167 Jenis Herbal Langka Dirawat Puluhan Tahun, Haji Slamet Ingin Banjarnegara Jadi Sentra Dunia
Haji Slamet Sugiarto saat meracik ramuan herbal di Griya Bina Sehat, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. (Foto: Iwan Setiawan/Suara Indonesia)
BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Berawal dari hobi menanam sejak muda, Haji Slamet Sugiarto selama puluhan tahun menekuni tanaman herbal. Dari kegemarannya tersebut, ia kemudian mengembangkan Griya Bina Sehat di Desa Gumelem Kukon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sejak era 1980-an.
Kini, kebun yang dirawatnya menjadi rumah bagi ratusan koleksi tanaman herbal. Bahkan, ketika memasuki musim kemarau, masih terdapat sekitar 167 jenis tanaman yang tetap tumbuh dan dirawat di tempat tersebut.
Sebagian di antaranya merupakan tanaman herbal langka yang terus dibudidayakan agar keberadaannya tidak hilang.
Haji Slamet mengatakan, koleksi tanaman yang dimilikinya tidak hanya berupa tanaman herbal yang umum dikenal masyarakat. Ia juga sengaja mempertahankan berbagai jenis tanaman yang tergolong langka.
“Kalau tidak sedang musim hujan, atau musim terang, itu masih ada sekitar 167 jenis tanaman. Khususnya tanaman-tanaman yang bukan generik, termasuk herbal-herbal langka,” ujar Haji Slamet kepada Suara Indonesia, Kamis (17/9/2026).
Pengetahuan mengenai tanaman herbal diperolehnya dari sejumlah guru, termasuk profesor dari Amerika Latin dan Malaysia. Pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan melalui budidaya tanaman sekaligus pemanfaatannya untuk ramuan herbal.
Sejumlah tanaman dipanen sesuai kebutuhan pasien, kemudian diolah menjadi ramuan. Sebelum meracik, Haji Slamet terlebih dahulu memeriksa pasien, salah satunya melalui pemeriksaan denyut nadi.
Pasien yang datang pun berasal dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Banjarnegara dan wilayah Jawa Tengah, tetapi juga dari luar pulau hingga mancanegara.
Menurut Haji Slamet, pasien datang dari Kalimantan, Batam, Jakarta, Semarang, Solo, Klaten, hingga Yogyakarta. Bahkan, beberapa kali ia menerima pasien dari Amerika.
“Kalau yang datang ke sini sampai sekarang itu dari Kalimantan, dari Batam, terus bahkan dari Amerika sudah ada beberapa kali. Untuk daerah sini, Klaten, Solo, Jogja juga banyak, Semarang, Jakarta termasuk banyak,” katanya.
Jumlah pasien yang datang juga cukup banyak. Dalam satu bulan, Griya Bina Sehat rata-rata menerima sekitar 600 hingga 700 pasien dari berbagai daerah.
Keluhan yang disampaikan pun beragam. Haji Slamet menyebut, pasien dari Jakarta antara lain datang dengan keluhan penyakit jantung, diabetes, sirosis, kanker payudara, hingga gangguan pada otak.
Sementara pasien dari luar daerah juga banyak yang datang dengan kondisi komplikasi, seperti gangguan ginjal, jantung, dan liver.
Salah satu pasien, Sumarno asal Banyumas, datang setelah mendapat informasi dari keluarganya. Ia mengaku mengalami keluhan pada bagian mata. Setelah diperiksa, Sumarno mendapatkan jamu dan tetes mata. Ia mengaku keluhan yang dirasakannya kemudian berkurang.
“Setelah itu agak mendingan, berkurang sakitnya. Habis ditetes pagi-pagi, bangun tidur keluar semua kotorannya dari mata,” ujar Sumarno.
Pengalaman lainnya disampaikan Khamali. Ia mengaku datang ke Griya Bina Sehat pada malam hari karena mengalami gangguan pada kandung kemih.
Khamali mengatakan, setelah diperiksa, ia mendapatkan ramuan herbal. Ia kemudian mengaku pada pagi harinya mengalami perubahan yang menurutnya berkaitan dengan keluhan yang dirasakannya.
“Saya diperiksa malamnya, terus paginya langsung keluar. Karena ini memang pakai obat khusus, bukan yang generik, tapi herbal semua,” kata Khamali.
Griya Bina Sehat tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan ramuan herbal. Haji Slamet juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai jenis tanaman, cara merawat, serta pemanfaatannya.
Baginya, edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya mengenal herbal sebagai bahan ramuan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kelestarian tanaman.
Dari hobi yang ditekuninya sejak era 1980-an, Haji Slamet kini memiliki mimpi lebih besar. Ia berharap kekayaan tanaman herbal yang ada di Banjarnegara terus dikembangkan dan dikenal hingga mancanegara.
Ia pun bermimpi suatu saat Banjarnegara mampu berkembang menjadi salah satu sentra herbal dunia. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Iwan Setiawan |
| Editor | : Alfiana Putri |
