13 Siswa di Kampar Riau Diduga Keracunan Setelah Santap MBG
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
SUARAINDONESIA, KAMPAR – Sebanyak 13 siswa SDN 044 Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, diduga mengalami keracunan.
Mereka mengalami sejumlah gejala kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar masih menyelidiki penyebab kejadian tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, dr. Zulhendra Das’at, mengatakan 12 siswa yang mengalami gejala berasal dari kelas 6B dan seorang lainnya dari kelas 6A. Mereka merupakan bagian dari 555 siswa penerima MBG di sekolah tersebut.
“Total ada 13 siswa yang mengalami gejala. Kami masih melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebabnya,” kata Zulhendra, Rabu (7/10/2026).
Para siswa mengalami kulit kemerahan, bentol atau ruam, sakit perut, mual, muntah, dan demam. Menurut Zulhendra, keluhan tersebut mulai muncul sekitar 10 menit setelah siswa mengonsumsi makanan MBG saat jam istirahat sekitar pukul 09.30 WIB.
Menu yang disantap siswa terdiri dari nasi, telur goreng sambal cabe, tempe goreng, tumis sawi putih, dan semangka.
Dari 13 siswa tersebut, sembilan telah ditempatkan di ruang rawat RS Madani untuk observasi. Empat siswa lainnya masih berada di instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan medis.
Tim Surveilans dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar telah melakukan verifikasi dengan mendatangi RS Madani. Dinas Kesehatan juga mengambil sisa makanan untuk diperiksa di laboratorium.
“Sampel sisa makanan sudah diambil dan dikirim ke Labkesda Provinsi Riau untuk pemeriksaan,” tuturnya.
Zulhendra menyebut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau turut mendatangi RS Madani untuk melihat kondisi para siswa dan memastikan penanganan medis berjalan. Kunjungan itu dilakukan bersama jajaran Dinkes Provinsi Riau, Dinkes Kabupaten Kampar, Tim Gerak Cepat, serta manajemen RS Madani.
Ia mengatakan Dinas Kesehatan belum menyimpulkan makanan MBG sebagai penyebab kejadian tersebut. Kesimpulan baru dapat dibuat setelah penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai.
“Belum dapat disimpulkan penyebab pastinya. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil investigasi,” jelas Zulhendra. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Yudha Pratama |
| Editor | : Bahrullah |
