October 17, 2026

Lelah Kemacetan Berulang di Lintas Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pengguna Jasa Minta Penambahan Dermaga

0


News
Lelah Kemacetan Berulang di Lintas Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pengguna Jasa Minta Penambahan Dermaga

Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang menunggu giliran menyeberang. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin/suaraindonesia.co.id).

BERITA PLUS, BANYUWANGI – Kemacetan panjang di lintas penyeberangan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi-Gilimanuk, Bali masih terjadi dan belum terurai hingga H+10 Lebaran 2026, meski puncak arus balik telah berlalu.

Kondisi ini memicu keluhan dari berbagai pengguna jasa yang mengaku kelelahan dengan antrean yang terus berulang setiap musim libur panjang ini.

Pantauan di lokasi, Rabu (1/4/2026) sore, antrean kendaraan masih mengular hingga sekitar 14 kilometer di jalur Situbondo-Banyuwangi menuju pelabuhan, meski terjadi secara terputus-putus di beberapa titik. Antrean didominasi oleh truk logistik, pikap, bus, dan mobil pribadi.

Sejumlah sopir logistik hingga kendaraan niaga mengaku kondisi ini sangat berdampak pada aktivitas ekonomi mereka, terutama yang berpacu dengan waktu distribusi barang.

Salah satunya Katijo (53), sopir pengangkut sayur asal Purwoharjo, Banyuwangi. Ia mengaku keterlambatan akibat macet membuatnya merugi hingga jutaan rupiah.

“Kalau macet begini was-was, karena ngejar waktu. Takut barang tidak habis karena pasar keburu tutup, belum lagi biaya bahan bakar bertambah. Pernah sampai telat, baru sampai jam 4 pagi,” ujarnya.

Ia bersama rekannya Gaung setiap hari mengirim sayur ke Pasar Cokro, Denpasar. Dalam kondisi normal, ia bisa tiba sekitar pukul 21.00 Wita jika berangkat sore dari rumah.

Kemacetan saat arus mudik dan balik sebenarnya sudah biasa terjadi. Namun, tahun ini yang paling parah sejak dirnya rutin ngirim sayur, cabai, hingga jeruk nipis mulai tahun 2.000.

“Setiap Lebaran pasti macet, tapi ini paling parah dari sebelumnya. Harapannya ya lancar, apapun solusinya,” katanya.

Selain itu, ia juga mengeluhkan sistem bongkar muat kapal yang dinilai belum optimal, terutama saat penerapan pola Tiba Bongkar Berangkat (TBB).

“Kadang sudah bongkar, tapi tidak langsung muat lagi. Ini harapannya bisa dievaluasi supaya sama-sama cepat diangkut,” tambahnya.

Lain cerita dengan Rizky, warga yang hendak balik ke Bali menaiki mobil. Rizky dalam perjalanan menuju Denpasar setelah mudik ke Madiun. Ia bersama keluarga kecilnya, termasuk seorang bayi yang usianya belum genap 5 bulan.

Dalam perjalanannya balik, Rizky terjebak macet sekitar tiga jam. Waktu itu tergolong pendek sebab Rizky memilih untuk salip kanan-kiri agar cepat sampai ke tujuan.

Kemacetan serupa ia alami ketika arus balik dua pekan lalu di Perlabuhan Gilimanuk, yakni saat ia hendak berangkat dari Bali menuju Jawa.

“Setiap tahun memang selalu macet. Tapi tahun ini sepertinya yang terparah,” tambah Rizky.

Dalam perjalanannya kali ini, Rizky berharap akan sampai ke tujuan secara aman dan nyaman. Apalagi, ia membawa buah hati yang masih bayi. 

Keluhan serupa disampaikan Samsul (42), sopir truk pengangkut kayu rute Surabaya-Tabanan, Bali. Ia mengaku terjebak macet sejak pagi hingga sore hari sebelum bisa masuk pelabuhan.

“Jam 9 pagi kena macet di Watudodol, baru masuk pelabuhan sekitar jam 5 sore. Ini paling parah sejak saya mulai kerja tahun 2013,” ujarnya.

Menurut Samsul, keterbatasan dermaga menjadi salah satu penyebab utama kemacetan yang berlarut-larut, meskipun jumlah kapal sudah mencukupi.

“Kapal sudah banyak, tapi dermaganya kurang. Harapannya ditambah supaya antrean tidak panjang dan macet tidak terus terulang,” tegasnya.

Selain itu, ia juga berharap ada penertiban antrean kendaraan agar lebih tertib dan adil bagi semua pengguna jasa.

“Kadang ada yang nyerobot antrean, itu juga bikin makin lama. Kami yang sudah capek di jalan jadi makin lelah,” katanya. 

Tak hanya itu, Made, salah satu sopir truk logistik, mengaku sudah dua hari terjebak kemacetan. Waktu yang paling lama ia habiskan di kantong parkir, menunggu gilingan masuk ke kapal.

“Saya membawa muatan kaleng sarden bekas menuju Denpasar,” kata warga Kabupaten Jembrana ini.

Waktu yang habis diperjalanan membuat biaya yang harus ia keluarkan membengkak. Kebutuhan bahan bakar, makan-minum, dan lainnya melebihi perhitungan awal ketika berangkat.

“Kebutuhan ya jadi bertambah, berkali-kali lipat,” ujarnya.

Ucok, sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) juga mengeluhkan kemacetan di Pelabuhan Ketapang. Berjam-jam ia harus menunggu waktu untuk bisa menempuh perjalanan belasan kilometer.

“Saya banyak dikomplain sama penumpang,” kata Ucok.

Kemacetan ini, kata Ucok, terasa aneh sebab jadwal puncak arus balik telah berlalu. Posko angkutan Lebaran juga telah ditutup oleh otoritas kekait.

Mereka berharap, kemacetan di Pelabuhan Ketapang bisa ditangani. Baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Usulan-usulan yang muncul untuk mengatasi kemacetan, misalnya dengan penambahan dermaga, bisa menjadi solusi agar kemacetan tak terulang pada moment-moment padat penumpang selanjutnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *