Telur MBG Berbau Busuk, Hasil Lab Temukan Bakteri pada Dua Menu SPPG Tutup Blora
Team Work
– 15 October 2026 | 18:10 – Dibaca 16 kali
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Suara Indonesia)
BERITA PLUS, BLORA — Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menemukan bakteri pada nasi putih dan tumis labu jagung pipil.
Temuan tersebut berbeda dengan hasil pemeriksaan sampel telur rempah kecap yang sebelumnya dilaporkan berbau busuk menyengat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora, Nur Betsia Bertawati mengatakan, hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 12 Oktober 2026 menunjukkan adanya bakteri staphylococcus aureus pada nasi putih dan Bacillus sp. pada tumis labu jagung pipil.
“Dari hasil pemeriksaan sampel makanan, ditemukan hasil positif bakteri Staphylococcus aureus pada nasi putih dan hasil positif Bacillus sp. pada tumis labu jagung pipil,” katanya, saat ditemui awak media.
Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap sampel makanan dan air yang dikumpulkan pada 1 Oktober 2026, setelah muncul dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa penerima manfaat MBG.
Nur Betsia menjelaskan, Puskesmas Tunjungan bersama Dinkesda Blora telah melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil penanganan, tercatat sebanyak 62 orang mengalami keluhan dan seluruhnya menjalani rawat jalan. Tidak ada yang dirawat inap di puskesmas maupun rumah sakit.
Sampel makanan yang diperiksa meliputi nasi putih, telur rempah kecap, tumis labu dengan jagung pipil, susu, dan pisang. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap air yang digunakan untuk memasak serta air minum.
Terkait laporan telur rempah kecap yang berbau busuk menyengat, Nur Betsia menyebut hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel menu tersebut tidak menunjukkan temuan bakteri seperti pada nasi putih dan tumis labu jagung pipil.
Ia menjelaskan menu makanan tersebut sebelumnya juga pernah disajikan oleh SPPG yang sama kepada para penerima manfaat. Namun, pada penyajian sebelumnya tidak dilaporkan kejadian keracunan makanan.
Selain sampel makanan, hasil pemeriksaan air menunjukkan total coliform lebih dari 200 dan Escherichia coli (E. coli) sebanyak 7. Sementara itu, pada sampel air galon ditemukan total coliform sebanyak 42 dan E. coli tidak ditemukan.
Menurut Nur Betsia, air yang memenuhi persyaratan kesehatan seharusnya tidak mengandung E. coli. Temuan pada sampel air tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu ditindaklanjuti untuk menelusuri kemungkinan sumber kontaminasi.
Ia menambahkan, keberadaan bakteri pada makanan dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari kebersihan, pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyajian, hingga distribusi makanan.
Mengenai latar belakang tenaga yang bertanggung jawab atas aspek gizi di SPPG Tutup, Nur Betsia menyampaikan bahwa tenaga berlatar belakang teknologi pangan diperbolehkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai ketentuan yang berlaku.
Adapun penetapan penyebab kejadian dan pihak yang bertanggung jawab, kata dia, menjadi kewenangan Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Blora.
Dinkesda berharap hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti melalui monitoring dan evaluasi terhadap proses pengolahan, penyajian, serta distribusi makanan guna memastikan keamanan pangan dan mencegah kejadian serupa terulang.(*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Team Work |
| Editor | : Alfiana Putri |
