October 17, 2026

Puluhan Tahun Dirawat, Tradisi Endog-Endogan Banyuwangi Tetap Semarak di Tengah Zaman

0


Budaya
Puluhan Tahun Dirawat, Tradisi Endog-Endogan Banyuwangi Tetap Semarak di Tengah Zaman

Warga Kembiritan meriahkan tradisi Endog-Endogan memperingati Maulid Nabi. (Foto: Istimewa).

BERITA PLUS, BANYUWANGI – Warga Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Endog-Endogan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (25/8/2026).

Tradisi yang sudah berlangsung selama 28 tahun itu kembali melibatkan ribuan warga. Selain menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, Endog-Endogan menjadi momentum masyarakat memperkuat kebersamaan dan gotong royong.

Perayaan tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Ia mengapresiasi konsistensi warga Kembiritan dalam mempertahankan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam tiga tahun terakhir, Endog-Endogan Kembiritan juga masuk dalam kalender agenda wisata tahunan Banyuwangi Attractions.

“Pemkab Banyuwangi mengapresiasi Pemdes dan seluruh masyarakat Kembiritan yang gotong royong terus menjaga tradisi ini hingga 28 tahun. Kita berharap Endog-Endogan terus lestari dan tidak luntur oleh perkembangan zaman, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong,” ujar Bupati Ipuk saat menghadiri perayaan tersebut.

Menurut Ipuk, nilai utama Endog-Endogan tidak hanya terletak pada kemeriahan pawai maupun kreativitas yang ditampilkan warga. Tradisi tersebut juga mencerminkan semangat kebersamaan yang relevan dengan peringatan Maulid Nabi.

“Di tengah perkembangan teknologi dan kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis, tradisi seperti Endog-Endogan dan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim menunjukkan bahwa semangat guyub rukun dan gotong royong warga masih kuat. Ini yang harus terus kita rawat,” kata Ipuk.

Ia menilai keterlibatan masyarakat juga dibutuhkan dalam pembangunan daerah. Pemerintah, kata Ipuk, memiliki keterbatasan sehingga dukungan warga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan masing-masing.

“Tangan pemerintah tentu terbatas. Karena itu, partisipasi aktif masyarakat seperti ini sangat penting. Ketika masyarakat guyub, saling membantu dan peduli, tentu banyak persoalan yang bisa diselesaikan bersama,” imbuhnya.

Kepala Desa Kembiritan Sukamto menjelaskan, Endog-Endogan telah melekat dalam kehidupan masyarakat setempat sejak hampir tiga dekade lalu.

“Tradisi ini diwariskan oleh para leluhur kami sejak 28 tahun lalu. Awalnya, perarakan kembang telur atau endog-endogan hanya dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung warga RT/RW,” jelas Sukamto.

Pelaksanaan tradisi tersebut terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada perayaan kali ini, sekitar 1.500 orang mengikuti pawai yang terbagi dalam 19 kelompok kreasi budaya.

Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, termasuk lembaga pendidikan, yayasan, serta kelompok masyarakat di Desa Kembiritan.

“Sekarang perkembangannya luar biasa. Hampir seluruh lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat ikut terlibat di tradisi besar ini. Hal ini menunjukkan bahwa Endog-Endogan sudah menjadi milik bersama masyarakat Kembiritan,” ujarnya.

Pawai dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 09.30 WIB. Sepanjang kegiatan, warga menampilkan beragam kreasi sebagai bagian dari perayaan tradisi.

Keberadaan Endog-Endogan sekaligus menjadi upaya masyarakat Kembiritan mempertahankan warisan budaya agar tetap dikenal generasi berikutnya. Tradisi tersebut juga menjadi ruang berkumpul warga sekaligus memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *