Menag Buka PPSN VI, Santri Diminta Jadi Moderator Perkuat Karakter
Jefri Hadi
– 02 October 2026 | 14:10 – Dibaca 28 kali
Pembukaan PPSN VI mempertemukan pramuka santri dari berbagai daerah di Indonesia oleh Menag dan Gubernur Jawa timur. (Foto: Humas Kakanwil Kemenag Jatim/suaraindonesia)
BERITA PLUS, SURABAYA – Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren An-Nur 2 Al Murtadlo, Kabupaten Malang, Kamis (1/10/2026) malam.
Dalam sambutannya, Nasaruddin meminta pramuka santri mampu meredakan persoalan dan menciptakan ketenangan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan saat PPSN VI mempertemukan pramuka santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Nasaruddin menyebut nilai kesantrian dan kepramukaan memiliki titik temu dalam membentuk generasi yang disiplin, mandiri, peduli terhadap sesama, serta mampu membangun solidaritas.
“Seorang kader Pramuka jangan suka membuat orang resah, tetapi harus membuat situasi menjadi gampang, menjadi mudah. Seorang kader Pramuka tidak boleh mencari masalah dan membesar-besarkan masalah,” kata Nasaruddin.
Ia mengingatkan peserta agar tidak menjadikan persoalan kecil sebagai masalah besar. Kemampuan menyikapi persoalan secara bijak, kata dia, diperlukan agar santri tidak ikut memperbesar keresahan di lingkungan masyarakat.
“Seorang Pramuka tidak boleh mendramatisasi sesuatu yang kecil menjadi besar. Itu bisa merusak bangsa. Jadilah moderator, bukan provokator,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam pembukaan PPSN VI yang berlangsung hingga 6 Oktober 2026.
Rangkaian kegiatan mencakup aktivitas kepramukaan, kompetisi, pembentukan karakter, serta kegiatan sosial dan lingkungan.
Nasaruddin juga menyoroti pentingnya penguasaan kompetensi. Menurutnya, santri tidak cukup hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi perlu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, dan penguasaan bahasa untuk menghadapi perubahan zaman.
Bekal tersebut diharapkan membuat santri mampu memperluas kiprah di tengah masyarakat sekaligus beradaptasi dengan lingkungan global tanpa meninggalkan nilai kesantrian.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menambahkan, PPSN menjadi ruang memperkuat persaudaraan antarsantri dari berbagai wilayah. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menanamkan ikatan kebangsaan di tengah keberagaman.
“Setiap pertemuan santri akan menjadi rakitan persaudaraan Indonesia, persaudaraan Nusantara. Persaudaraan yang mereka bangun di PPSN VI ini akan menjadi bagian dari ikatan mereka sebagai sebuah bangsa, menjadi satu nusa dan satu bangsa,” ujar Khofifah.
Khofifah berharap hubungan yang terbangun selama perkemahan tetap terpelihara setelah peserta kembali ke daerah masing-masing. Ia juga mendorong santri memiliki cita-cita luas dan tidak membatasi ruang pengabdian.
“Saya yakin para santri luar biasa semuanya. Insyaallah, kalian akan menjadi ulama-ulama yang mendunia, menjadi pebisnis-pebisnis yang luar biasa, dan menjadi intelektual yang mampu memberikan dedikasi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tutur Khofifah.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar menyebut kontingen Jatim berjumlah 74 orang. Komposisinya terdiri atas 64 peserta, yakni 32 putra dan 32 putri, serta 10 pendamping.
Peserta putra berasal dari Kabupaten Sidoarjo, Pacitan, Ponorogo, dan Bondowoso. Adapun peserta putri berasal dari Kota Malang, Jember, Nganjuk, dan Jombang.
Kontingen Jatim diberangkatkan dari Sidoarjo pada Rabu (30/9/2026). Mereka dijadwalkan mengikuti seluruh rangkaian PPSN hingga 6 Oktober.
Akhmad meminta peserta menjaga kekompakan sekaligus nama baik Jawa Timur. PPSN, kata dia, harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar, memperluas pengalaman, dan membangun kemandirian.
“Jaga nama baik Jawa Timur dan ikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat. Manfaatkan PPSN ini untuk menambah pengalaman, memperluas persaudaraan, dan membangun kemandirian,” katanya.
PPSN VI diikuti pramuka santri dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Selain mengasah keterampilan kepramukaan, sambungnya kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat karakter, kepemimpinan, kemandirian, wawasan kebangsaan, dan semangat pengabdian.
Melalui PPSN VI, para santri tidak hanya ditempa menjadi peserta kegiatan kepramukaan, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi yang mampu mengelola persoalan, menjaga persaudaraan, dan hadir sebagai bagian dari solusi di tengah masyarakat. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Alfiana Putri |
