{"id":8853,"date":"2026-03-18T06:45:30","date_gmt":"2026-03-18T06:45:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/18\/terhimpit-infrastruktur-industri-sungai-kali-tengah-driyorejo-gresik-meluap-lagi\/"},"modified":"2026-03-18T06:45:30","modified_gmt":"2026-03-18T06:45:30","slug":"terhimpit-infrastruktur-industri-sungai-kali-tengah-driyorejo-gresik-meluap-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/18\/terhimpit-infrastruktur-industri-sungai-kali-tengah-driyorejo-gresik-meluap-lagi\/","title":{"rendered":"Terhimpit Infrastruktur Industri, Sungai Kali Tengah Driyorejo Gresik Meluap Lagi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">Peristiwa<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/03\/18\/4658f8e5462f.jpg\" alt=\"Terhimpit Infrastruktur Industri, Sungai Kali Tengah Driyorejo Gresik Meluap Lagi\"\/>\n            <\/div>\n<p>Banjir luapan sungai Kali Tengah kembali menerjang permukiman warga dan akses jalan di wilayah Kecamatan Driyorejo, Gresik. (Foto: Istimewa)<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, GRESIK<\/b> \u2013 Sejumlah wilayah di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik kembali dikepung banjir akibat luapan sungai Kali Tengah. Intensitas hujan yang turun selama sepekan terakhir membuat debit air sungai sepanjang kurang lebih 7,5 kilometer yang melintasi beberapa desa itu meluap dan menerjang permukiman dan akses jalan.<\/p>\n<p>Debit air sungai Kali Tengah mulai naik dan menggenangi permukiman warga hingga akses jalan di wilayah Kecamatan Driyorejo khususnya Desa Sumput pada Selasa (17\/3\/2026) sekitar 21.34 WIB. Kendati terpantau cepat surut, namun ketinggian air luapan sungai Kali Tengah itu mencapai rata-rata mencapai sekitar 30 sentimeter hingga 1 meter.<\/p>\n<p>\u201cTerjadi banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi dengan durasi yang cukup lama,\u201d kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik, Sukardi, Rabu (18\/3\/2026).<\/p>\n<p>Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gresik FX Driatmiko Herlambang melaporkan, banjir luapan debit air sungai Kali Tengah terjadi tidak hanya karena intensitas hujan yang turun selama sepekan terakhir. Tetapi juga karena buruknya sistem drainase dan kondisi sungai yang cukup memprihatinkan, kanan kiri terhimpit bangunan perusahaan, bahkan deretan jembatan penghubung yang di bangun di atas sungai.<\/p>\n<p>\u201cSistem drainase yang kurang memadai sehingga menyebabkan banjir di jalan dan permukiman, ditambah padatnya perusahaan dan juga jembatan-jembatan yang dibangun di atas sungai membuat luas sungai semakin sempit dan aliran air tidak lancar,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Menurut Miko, BPBD Gresik telah menerjunkan tim untuk melakukan penyisiran dan memantau kondisi warga terdampak. Sejauh ini dampak banjir luapan sungai Kali Tengah Driyorejo sudah mulai surut, tetapi bila intensitas hujan kembali tinggi dan belum ada normalisasi, maka tidak menutup kemungkinan debit air sungai akan kembali meluap dan banjir akan kembali menerjang permukiman warga dan sejumlah fasilitas umum, seperti jalan lingkungan, jalan poros desa, dan beberapa fasilitas lain.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini terpantau sudah surut, tapi kalau nanti hujan turun lagi dan belum ada normalisasi, maka akan meluap lagi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sebagaimana diketahui, kondisi sungai Kali Tengah yang menjadi penyebab utama banjir tahunan di sejumlah titik lokasi wilayah Kecamatan Driyorejo terutama Desa Sumput belakangan menjadi sorotan. Sejumlah pihak terkait termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR),\u00a0Komisi III DPRD Gresik hingga Pemerintah Kecamatan sejauh ini telah melakukan koordinasi, membahas upaya normalisasi secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kabupaten Gresik, Ubaidillah menuturkan, upaya normalisasi Kali Tengah hingga kini masih menemui sejumlah kendala, diantaranya deretan jembatan penghubung yang dibangun melintas di atas sungai, kemudian bangunan perusahaan-perusahaan besar yang berada di kanan kiri sungai.<\/p>\n<p>\u201cJadi kita sudah koordinasi dengan Pemprov dan DPRD Gresik Komisi III, pemerintah kecamatan dan desa, serta beberapa pijak terkait, dan memang salah satu kendala normalisasi adalah bangunan perusahaan-perusahaan besar yang berdiri di kanan kiri sungai, sekaligus jembatan-jembatan yang dibangun di atas sungai,\u201d kata Ubaidillah pada Senin (17\/3\/2026) kemarin.<\/p>\n<p>Ia menyebut, terdapat belasan perusahaan-perusahaan yang berdiri di kanan kiri sungai Kali Tengah, mayoritas perusahaan-perusahaan tersebut membangun jembatan penghubung yang melintas di atas sungai. Termasuk perusahaan modal asing (PMA).<\/p>\n<p>\u201cAda 11 sampai 18 perusahaan yang berdiri di kanan kiri sungai. Awalnya kita mendapat informasi ada salah satu perusahaan modal asing (PMA) membangun jembatan di atas sungai yang menjadi penyebab utama banjir, dan hal itu terdengar oleh Gubernur Jawa Timur, setelah itu kita bertemu dengan semua pihak untuk meminta klarifikasi,\u201d tandas dia.<\/p>\n<p>Hasil koordinasi, lanjut dia, seluruh pihak bersepakat untuk melakukan penanganan dengan mempercepat upaya normalisasi sungai secara menyeluruh agar aliran air berjalan lancar, terutama ketika memasuki musim hujan. Sehingga banjir tahunan di sejumlah titik lokasi di wilayah Kecamatan Driyorejo terutama memasuki musim hujan bisa teratasi.<\/p>\n<p>\u201cHasil identifikasi, Kali Tengah ini menjadi penyebab utama banjir yang melanda wilayah Kecamatan Driyorejo terutama Desa Sumput. Jadi normalisasi harus segera dilakukan, dan kami optimis akan segera terlaksana,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Dinas PUTR Kabupaten Gresik memastikan seluruh pihak termasuk perusahaan-perusahaan yang berdiri di kanan kiri sungai Kali Tengah bersedia kooperatif dan komitmen mengikuti arahan serta rencana normalisasi sungai secara menyeluruh.<\/p>\n<p>\u201cSeluruh perusahaan yang berdiri di kanan kiri sungai kooperatif dan siap melakukan perintah rencana normalisasi. Saat ini dinas perizinan baik daerah dan provinsi juga sedang berprogres terkait izin jembatan-jembatan tersebut, harusnya izinnya ke brantas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Camat Driyorejo Muhammad Amri menegaskan telah memerintahkan perusahaan-perusahaan untuk membongkar kontruksi jembatan yang dibangun terlalu rendah hingga berpotensi membuat aliran sungai tersendat ketika debit air meningkat. Menurutnya, saat ini baru ada tiga dari tujuh perusahaan si sepanjang wilayah sungai yang sudah melakukan peninggian jembatan penghubung.<\/p>\n<p>\u201cIni bentuk aksi tindak lanjut kami dalam jangka pendek, dalam proses perjalanannya sampai saat ini, dari 7 perusahaan baru 3 perusahaan yang sudah melakukan peninggian jembatan di atas sungai, dan masih banyak hal yang diperlukan koordinasi dengan berbagai pihak agar solusi secara komprehensif dapat dicapai dalam penanggulangan banjir di Kecamatan Driyorejo,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Wakil Ketua III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi meminta agar pihak-pihak terkait segera mengambil tindakan tegas dan mencari solusi terbaik guna mengatasi beberapa persoalan yang menjadi penyebab terjadinya banjir di wilayah Kecamatan Driyorejo terutama di Desa Sumput. Termasuk mendesak perusahaan-perusahaan untuk melakukan penertiban jembatan yang dibangun terlalu rendah di atas sungai.<\/p>\n<p>\u201cPertama kami mendesak perusahaan-perusahaan agar melakukan peninggian jembatan yang dibangun di atas sungai. Kedua mengembalikan lagi fungsi saluran, karena banyak saluran yang beralih fungsi menjadi tempat usaha sehingga terjadi penyempitan. Ketiga melakukan penataan koneksitas saluran air agar terhubung dengan saluran induk. Kami juga mendukung terkait penertiban jembatan yang dibangun terlalu rendah di atas sungai,\u201d pungkasnya. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Rifki Ahmad<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/peristiwa\/69ba3fe3dcf87\/Terhimpit-Infrastruktur-Industri-Sungai-Kali-Tengah-Driyorejo-Gresik-Meluap-Lagi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peristiwa Banjir luapan sungai Kali Tengah kembali menerjang permukiman warga dan akses jalan di wilayah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8854,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-8853","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f-300x180.jpg",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",640,384,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",640,384,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f.jpg",750,450,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4658f8e5462f-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8853","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8853"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8853\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8854"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8853"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8853"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8853"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}