{"id":9578,"date":"2026-03-30T13:58:00","date_gmt":"2026-03-30T13:58:00","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/30\/puter-kayun-banyuwangi-ritual-warga-boyolangu-di-bulan-syawal-yang-sarat-makna-leluhur\/"},"modified":"2026-03-30T13:58:00","modified_gmt":"2026-03-30T13:58:00","slug":"puter-kayun-banyuwangi-ritual-warga-boyolangu-di-bulan-syawal-yang-sarat-makna-leluhur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/30\/puter-kayun-banyuwangi-ritual-warga-boyolangu-di-bulan-syawal-yang-sarat-makna-leluhur\/","title":{"rendered":"Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Warga Boyolangu di Bulan Syawal yang Sarat Makna Leluhur"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/03\/30\/4b94c68b3d0e.jpg\" alt=\"Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Warga Boyolangu di Bulan Syawal yang Sarat Makna Leluhur\"\/>\n            <\/div>\n<p>Dokar hias dalam tradisi Puter Kayun warga Boyolangu Banyuwangi. (Foto: Istimewa).<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, BANYUWANGI \u2013 <\/b>Warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Puter Kayun yang rutin dilaksanakan setiap 10 Syawal. Ritual ini menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga hingga kini.<\/p>\n<p>Puter Kayun merupakan bentuk napak tilas sekaligus wujud menepati janji kepada leluhur yang diyakini berjasa membuka akses di wilayah utara Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan dengan arak-arakan dokar hias dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.<\/p>\n<p>Sejak pagi, dua dokar yang telah dihias tampak siap digunakan dalam prosesi tersebut. Para kusir juga bersiap mengawal jalannya ritual, termasuk Abdul Mufid (65), yang sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai kusir delman.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama warga di sini. Yang paling penting dalam tradisi ini adalah napak tilasnya,\u201d ujar Mufid.<\/p>\n<p>Ketua panitia Puter Kayun, Risyal Alfani, menjelaskan tradisi ini berkaitan erat dengan sosok Ki Buyut Jakso yang dipercaya sebagai tokoh pembuka jalan di kawasan utara Banyuwangi.<\/p>\n<p>\u201cKonon saat membuka jalan di wilayah utara, Belanda meminta bantuan Ki Buyut Jakso karena ada gundukan yang sulit dibongkar. Setelah bersemedi, beliau berhasil membuka jalur tersebut yang kemudian dikenal sebagai Watu Dodol,\u201d jelas Risyal.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, Ki Buyut Jakso berpesan agar keturunannya terus melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya.<\/p>\n<p>\u201cDulu mayoritas warga Boyolangu berprofesi sebagai kusir, sehingga napak tilas dilakukan menggunakan dokar,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Namun pada pelaksanaan tahun ini, arak-arakan dokar tidak sepenuhnya menuju Pantai Watu Dodol. Kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang membuat rute hanya diputar di kawasan kota.<\/p>\n<p>Sejumlah warga yang biasanya mengikuti iring-iringan menggunakan mobil juga harus beralih ke sepeda motor agar tetap bisa mengikuti jalannya tradisi.<\/p>\n<p>Pelaksana Tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyebut Puter Kayun menjadi bagian penting dari pelestarian budaya lokal sekaligus potensi wisata daerah.<\/p>\n<p>\u201cBanyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk Puter Kayun Boyolangu. Selain menjaga warisan budaya, ini juga menjadi daya tarik wisata,\u201d kata Hartono.<\/p>\n<p>Sebelum puncak acara, warga lebih dulu menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Boyolangu Traditional Culture. Kegiatan diawali dengan Lebaran Kopat pada 7 Syawal, dilanjutkan tradisi Kebo-keboan pad<span style=\"font-size: 1rem;\">a 9 Syawal. (*)<\/span><\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69ca7ac0ebcc2\/Puter-Kayun-Banyuwangi-Ritual-Warga-Boyolangu-di-Bulan-Syawal-yang-Sarat-Makna-Leluhur\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Dokar hias dalam tradisi Puter Kayun warga Boyolangu Banyuwangi. (Foto: Istimewa). BERITA PLUS, BANYUWANGI&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9579,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-9578","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e-300x176.jpg",300,176,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",640,375,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",640,375,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e.jpg",750,440,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/4b94c68b3d0e-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9578"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9578\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}