Desa Wisata Jadi Motor Baru Ekonomi Kabupaten Malang, Proyeksi Capai Rp1,5 Triliun
Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil VI (Malang Raya) , Puguh Wiji Pamungkas. (Foto: Istimewa)
BERITA PLUS, MALANG – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas, mendorong penguatan ekosistem desa wisata di Kabupaten Malang sebagai strategi utama mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan warga.
Berdasarkan data BPS 2025, Kabupaten Malang memiliki potensi luar biasa dengan 390 desa wisata. Puguh memproyeksikan, jika dikelola secara optimal, sektor ini mampu menyumbang nilai ekonomi antara Rp1,2 hingga Rp1,5 triliun per tahun melalui integrasi tiket masuk, kuliner, homestay, dan produk kreatif.
“Desa wisata bukan sekadar destinasi, tapi basis ekosistem ekonomi baru. Ini adalah backbone kekuatan ekonomi daerah di tengah tantangan fiskal yang semakin dinamis,” ujar Puguh Wiji Pamungkas, Senin (9/3/2026).
Hingga 2025, kontribusi PAD dari sektor wisata melalui pajak hiburan telah mencapai Rp7,9 miliar, hampir memenuhi target tahunan sebesar Rp8,02 miliar. Puguh memberikan contoh nyata keberhasilan Desa Kalikesek di Kendal yang mampu menghasilkan Rp1,4 miliar per tahun dan membagikan THR ratusan juta kepada warga.
“Model keberhasilan seperti itu sangat mungkin direplikasi di Malang dengan skala yang lebih besar,” tambahnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, Puguh menekankan lima strategi kunci yakni,
Pertama, Infrastruktur & Digitalisasi dengan perbaikan akses jalan, transportasi publik ramah wisatawan, serta digitalisasi informasi melalui aplikasi resmi.
Kedua, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan Pelatihan hospitality, bahasa asing, dan digital marketing bagi Pokdarwis serta inkubasi UMKM berbasis produk lokal.
Ketiga, melakukan diversifikasi Produk untuk Optimalisasi wisata alam (pantai, gunung, air terjun), wisata budaya (seni tradisi), hingga wisata edukasi (pertanian organik).
Keempat terapkan Model Bisnis Komunitas. Penerapan sistem bagi hasil yang adil antara desa, investor, dan masyarakat, serta optimalisasi dana desa dan CSR.
Kelima, gencarkan branding ikon Kabupaten Malang sebagai “Malang Tourism Village Belt” dan kolaborasi dengan influencer serta perguruan tinggi untuk inovasi berkelanjutan.
Puguh menyadari adanya tantangan seperti disparitas antar wilayah dan kualitas SDM yang belum merata. Sebagai solusi, ia mengusulkan skema pendanaan campuran (blended finance) antara APBD, CSR, dan investor, serta penguatan regulasi untuk melindungi budaya lokal dari risiko komersialisasi berlebih.
“Dengan sinergi yang tepat, desa wisata akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di akar rumput,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Aditya Mahatva Yodha |
| Editor | : Mahrus Sholih |
