Jatim Perluas Pasar Ekspor Non-Tradisional, Industri Otomotif Jadi Penopang Hadapi Gejolak Global
Pembukaan IIMS Surabaya 2026 (Istimewa)
BERITA PLUS, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memperkuat strategi perluasan pasar ekspor non-tradisional sebagai langkah mitigasi menghadapi ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi menekan kinerja ekonomi daerah.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang selama ini ditopang kuat oleh sektor riil, khususnya industri manufaktur, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Disperindag Jawa Timur, Iwan, saat membuka International Indonesia Motor Show (IIMS) Surabaya 2026 di Grand City Mall Surabaya, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, struktur ekonomi Jawa Timur berbeda dengan daerah yang didominasi sektor jasa keuangan. Sebanyak 31 persen perekonomian Jatim ditopang industri pengolahan, disusul sektor perdagangan sebesar 18,77 persen dan pertanian 10,5 persen, sehingga lebih rentan terhadap gejolak ekonomi global.
“Dengan adanya geopolitik yang berdampak terhadap perekonomian, kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus membangun komitmen pasar-pasar non-tradisional yang tentunya tidak akan berdampak secara langsung, sehingga pertumbuhan ekonomi dan perekonomian masyarakat, khususnya UMKM sebagai backbone, tidak terjerumus dalam pertumbuhan yang rendah,” ujar Iwan.
Strategi diversifikasi pasar tersebut diperkuat oleh kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur yang tetap menunjukkan tren positif. Pada 2025, neraca perdagangan Jatim mencatat surplus sebesar Rp210,1 triliun. Kinerja itu berlanjut pada triwulan I 2026 dengan surplus mencapai Rp54,25 triliun. Capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa daya saing produk Jawa Timur masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Salah satu sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap surplus perdagangan adalah industri otomotif. Nilai perdagangan subsektor mobil, sepeda motor, serta jasa reparasinya mencapai Rp140,84 triliun pada 2023, meningkat menjadi Rp149,67 triliun pada 2024 dan tetap tinggi di angka Rp148,58 triliun pada 2025. Sementara itu, ekspor produk otomotif Jawa Timur melonjak menjadi 510,22 juta dolar AS pada 2025, setelah sebelumnya tercatat 447,17 juta dolar AS pada 2023 dan 442,25 juta dolar AS pada 2024. Produk otomotif asal Jawa Timur kini telah menembus pasar Jepang, Amerika Serikat, hingga Timor Leste.
Di sisi lain, pengelolaan impor otomotif juga dinilai relatif terkendali. Nilai impor yang mencapai 319,11 juta dolar AS pada 2023 turun menjadi 272,18 juta dolar AS pada 2024, sebelum kembali meningkat menjadi 340,68 juta dolar AS pada 2025. Meski demikian, nilai ekspor yang lebih tinggi membuat neraca perdagangan otomotif Jawa Timur tetap berada dalam posisi surplus.
Hingga Mei 2026, ekosistem industri otomotif Jawa Timur terus berkembang dengan keberadaan 183 unit usaha yang mencakup industri kendaraan, karoseri, hingga komponen dan suku cadang. Struktur industri tersebut terdiri atas 66 industri besar, 19 industri menengah, dan 97 industri kecil yang saling terhubung dalam rantai pasok, menciptakan ekosistem yang inklusif dan berdaya saing.
Meski mencatatkan performa positif, Disperindag Jatim mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap perlambatan sektor manufaktur global. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global per April 2026 menunjukkan indeks berada di level 49,1 atau sedikit di bawah batas ekspansi 50,0.
“Penurunan tipis ini mengindikasikan adanya tekanan akibat perlambatan ekonomi global, disrupsi rantai pasok, dan dinamika geopolitik internasional,” kata Iwan.
Karena itu, penyelenggaraan IIMS Surabaya 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat optimisme industri, memperluas jejaring bisnis, serta mendorong adopsi teknologi kendaraan ramah lingkungan. Ajang tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing industri otomotif nasional sekaligus membuka peluang pasar baru bagi produk-produk manufaktur Jawa Timur di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang.
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
