{"id":8647,"date":"2026-03-15T17:43:30","date_gmt":"2026-03-15T17:43:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/15\/makelar-akhirat-tambal-jalan-rusak-bondowoso-yusdeny-ini-demi-keselamatan-warga\/"},"modified":"2026-03-15T17:43:30","modified_gmt":"2026-03-15T17:43:30","slug":"makelar-akhirat-tambal-jalan-rusak-bondowoso-yusdeny-ini-demi-keselamatan-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/15\/makelar-akhirat-tambal-jalan-rusak-bondowoso-yusdeny-ini-demi-keselamatan-warga\/","title":{"rendered":"Makelar Akhirat Tambal Jalan Rusak Bondowoso, Yusdeny : Ini Demi Keselamatan Warga"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/03\/15\/5e31531a3438.jpg\" alt=\"Makelar Akhirat Tambal Jalan Rusak Bondowoso, Yusdeny : Ini Demi Keselamatan Warga\"\/>\n            <\/div>\n<p>Foto ilustrasi<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS,BONDOWOSO \u2013<\/b> Kerusakan jalan yang tak kunjung tertangani membuat sejumlah relawan di Bondowoso turun langsung memperbaiki jalan bberlubang<\/p>\n<p>Mereka menambal kerusakan jalan secara swadaya sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan.<\/p>\n<p>Aksi tersebut sekaligus menjadi kritik sosial terhadap lambannya penanganan infrastruktur yang selama ini dikeluhkan masyarakat.<\/p>\n<p>Founder komunitas Makelar Akhirat Bondowoso, Yusdeny Lanasakti, menegaskan bahwa gerakan relawan itu bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah.<\/p>\n<p>Menurut Yusdeny, aksi tersebut lahir semata-mata dari kepedulian masyarakat terhadap kondisi jalan yang dianggap sudah membahayakan.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah memang bekerja melalui program dan perencanaan. Tapi di sisi lain ada keterbatasan karena semuanya harus melalui proses dan butuh waktu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, kata dia, kondisi jalan yang rusak tidak bisa menunggu terlalu lama untuk diperbaiki.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan, hampir setiap hari ada warga yang terjatuh akibat lubang di jalan, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.<\/p>\n<p>\u201cYang tidak bisa kita tunggu itu karena setiap hari ada warga yang jatuh. Di situlah relawan hadir, karena relawan lebih fleksibel dibandingkan birokrasi pemerintah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bagi Yusdeny, gerakan menambal jalan tersebut sepenuhnya dilandasi semangat kemanusiaan.<\/p>\n<p>Ia berharap langkah kecil itu setidaknya dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cHarapan kami sederhana, jangan sampai ada korban lagi. Kalau jalan yang kita tambal ini bisa membantu masyarakat lebih aman, itu sudah cukup,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, kegiatan ini juga ingin membangkitkan solidaritas warga agar tidak selalu bergantung pada pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cKita ingin mengampanyekan gerakan warga untuk warga. Artinya masyarakat bisa saling bergandengan tangan membantu sesama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sejauh ini, para relawan telah melakukan penambalan jalan di sejumlah ruas yang dinilai rawan kecelakaan.<\/p>\n<p>Beberapa titik yang sudah diperbaiki antara lain di sepanjang Jalan Cokroaminoto, Jalan MT Haryono, kawasan Sekarputih, hingga sekitar Jalan Kartini.<\/p>\n<p>Saat ini gerakan tersebut juga mulai menjangkau wilayah Pelindungan dan bergerak menuju Poncer dengan harapan dapat menghubungkan jalur alternatif menuju Tamanan.<\/p>\n<p>Yusdeny menjelaskan bahwa relawan biasanya memprioritaskan lokasi yang paling sering dikeluhkan warga maupun ramai diperbincangkan di media sosial.<\/p>\n<p>\u201cBiasanya kita fokus di titik yang sering diadukan warga atau netizen, yang katanya banyak orang jatuh di situ,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Meski mendapat dukungan luas dari masyarakat, Yusdeny menyadari tidak semua orang memiliki pandangan yang sama terhadap aksi tersebut.<\/p>\n<p>Sebagian pihak menganggap gerakan itu sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah, sementara lainnya menilainya sebagai aksi sosial biasa.<\/p>\n<p>Namun menurut Yusdeny, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak pernah terpikir membawa kegiatan ini ke arah politik. Tujuan kita murni kemanusiaan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyadari bahwa pihaknya tidak bisa mengontrol bagaimana masyarakat menafsirkan kegiatan relawan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cAda yang berpikiran negatif, ada juga yang positif. Itu hal biasa. Tapi kita tetap berjalan untuk masyarakat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Gerakan penambalan jalan yang dilakukan komunitas Makelar Akhirat sepenuhnya bergantung pada donasi masyarakat.<\/p>\n<p>Selama masih ada dukungan dana, para relawan akan terus membeli aspal untuk menutup lubang-lubang jalan yang membahayakan.<\/p>\n<p>\u201cKita akan terus jalan selama masih ada donasi untuk beli aspal. Itu amanah dari masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Namun jika donasi tidak tersedia, kegiatan tersebut terpaksa dihentikan sementara.<\/p>\n<p>\u201cKalau donasi tidak ada dan aspal juga tidak ada, ya kita berhenti dulu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saat tidak melakukan perbaikan jalan, komunitas Makelar Akhirat tetap menjalankan berbagai kegiatan sosial lainnya.<\/p>\n<p>Di antaranya membantu fakir miskin serta menggelar kegiatan doa bersama untuk masyarakat.<\/p>\n<p>Untuk menjaga transparansi, komunitas tersebut juga membuka rekening donasi khusus bagi warga yang ingin mendukung program perbaikan jalan.<\/p>\n<p>\u201cDana yang masuk ke rekening itu memang khusus untuk kegiatan penambalan jalan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dalam satu kali kegiatan penambalan jalan, biaya yang dibutuhkan relawan tidak sedikit.<\/p>\n<p>Yusdeny mengungkapkan bahwa jika membawa sekitar 100 sak aspal, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar Rp9 juta.<\/p>\n<p>Sedangkan jika hanya menggunakan sekitar 50 sak aspal, anggaran yang diperlukan berkisar Rp5 juta hingga Rp6 juta.<\/p>\n<p>Pengalaman di lapangan juga membuat relawan terus memperbaiki teknik penambalan jalan agar hasilnya lebih kuat.<\/p>\n<p>Pada awal kegiatan, beberapa titik yang sudah ditambal sempat kembali rusak akibat hujan deras dan kendaraan bertonase besar yang melintas.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya kita tambal di Jalan Cokroaminoto, tapi seminggu kemudian hujan deras dan dilewati kendaraan besar, akhirnya rusak lagi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dari pengalaman tersebut, para relawan kemudian memperbaiki metode pengerjaan agar hasilnya lebih tahan lama.<\/p>\n<p>Selain itu, kondisi cuaca yang mulai membaik juga membantu proses perbaikan jalan.<\/p>\n<p>\u201cSekarang beberapa titik sudah hampir dua minggu masih kuat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan penambalan, relawan menggunakan jenis aspal cold mix yang dinilai lebih praktis untuk menutup lubang jalan berskala kecil.<\/p>\n<p>Jenis aspal tersebut berbeda dengan hot mix yang biasanya digunakan dalam pembangunan jalan skala besar dan harus dipanaskan terlebih dahulu.<\/p>\n<p>\u201cKalau hot mix harus dipanaskan dan biasanya untuk pekerjaan jalan besar. Untuk tambalan kecil tidak efisien,\u201d jelas Yusdeny.<\/p>\n<p>Karena itu, penggunaan cold mix dinilai lebih efektif bagi relawan yang bergerak cepat memperbaiki lubang jalan.<\/p>\n<p>Menurut Yusdeny, gerakan kecil yang dilakukan masyarakat ini setidaknya menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa perbaikan jalan oleh pemerintah tidak bisa dilakukan secara instan.<\/p>\n<p>Ia menyebutkan setiap proyek pembangunan infrastruktur harus melalui proses perencanaan yang matang sebelum pekerjaan fisik dimulai.<\/p>\n<p>\u201cSeperti yang sudah kami sampaikan kepada Pak Ketua dan Pak Bupati, kami sudah melaksanakan tahap perencanaan. Dalam perencanaan itu ada target waktu, mulai dari berapa lama proses perencanaan, pengadaan fisik, hingga pelaksanaan pembangunan,\u201d ujar Ansori.<\/p>\n<p>Ansori menegaskan bahwa pembangunan jalan tidak bisa disamakan dengan membeli barang yang langsung tersedia di pasar.<\/p>\n<p>Menurutnya, proyek pembangunan infrastruktur pemerintah harus mengikuti tahapan administrasi serta aturan pengadaan barang dan jasa.<\/p>\n<p>\u201cTidak semerta-merta seperti kita membeli barang. Beli sekarang lalu barang langsung ada. Pembangunan infrastruktur ada prosesnya, termasuk proses pengadaan untuk perencanaannya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dalam tahap perencanaan tersebut, berbagai aspek teknis harus dipersiapkan secara detail.<\/p>\n<p>Proses tersebut meliputi survei lapangan, pengukuran kondisi jalan, perhitungan kebutuhan anggaran, hingga penyusunan desain teknis pembangunan.<\/p>\n<p>\u201cProses perencanaan itu mulai dari menggambar, melakukan survei, menghitung kebutuhan anggaran, membuat desain dan berbagai tahapan teknis lainnya. Semua itu memiliki jangka waktu yang sudah diatur,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Ansori menambahkan bahwa tahapan perencanaan sangat penting untuk memastikan proyek pembangunan berjalan sesuai standar kualitas.<\/p>\n<p>Dengan proses tersebut, pemerintah daerah berharap pembangunan jalan nantinya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dan mampu bertahan dalam jangka waktu yang panjang.<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Imam Hairon<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69b6d3039ee7c\/Makelar-Akhirat-Tambal-Jalan-Rusak-Bondowoso-Yusdeny-Ini-Demi-Keselamatan-Warga\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Foto ilustrasi BERITA PLUS,BONDOWOSO \u2013 Kerusakan jalan yang tak kunjung tertangani membuat sejumlah relawan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-8647","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/5e31531a3438-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8647"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8647\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}