October 16, 2026

Ngabuburit Sembari Rawat Sejarah Lokal di Cilacap, Komunitas Tjilatjap History Mengecat Tugu Kusaeri

0


News
Ngabuburit Sembari Rawat Sejarah Lokal di Cilacap, Komunitas Tjilatjap History Mengecat Tugu Kusaeri

Sindu Pramono dan sejumlah pegiat sejarah Cilacap saat mengecat tugu juang Kusaeri, yang ada di Jalan Abiyasa, Kelurahan Gumilir, Cilacap. (Foto: dok. Suara Indonesia)

BERITA PLUS, CILACAP – Para pegiat sejarah Cilacap yang tergabung dalam komunitas Tjilatjap History punya cara tersendiri di bulan Ramadhan ini dalam menghabiskan waktu menunggu buka puasa atau ngabuburit.

Mereka melakukan kegiatan poisitif, dimana mengecat tugu juang Kusaeri, yang ada di Jalan Abiyasa, Kelurahan Gumilir, Cilacap pada Minggu (8/3/2026) sore. 

Diketahui, tugu juang Kusaeri merupakan peninggalan sejarah, yang dibangun pada zaman kolonial Jepang. Tugu ini menjadi saksi perlawanan rakyat Cilacap akibat kekejaman Jepang. 

“Ngabuburit sejarah ini untuk merawat dan melestarikan penanda perjuangan di tanah Cilacap ada disini,” ujar anggota komunitas Tjilatjap History, Sindu Pramono.

Menurut Sindu, tugu juang Kusaeri ini harus dirawat untuk mengenang jasa pahlawan lokal, utamanya sosok Kusaeri, dimana ia yang memimpin pemberontakan PETA terhadap pasukan Jepang.

“Jadi selain Cilacap lautan api, jejak perlawanan PETA pada jaman Jepang ini juga tertoreh pada buku sejarah nasional. Jadi pantas untuk kita kenang dan lestarikan,” ungkapnya.

“Dan siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga sejarah bangsa ini. Salah satunya dengan merawat tugu bersejarah ini,” lanjut pegiat sejarah Cilacap ini.

Sejarah Kusaeri sendiri diawali perlawanan dirinya di Gumilir pada tanggal 21 April 1945. Di bawah pimpinan Budanco, sebuah kompi PETA berhasil merampas senjata dan amunisi dari gudang mereka. 

“Mereka kemudian melarikan diri menuju Gunung Srandil yang digunakan sebagai basis gerakannya,” terang Sindu.

Lebih lanjut, pemberontakan kala itu yang menewaskan seorang kopral Jepang itu berhasil dipadamkan berkat bujukan Sudirman, Daidanco PETA Kroya.

“Mereka meminta imbalan dan meminta ke Jepang agar prajurit PETA yang menyerah tidak boleh disiksa, dan kampung-kampung yang menyembunyikan para pemberontak tidak boleh ditembaki,” beber Sindu.

Namun demikian, Kusaeri beserta 18 orang temannya tidak diberi ampun oleh Jepang lantaran mereka dianggap sebagai otak pemberontakan.

Dalam sebuah pengadilan militer yang diadakan pada tanggal 10 Mei 1945, Kusaeri dijatuhi hukuman mati sementara rekan-rekannya mendapatkan hukuman yang berkisar antara penjara 15 tahun hingga seumur hidup. 

“Inilah sekilas sejarah tugu juang Kusaeri, dan ada yang menarik dimana hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah dilaksanakan hingga Jepang keburu menyerah,” pungkas Sindu. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Satria Galih Saputra
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *