokal, serta produk unggulan seperti kopi, batik, kuliner, dan kerajinan. Keterhubungan tersebut membuka peluang bagi sejarah dan kebudayaan untuk menjadi bagian dari pengembangan destinasi dan ekonomi kreatif.<\/p>\n<p>Sebagai tindak lanjut, program Anyer\u2013Panarukan 3R diarahkan untuk membangun basis data dan dokumentasi potensi di sepanjang jalur Jalan Raya Pos. Salah satu agenda yang disiapkan adalah ekspedisi penelusuran Anyer\u2013Panarukan untuk memetakan kondisi jalur, situs bersejarah, cerita masyarakat, potensi wisata, produk UMKM, serta peluang kerja sama antardaerah.<\/p>\n<p>Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar untuk menyusun program yang lebih terarah, mulai dari pengembangan destinasi dan paket wisata, promosi budaya, penguatan jejaring pelaku UMKM, hingga kolaborasi antardesa dalam pemasaran produk unggulan.<\/p>\n<p>Program ini juga membuka ruang keterlibatan generasi muda melalui dokumentasi digital, produksi konten sejarah, kompetisi video, festival budaya, serta berbagai bentuk penceritaan kreatif yang relevan dengan perkembangan media saat ini.<\/p>\n<p>Anyer\u2013Panarukan 3R mengusung tiga gagasan utama: Road, yaitu Jalan Raya Pos sebagai warisan sejarah sekaligus penghubung antardaerah; Route, yakni pengembangan koridor perjalanan, perdagangan, dan destinasi wisata; serta Roots, yaitu penggalian dan penguatan akar sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal masyarakat.<\/p>\n<p>Melalui kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah pusat, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat, program ini diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang menghubungkan pelestarian sejarah dengan peluang pembangunan yang nyata. (<span style=\"font-size: 1rem;\">*)<\/span><\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Syamsuri <\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Alfiana Putri<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/6acb94afc23b7\/Meniti-Jejak-Masa-Lalu-untuk-Masa-Depan-Revitalisasi-Historis-Jalur-AnyerPanarukan-Dimulai\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syamsuri &#8211; 11 October 2026 | 22:10 &#8211; Dibaca 0 kali News Bupati Situbondo Yusuf&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":19499,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-19498","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897-300x176.jpg",300,176,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",640,375,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",640,375,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897.jpg",750,440,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/ff703b673897-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19498\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}