September 24, 2026

Dua Menu MBG SPPG Sukorejo 2 Blora Positif Bacillus cereus

0



Team Work
23 September 2026 | 11:09 Dibaca 0 kali

News
Dua Menu MBG SPPG Sukorejo 2 Blora Positif Bacillus cereus

Foto: Dinkesda Blora saat sidak SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, terkait dugaan keracunan makanan dalam program MBG. (Foto: Dok. Suara Indonesia)

BERITA PLUS, BLORA – Hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, akhirnya terungkap.

Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora menemukan bakteri Bacillus cereus pada dua sampel makanan yang disajikan kepada penerima manfaat MBG pada Senin (7/9/2026).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Nur Betsia Bertawati mengatakan pemeriksaan laboratorium dilakukan setelah tim surveilans bersama tim terkait melakukan pemeriksaan ke lokasi SPPG.

Pemeriksaan dilakukan di dua laboratorium, yakni Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blora dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

“Hasil pemeriksaan di Labkesda menunjukkan air sumur mengandung bakteri E. coli melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Sementara sampel air minum yang diperiksa dinyatakan normal dan tidak ditemukan bakteri tersebut,” ujarnya, Selasa (23/9/2026).

Sementara itu, pemeriksaan terhadap sampel makanan oleh Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menemukan bakteri Bacillus cereus pada dua menu, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.

“Di dua makanan tersebut ditemukan bakteri Bacillus cereus yang bisa menyebabkan keracunan makanan dengan gejala yang hampir sama dengan yang dialami anak-anak, seperti muntah, diare, dan mual,” katanya.

Adapun sejumlah sampel makanan lainnya dinyatakan normal. Sampel tersebut meliputi nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis.

Menurut Betsia, keberadaan bakteri pada makanan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pengelolaan makanan yang tidak sempurna, penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar, hingga proses pengolahan dan pendistribusian.

“Pengelolaan, penyimpanan, pengepakan, kemudian pendistribusian itu sangat berpengaruh,” ujarnya.

Dari kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Blora mencatat sebanyak 334 orang mengalami gejala. Rinciannya, 198 orang menjalani rawat jalan, 10 orang menjalani rawat inap, sedangkan 126 orang mengalami gejala tetapi tidak memeriksakan diri.

Kasus tersebut juga tidak hanya terjadi pada satu satuan pendidikan. Sejumlah penerima manfaat dari beberapa sekolah turut mengalami gejala, di antaranya SMA Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMP Permata Banjari.

Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut selanjutnya telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten bersama pihak SPPG sebagai bahan tindak lanjut.

Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora menegaskan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut menjadi salah satu dasar dalam penanganan dan evaluasi pelaksanaan program MBG di SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Team Work
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *