{"id":9687,"date":"2026-03-31T10:53:57","date_gmt":"2026-03-31T10:53:57","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/31\/dermaga-terbatas-operasional-kapal-di-pelabuhan-ketapang-tak-maksimal\/"},"modified":"2026-03-31T10:53:57","modified_gmt":"2026-03-31T10:53:57","slug":"dermaga-terbatas-operasional-kapal-di-pelabuhan-ketapang-tak-maksimal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/2026\/03\/31\/dermaga-terbatas-operasional-kapal-di-pelabuhan-ketapang-tak-maksimal\/","title":{"rendered":"Dermaga Terbatas, Operasional Kapal di Pelabuhan Ketapang Tak Maksimal"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"wrap-pic-max-w m-b-5 pos-relative\">\n              <span class=\"dis-sub-item-tag\">News<\/span><br \/>\n              <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.suaranetwork.com\/images\/2026\/03\/31\/c1fb240ef0ce.jpg\" alt=\"Dermaga Terbatas, Operasional Kapal di Pelabuhan Ketapang Tak Maksimal\"\/>\n            <\/div>\n<p>Kapal menunggu giliran sandar di Pelabuhan Ketapang saat antrean memanjang. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin\/suaraindonesia.co.id).<\/p>\n<p><b>BERITA PLUS, BANYUWANGI \u2013<\/b> Kemacetan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menjadi perhatian banyak pihak. Sejumlah kapal disebut tidak dapat beroperasi optimal, meski jumlah armada dinilai mencukupi selama angkutan Lebaran 2026.<\/p>\n<p>Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP) Jawa Timur, I Putu Gede Widiana mengatakan, persoalan utama bukan terletak pada jumlah kapal, melainkan keterbatasan fasilitas dermaga.<\/p>\n<p>\u201cKami sudah menyiapkan sekitar 55 kapal, bahkan ada tambahan dari lintasan lain. Kondisi kapal siap operasi, tapi hampir 50 persen tidak bisa maksimal karena dermaga terbatas,\u201d ujar Putu, Selasa (31\/3\/2026).<\/p>\n<p>Kondisi tersebut, kata dia, membuat banyak kapal harus menunggu giliran sandar dalam waktu lama, sehingga pelayanan kepada pengguna jasa menjadi tidak optimal.<\/p>\n<p>\u201cBukan armadanya yang kurang, tapi tempat sandarnya yang terbatas. Ini yang membuat antrean semakin panjang,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, ketidakseimbangan antara jumlah kapal dan kapasitas dermaga berdampak pada penurunan jumlah perjalanan (trip) kapal. Akibatnya, daya angkut penumpang dan kendaraan juga ikut menurun.<\/p>\n<p>\u201cTarget trip tidak tercapai karena kapal lebih banyak menunggu. Ini jelas merugikan semua pihak,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain berdampak pada operasional kapal, kondisi ini juga berimbas pada masyarakat luas. Antrean panjang menyebabkan pemborosan bahan bakar, meningkatnya risiko kecelakaan, hingga potensi kerusakan barang logistik.<\/p>\n<p>\u201cEkonomi juga terdampak. Distribusi barang terhambat, biaya membengkak, dan akhirnya bisa berpengaruh pada harga kebutuhan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Putu juga menyoroti penerapan pola operasional yang dinilai belum efektif di tengah kondisi kepadatan dari dua arah.<\/p>\n<p>\u201cPola ini bisa efektif kalau dermaga cukup dan kepadatan hanya di satu sisi. Tapi sekarang dua-duanya padat, sehingga tidak maksimal,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Pihaknya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dengan menambah jumlah dermaga dan meningkatkan kapasitas pelabuhan.<\/p>\n<p>\u201cKami minta ada roadmap yang jelas, kapan penambahan dermaga dimulai. Kebutuhan ini sudah mendesak,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan, dengan semakin terhubungnya jalur darat seperti tol hingga wilayah Besuki, potensi lonjakan kendaraan akan semakin besar jika tidak diantisipasi sejak dini.<\/p>\n<p>\u201cKalau tidak segera dibenahi, antrean bisa lebih panjang lagi ke depan. Ini harus jadi perhatian serius agar masyarakat tidak terus dirugikan,\u201d tutur Putu. (*)<\/p>\n<p><strong>\u00bb Klik berita lainnya di Google News <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqBwgKMLiemwsw_KizAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen\" target=\"_blank\">BERITA PLUS<\/a><\/strong><\/p>\n<table>\n<tr>\n<td><strong>Pewarta<\/strong><\/td>\n<td>: Muhammad Nurul Yaqin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Editor<\/strong><\/td>\n<td>: Mahrus Sholih<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>            <!-- Tag --><\/p>\n<p>            <!-- Share --><\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id_ID\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=615085048560626&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"yahlLMZo\"><\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/suaraindonesia.co.id\/news\/news\/69cba70b3bbc1\/Dermaga-Terbatas-Operasional-Kapal-di-Pelabuhan-Ketapang-Tak-Maksimal\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>News Kapal menunggu giliran sandar di Pelabuhan Ketapang saat antrean memanjang. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin\/suaraindonesia.co.id)&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9688,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-9687","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-newsbeat"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"thumbnail":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce-300x176.jpg",300,176,true],"medium_large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",640,375,false],"large":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",640,375,false],"1536x1536":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"2048x2048":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"covernews-slider-full":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"covernews-slider-center":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"covernews-featured":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce.jpg",750,440,false],"covernews-medium":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce-540x340.jpg",540,340,true],"covernews-medium-square":["https:\/\/beritaplus.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/c1fb240ef0ce-400x250.jpg",400,250,true]},"author_info":{"info":["Redaksi"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/category\/newsbeat\/\" rel=\"category tag\">Newsbeat<\/a>","tag_info":"Newsbeat","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9687","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9687"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9687\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9687"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9687"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaplus.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9687"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}