October 16, 2026

Ketukan Palu di Kesongo: Saat Loreng TNI Jadi ‘Anak’ Bagi Mbah Sarijan

0


Features
Ketukan Palu di Kesongo: Saat Loreng TNI Jadi ‘Anak’ Bagi Mbah Sarijan

Mbah Saridan bersama dengan Satgas TMMD saat memperbaiki jembatan di Dusun Kedungpandan, Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. (Foto: dok. Suara Indonesia)

BERITA PLUS, BOJONEGORO – Matahari sore mulai condong ke barat di Dusun Kedungpandan, Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem. Udara kering khas Kabupaten Bojonegoro menyisakan hawa panas yang perlahan melandai. Di sebuah pelataran rumah kayu yang bersahaja, seorang pria sepuh berdiri memandangi jembatan kayu kecil di depan rumahnya.

Ia adalah Mbah Sarijan. Usianya sudah menapak 71 tahun. Guratan-guratan di wajahnya adalah saksi bisu perjalanan waktu. Sore itu, dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia berniat merapikan bilah-bilah kayu jembatan lintasan rumahnya yang mulai renggang dan membahayakan untuk dilewati.

Namun, sebelum jemari tuanya yang bergetar sempat mengayunkan palu, dua pasang tangan kekar berpakaian loreng mendahuluinya.

“Biar kami saja, Mbah. Simbah istirahat saja,” ucap Prada Saiful Fery Ardiansyah lembut, Senin (3/8/2026).

Prada Saiful tidak datang sendiri. Bersama rekannya, sesama anggota Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, mereka langsung mengambil alih pekerjaan. Padahal, beberapa jam sebelumnya, kedua prajurit muda ini baru saja memeras keringat, menembus batas lelah menyelesaikan sasaran fisik utama program TMMD di desa tersebut.

Bagi mereka, jam dinas formal mungkin sudah usai saat peluit sore berbunyi. Namun, bagi nurani seorang prajurit, pengabdian kepada rakyat tidak mengenal arloji.

Melihat halaman rumah Mbah Sarijan yang mulai rimbun oleh semak belukar, Prada Saiful dan rekannya langsung bergerak cepat. Sebilah sabit dan cangkul berayun ritmis. Rumput-rumput liar yang mengganggu pemandangan dalam sekejap bersih rapi.

Pemandangan paling menyentuh terlihat saat mereka bahu-membahu memperbaiki jembatan kayu penyeberangan menuju halaman rumah. Dengan cekatan, sang prajurit memaku kembali bilah-bilah kayu yang longgar, memastikannya kokoh dan aman agar sang kakek tak terantuk atau terperosok saat melangkah keluar rumah.

“Tugas kami di sini bukan hanya membangun jalan atau fasilitas umum secara formal,” ujar Saiful di sela-sela kegiatannya, menyeka bulir keringat di dahinya dengan lengan baju.

 “Kami hadir untuk menjadi bagian dari keluarga besar warga Desa Kesongo. Melihat Mbah Sarijan bekerja sendiri di usia senja, hati kami tergerak spontan. Ini soal empati,” lanjutnya.

Mbah Sarijan hanya bisa terpaku. Matanya berkaca-kaca menatap kedua pemuda tegap yang begitu tulus mengurusi rumahnya. Senyum haru mengembang di wajahnya yang keriput.

Di desa terpencil seperti Kesongo, kehadiran Satgas TMMD ke-129 laksana embusan angin segar yang membawa keceriaan dan rasa aman. Bagi Mbah Sarijan, bantuan ini jauh lebih bernilai daripada sekadar perbaikan kayu. Ini adalah obat bagi kesepian di usia senjanya.

“Saya sangat senang dan berterima kasih sekali. Mas-mas tentara ini sudah seharian kerja keras bangun desa, sorenya masih mau bantu saya merapikan jembatan dan pekarangan. Rasanya seperti dibantu anak sendiri,” ungkap Mbah Sarijan, suaranya agak bergetar karena emosi yang meluap.

Ketika senja benar-benar turun dan pekerjaan selesai, kebersamaan itu tidak langsung bubar. Ruang semenjana di teras rumah Mbah Sarijan menjelma menjadi panggung kemanunggalan yang hangat.

Ditemani secangkir minuman hangat dan kudapan sederhana yang disajikan dengan penuh rasa hormat oleh sang pemilik rumah, canda tawa pecah di antara mereka. Obrolan mengalir tanpa sekat, meruntuhkan batas antara seragam militer dan baju harian warga sipil.

Aksi humanis yang ditunjukkan oleh Prada Saiful Fery Ardiansyah dan rekannya adalah potret kecil dari kanvas besar TMMD ke-129 di Bojonegoro. Kisah di teras rumah Mbah Sarijan menegaskan kembali bahwa roh utama dari program TNI Manunggal Membangun Desa bukan sekadar tentang angka-angka capaian infrastruktur fisik atau berapa kilometer jalan yang berhasil dicor.

Lebih dari itu, TMMD adalah tentang merajut kembali ikatan kebatinan, menyuntikkan kembali roh gotong royong yang mulai mengikis, dan membangun jembatan persaudaraan yang kokoh tak terpatahkan antara TNI dan rakyat.

Sore itu di Dusun Kedungpandan, sebuah jembatan kayu telah selesai diperbaiki. Bersamaan dengan itu, sebuah jembatan hati antara prajurit TNI dan rakyatnya telah selesai dibangun jembatan yang fondasinya adalah ketulusan, dan pakunya adalah cinta kepada tanah air. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Aji Susanto
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *