DP3AKB Ngawi Ukir Prestasi, Forum GenRe Raih Juara ll KIE Tingkat Nasional
Forum Genre Kabupaten Ngawi. (Foto: dok. Istimewa)
BERITA PLUS, NGAWI – Forum Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Ngawi kembali mengukir prestasi di tingkat nasional. Forum binaan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Ngawi itu berhasil lolos dalam Festival Praktik Baik Program PASTI (Partnership to Accelerate Stunting Reduction in Indonesia) Tahun 2026.
Hasilnya, GenRe Ngawi membawa praktik baik Kabupaten Ngawi ke tingkat nasional dengan meraih Juara II Lomba Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Tingkat Nasional Program PASTI.
“Prestasi tersebut diumumkan pada Selasa, 6 Oktober 2026, dalam program yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia,” kata Kepala DP3AKB Ngawi, Nuhrahaningrum, Jumat (9/10/2026).
“Capaian ini menjadi bukti bahwa gerakan remaja di Kabupaten Ngawi tidak hanya aktif di tingkat daerah, tetapi juga mampu menunjukkan karya dan praktik baiknya di tingkat nasional,” imbuhnya.
Aning panggilan akrab Kepala DP3AKB Ngawi menjelaskan, Sebelumnya, pada 1 hingga 4 Juli 2026, tiga perwakilan Forum GenRe Kabupaten Ngawi diundang ke Jakarta untuk merepresentasikan praktik baik bertajuk “Remaja Ngawi Kini, Menjadi Agen Perubahan Cegah Stunting dari Hulu.”
Mereka adalah Sholakhal Abdul Mubarok, Ketua Forum GenRe Kabupaten Ngawi, Candra Wulandari, Wakil Ketua Forum GenRe Kabupaten Ngawi, serta Alin, perwakilan Duta GenRe tingkat desa Kabupaten Ngawi.
“Praktik baik tersebut mengangkat upaya Forum GenRe Ngawi dalam menginisiasi Ekspedisi Gizi Remaja dan Aksi Satu Desa Satu Gerakan yang diterapkan di 26 desa lokus PASTI serta desa-desa lainnya di Kabupaten Ngawi,” terang Aning.
Pun ia mengapresiasi capaian dan peran remaja Ngawi dalam gerakan tersebut, pihaknya berharap capaian ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan.
“Prestasi Forum GenRe Kabupaten Ngawi di tingkat nasional menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Ngawi. Yang lebih penting, capaian ini menunjukkan bahwa remaja mampu menjadi bagian dari solusi dalam upaya pencegahan stunting sejak dari hulu. Kami mengapresiasi kreativitas, keberanian, dan konsistensi remaja dalam mengedukasi teman sebaya, melakukan analisis situasi, hingga menyampaikan rekomendasi berdasarkan kondisi di lapangan.
Masih kata Aning, saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi akan terus mendorong kolaborasi dan memberikan ruang bagi remaja untuk berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya dalam mewujudkan generasi Ngawi yang sehat, berkualitas, dan berdaya.
Sepanjang pelaksanaan praktik baik, berbagai aktivitas dilakukan. Mulai dari pelatihan persiapan fasilitator dan edukator sebaya, briefing media pendukung KIE, edukasi remaja di tingkat desa dan sekolah, lomba KIE pencegahan stunting tingkat kabupaten, pelatihan Analisis Situasi Kesehatan Remaja, pengumpulan data, penyusunan rekomendasi, advokasi di tingkat desa, hingga monitoring terhadap rekomendasi yang telah disampaikan.
Upaya tersebut menunjukkan dampak yang terukur. Berdasarkan outcome monitoring melalui survei LQAS (Lot Quality Assurance Sampling), sebanyak 81 persen remaja di Kabupaten Ngawi memiliki pengetahuan komprehensif mengenai anemia dan pencegahan stunting.
“Capaian ini sangat luar biasa, sebab menjadi yang tertinggi dibandingkan lima kabupaten dampingan lainnya dalam Program PASTI,” ucapnya.
Aning menjelaskan, program ini juga menerapkan pendekatan inklusif. Edukasi menyasar remaja putra maupun putri. Dalam pelaksanaan Analisis Situasi Kesehatan Remaja, keterlibatan juga mencakup anak yang menikah di usia anak, anak putus sekolah, serta anak-anak yang sebelumnya belum mendapatkan layanan kesehatan remaja.
Bagi Forum GenRe Kabupaten Ngawi, capaian Juara II Lomba KIE Tingkat Nasional sekaligus keberhasilan membawa praktik baik ke Festival Praktik Baik PASTI menjadi momentum untuk memperkuat gerakan remaja di daerah.
Gerakan “Remaja Ngawi Kini, Menjadi Agen Perubahan Cegah Stunting dari Hulu” menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berbicara mengenai intervensi ketika masalah telah terjadi. Upaya tersebut dapat dimulai sejak remaja melalui peningkatan pengetahuan, penguatan keterampilan, perubahan perilaku, partisipasi dalam pembangunan, serta keberanian untuk menyampaikan suara dan rekomendasi berdasarkan kondisi nyata di lingkungan mereka.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak, Forum GenRe Ngawi diharapkan praktik baik tersebut dapat terus dikembangkan dan direplikasi di lebih banyak desa. Remaja diharapkan semakin memiliki ruang untuk berkontribusi, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku pembangunan dan agen perubahan dalam mewujudkan generasi Ngawi yang sehat, berkualitas, dan berdaya.
Sementara itu, Sholakhal Abdul Mubarok, Ketua Forum GenRe Kabupaten Ngawi mengungkapkan, melalui gerakan tersebut remaja ditempatkan bukan sekadar sebagai sasaran program, tetapi sebagai agen perubahan.
“Jadi mereka mendapatkan peningkatan kapasitas mengenai kesehatan reproduksi, gizi seimbang, pencegahan anemia, pencegahan stunting, serta pencegahan perkawinan anak,” ujar Shola.
Kata dia, penguatan kapasitas itu kemudian dilanjutkan melalui kampanye, edukasi sebaya, pembinaan dan mentoring secara berkelanjutan. Salah satu bentuk pengorganisasiannya dilakukan melalui pembentukan dan penguatan Duta GenRe tingkat desa, sehingga remaja memiliki ruang untuk mengambil peran langsung dalam menyampaikan informasi dan menggerakkan teman sebayanya.
“Remaja tidak cukup hanya menjadi penerima informasi. Mereka perlu diberikan ruang untuk belajar, bersuara, melakukan aksi, dan ikut memberikan solusi terhadap persoalan yang mereka temukan di lingkungannya,” ungkap Shola.
Tidak berhenti pada edukasi, Forum GenRe Ngawi juga mendorong remaja untuk mampu mengenali persoalan kesehatan di lingkungannya melalui Analisis Situasi Kesehatan Remaja. Sejak 2025, remaja diberikan keterampilan penelitian dengan pendampingan orang dewasa.
Mereka dilatih mulai dari memahami isu dan kebijakan kesehatan remaja, menyusun instrumen, melakukan penggalian informasi melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara, melakukan pengumpulan data di tingkat desa, hingga menganalisis temuan dan menyusun rekomendasi.
Data tersebut kemudian tidak berhenti menjadi dokumen penelitian. Remaja didorong untuk menyampaikan hasil temuannya melalui proses advokasi di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Rekomendasi yang dihasilkan kemudian disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam penguatan kebijakan dan layanan kesehatan remaja.
Gerakan ini juga didukung melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Ngawi, pemerintah desa, sekolah, tenaga kesehatan, serta mitra pembangunan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Ari Hermawan |
| Editor | : Alfiana Putri |
