September 24, 2026

Kopi Dieng Banjarnegara Tak Lagi Sekadar Minuman, Kini Jadi Jalan Baru Wisata

0


Wisata
Kopi Dieng Banjarnegara Tak Lagi Sekadar Minuman, Kini Jadi Jalan Baru Wisata

Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI Kementerian Hukum RI, Fajar Sulaeman saat berkunjung kebun kopi di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan Banjarnegara, Selasa (22/9/2026). (Foto: Iwan Setiawan/Suara Indonesia)

BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Kopi Arabika Pegunungan Dieng ternyata tak hanya diminati penikmat kopi di dalam negeri. Cita rasanya sudah menyeberang hingga Malaysia, Australia dan Singapura.

Kini, setelah produknya dikenal dan dipasarkan ke berbagai negara, muncul gagasan baru: bagaimana jika para penikmat kopi itu datang langsung ke Dieng?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Geographical Indication Tourism (GI Tourism) di kawasan Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Melalui konsep ini, wisatawan tidak hanya membeli kopi dalam kemasan. Mereka diarahkan mengenal langsung wilayah asalnya, melihat kebun, bertemu petani, mengetahui proses budidaya hingga mencicipi kopi yang tumbuh di lereng pegunungan Dieng.

Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI Kementerian Hukum Republik Indonesia,  Fajar Sulaeman, mengatakan pengembangan GI Tourism melibatkan sejumlah kementerian dan pemerintah daerah.

Menurutnya, selama ini produk Indikasi Geografis sudah mampu memberikan nilai ekonomi melalui perdagangan. Namun, manfaat tersebut masih dapat diperluas dengan menghadirkan wisatawan langsung ke sentra produksi.

“Yang belum adalah bagaimana mereka bisa datang ke tempat ini. Kita berharap tentunya dapat menyejahterakan masyarakat setempat dengan kedatangan tamu-tamu wisatawan,” ujar Fajar saat berkunjung kebun kopi di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Selasa, (22/9/2026) siang.

Dieng sendiri memiliki modal besar untuk itu. Selain menjadi salah satu destinasi wisata yang sudah dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara, kawasan pegunungannya juga menjadi rumah bagi perkebunan kopi yang dikelola masyarakat.

GI Tourism Dieng pun tidak hanya akan bertumpu pada kopi. DJKI menyebut Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Carica Dieng dan Purwaceng Dieng sebagai tiga produk Indikasi Geografis yang menjadi bagian penting dalam pengembangannya.

Ketua MPIG Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Turno, menyebut luas perkebunan kopi di Desa Babatan mencapai sekitar 50 hektare.

Jika dihitung di kawasan pegunungan Banjarnegara secara keseluruhan, luasnya bahkan lebih dari 1.000 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Produktivitas kopi saat ini rata-rata berada di angka 700 hingga 800 kilogram per hektare setiap tahun. “Kalau di Babatan ada 50 hektare. Kalau di Banjarnegara lebih dari seribu hektare,” kata Turno.

Dari kebun-kebun tersebut, kopi dipasarkan mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Sebagian produksinya bahkan telah dikirim ke luar negeri, dengan Malaysia dan Australia menjadi pasar yang rutin, serta Singapura sebagai salah satu negara tujuan.

Namun, ada hal lain yang membuat kopi Dieng menarik untuk dijadikan bagian dari perjalanan wisata: cita rasanya.

Turno menyebut Kopi Arabika Pegunungan Dieng memiliki perpaduan rasa manis seperti gula jawa, sensasi fruity, keasaman dan karakter rempah yang kuat.

“Ciri khas kopi Banjarnegara, kopi Dieng itu gula jawanya, fruity-nya, kemudian rasa rempah-rempahnya sangat terasa,” jelasnya.

Budidayanya pun berusaha tetap menjaga lingkungan. Petani lebih banyak menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang dan limbah pengolahan kopi. 

“Pupuk kimia tetap digunakan sebagian petani, terutama untuk memenuhi kebutuhan unsur tertentu bagi pertumbuhan tanaman,” imbuhnya.

Bagi Turno, pengembangan GI Tourism menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang budidaya kopi di kawasan tersebut.

Sejak awal, pengembangan kopi tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan komoditas, tetapi juga mendukung konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Alhamdulillah semakin berkembang, kami semakin kuat dan manfaatnya akan semakin luas,” ujarnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Alfiana Putri





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *