Poliwangi Dorong Ekonomi Sirkular Industri Kopi Banyuwangi Lewat Teknologi Limbah
Tim Poliwangi menyerahkan bantuan teknologi pengelolaan limbah kopi di Banyuwangi. (Foto: Istimewa).
BERITA PLUS, BANYUWANGI – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) mendorong pengelolaan ampas kopi atau Spent Coffee Ground (SCG) agar memiliki nilai ekonomi dan lingkungan.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Sinergi Sirkular: Akselerasi Green Economy melalui Inisiasi Sistem Pengelolaan Limbah Kopi Terintegrasi pada Ekosistem Coffee Shop Banyuwangi.”
Program tersebut menyasar PHILOS Coffee and Culture di Jalan Raya Pakel, Dusun Kertosari, Gombolirang, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Dalam kegiatan itu, Poliwangi menyerahkan bantuan teknologi dan sistem manajemen pengelolaan SCG untuk mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular pada aktivitas industri kopi.
Tim pengabdian terdiri dari Mohamad Ilham Hilal, S.ST., M.ST. selaku ketua tim, bersama Riza Rahimi Bachtiar, S.P., M.P., M.BA. dan Ikhwan Samsul Hadi Sidiq, S.TP., M.P.
Ketiganya memiliki keahlian yang mendukung program tersebut, mulai dari ekonomi sirkular, agribisnis hingga pengembangan produk agroindustri berbasis pemanfaatan sumber daya.
Bantuan yang diberikan meliputi Automatic Portafilter Cleaner – Container, perangkat pendukung pengelolaan SCG, dokumen Standard Operating Procedure (SOP) Pengelolaan Residu Espresso.
Selain itu, tim juga memperkenalkan sistem tata kelola limbah kopi yang dirancang untuk diterapkan dalam aktivitas operasional coffee shop secara terukur dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdian Poliwangi, Mohamad Ilham Hilal mengatakan program tersebut tidak sekadar memberikan bantuan peralatan kepada pelaku usaha coffee shop.
“Melalui pendekatan ekonomi sirkular, ampas kopi yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dikembangkan menjadi aset bernilai tambah,” ujarnya.
“Karena itu, program ini dirancang tidak hanya memberikan perangkat fisik, tetapi juga membangun standar operasional agar pengelolaannya dapat berjalan secara konsisten,” sambungnya.
Menurutnya, peningkatan aktivitas coffee shop di Banyuwangi turut menghasilkan SCG dalam jumlah besar yang selama ini belum seluruhnya dikelola sebagai sumber daya.
Padahal, ampas kopi bekas ekstraksi tersebut berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku berbagai produk kreatif yang mendukung penerapan ekonomi hijau.
Melalui program ini, PHILOS Coffee and Culture memperoleh pendampingan pengelolaan residu kopi mulai dari penampungan, pengendalian kelembapan, penyimpanan hingga pencatatan.
“Sistem pengelolaan tersebut juga menerapkan prinsip First-In-First-Out (FIFO) melalui pelabelan, sehingga kualitas dan ketertelusuran ampas kopi yang terkumpul dapat lebih terjaga,” kata Ilham.
Selain memberikan perangkat, tim Poliwangi mendampingi pengelola dan barista dalam menerapkan SOP pemilahan serta penyimpanan ampas kopi sejak keluar dari mesin espresso.
Pemilik PHILOS Coffee and Culture, Wendi Cahyono, mengapresiasi pendampingan Poliwangi karena memberikan perspektif baru mengenai pengelolaan sisa produksi kopi.
“Ampas kopi tidak semestinya langsung dipandang sebagai sampah, karena masih dapat dikelola dan dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Wendi.
Kolaborasi Poliwangi dan PHILOS Coffee and Culture diharapkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular sekaligus memperkuat daya saing industri kreatif lokal Banyuwangi.
Program tersebut juga diarahkan untuk mengurangi persoalan limbah coffee shop melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dan tata kelola sumber daya yang lebih berkelanjutan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Bahrullah |
