FPTP Kolaborasi dengan Google Gelar Pelatihan Transformasi Pesantren Lewat Pemanfaatan AI
Redaksi
– 30 August 2026 | 20:08 – Dibaca 0 kali
FPTP kolaborasi dengan Google menggelar Pelatihan Transformasi Pesantren lewat Pemanfaatan AI di Aula Nyai Hj Nur Khodijah MTsN 4 Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, JOMBANG – Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) bekerjasama dengan Google, Kaizen, Sae Karya Sejahtera, dan didukung penuh oleh BRI, menggelar Pelatihan Transformasi Pesantren Melalui Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Ekonomi Digital, Jumat (28/8/2026).
Adapun kegiatan digelar di Aula Nyai Hj Nur Khodijah MTsN 4 Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang, dihadiri Dewan Pembina FPTP Dr HC Muhaimin Iskandar, yang juga menjabat Menko Pemberdayaan Masyarakat RI.
Lebih lanjut, pelatihan selama sehari penuh ini, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan literasi digital SDM pesantren mengenai konsep dan pemanfaatan AI.
Selain itu juga untuk membangun kesiapan SDM pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.
Tidak kalah penting, pelatihan tersebut bertujuan mendukung terwujudnya pesantren yang adaptif, komunikatif, dan kompetitif tanpa meninggalkan identitas, ciri khas, dan tradisi pesantren.
“Pelatihan AI dan ekonomi digital harus terus-menerus dilakukan. Bisa jadi para pencipta AI sudah memprediksi dan mendesain. Mengeluarkannya dicicil, sementara pesantren korban cicilannya. Kalau lihat film-film Amerika, sejak tahun 1970-an, semua sudah ada,” ujar Gus Muhaimin.
“Mestinya pesantren tahu lebih dulu. Akhirat itu kan pesantren lebih dulu tahu. Ada Bu Nyai ceramahnya sangat bagus, ternyata saat ditanya, mengaku pakai chatgpt. Fintech itu juga melebihi apa yang kita bayangkan. Saya ketika ditanya, apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia, saya jawab salah satunya qris,” lanjutnya.
Menurut Gus Muhaimin, Pesantren bukan sekadar tempat untuk mengaji, tapi harus diletakkan sebagai pusat ilmu pengetahuan, dan pusat kemajuan.
“Perencanaan pesantren sebagai pusat ilmu pengetahuan dan perekonomian itu sudah direncanakan sejak awal dulu zaman Mbah Hasyim dan Mbah Bisri,” katanya.
“Terimakasih pada FPTP. Lembaga ini lahir dari hasil keprihatinan situasi pesantren. Maka harus ada reformasi dengan melakukan kesungguhan percepatan. Bahkan kemajuan fisik sekalipun tidak menjamin tidak adanya ketertinggalan itu. Semoga FPTP terus mendorong percepatan transformasi pesantren ini,” tandasnya.
Direktur FPTP KH Saifullah Ma’shum mengatakan AI adalah instrumen untuk memberdayakan santri maupun pengurus pesantren.
“Di tengah-tengah forum muktamar, kita ikut memikirkan nasib pesantren 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Jika semua yang hadir di sini diberi asupan yang baik-baik, baik terkait metodologi, sistem, dan pemanfaatan teknologi digital, insyallah masa depan pesantren akan lebih baik,” ujarnya.
Ia menyebut, FPTP merupakan sebuah forum agar ke depan pesantren di tengah keroyokan beragam ideologi pendidikan modern, mampu bertahan dan beradaptasi.
“Dua tahun terakhir terjadi kemerosotan animo masyarakat memasukkan anaknya ke pesantren karena ada framing negatif kekerasan seksual, dan diviralkan kelompok yang sejak awal tidak rela pesantren menjaga moral bangsa. Berhasil mereka mem-framing itu,” ungkap Kiai Saifullah Ma’shum.
Ada dua narasumber kegiatan, yakni Rizqika Alya Anwar (Master Trainer AI Ready ASEAN dan Project Officer Kaizen Collaborative Impact) serta Andi Taru (CEO Educa Studio, Gamelab and Co-Founder PesantrenMandiri.id).
Rizqika mengatakan program AI Ready ASEAN tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga di seluruh negara ASEAN. “AI atau akal imitasi bisa digunakan untuk banyak hal. Ada chatgpt, gemini, meta, deepseek, grok, itu semua AI generatif,” ujar Rizqika.
“Ada juga AI Rekomendasi, yakni AI yang memberi rekomendasi, misalnya soal produk yang mau dibeli, hingga iklan yang muncul akibat kita memberi akses audio. Ada pula AI Prediksi, misalnya AI yang memprediksi kemacetan jalan,” imbuhnya.
Sementara itu, Andi Taru sebagai pemateri berikutnya mengenalkan Sandaya (Pesantren dan Santri Berdaya), yakni program kerjasama FPTP dengan Educa Group untuk penguatan ekonomi digital pesantren.
“Medsos itu sebenarnya tidak gratis, tapi kita bayar dengan waktu yang kita habiskan. Bagaimana cara dapat duitnya? Ketika aplikasi digunakan, akan muncul iklan. Nah iklan inilah yang membayar,” ujar Andi.
Menurut Andi, jika membuat konten, sebaiknya yang bermanfaat. “Jika kita mengonsumsi konten yang tidak bagus, FYP, konten itu yang akan naik terus. Itu prinsip dasar ekonomi digital. Semangatnya adalah bagaimana pesantren bisa menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar kuat,” ujar Andi.
Peserta pelatihan adalah para pengasuh pesantren mulai dari kiai, gus, bu nyai, ning, serta para aktivis organisasi maupun santri-santri dari berbagai ponpes di Jombang. (Adv)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Redaksi |
| Editor | : Satria Galih Saputra |
