October 17, 2026

Trauma Belum Sembuh, Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Tolak Laga Arema FC vs Persebaya

0


News
Trauma Belum Sembuh, Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Tolak Laga Arema FC vs Persebaya

Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) menggelar aksi diam dan doa bersama di depan Gate 13 Stadion Kanjuruhan. (Foto: Istimewa)

BERITA PLUS, MALANG – Suasana haru dan ketegangan emosional menyelimuti kawasan Stadion Kanjuruhan, Jumat (3/4/2026) sore. Sejumlah keluarga korban yang tergabung dalam Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) menggelar aksi diam dan doa bersama di depan Gate 13, lokasi yang menjadi saksi bisu tragedi memilukan 1 Oktober 2022 silam.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 17.35 WIB tersebut bertujuan untuk menyatakan sikap tegas menolak rencana pertandingan BRI Super League, antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang dijadwalkan digelar di Stadion Kanjuruhan pada Selasa (28/4/2026) mendatang.

Kegiatan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ketua YKTK, Devi Atok, didampingi jajaran pengurus lainnya seperti Nuri Hidayat, Djuwariyah, Cholifatur Noor, M. Toyib, dan Puji Asmawati. Turut hadir memberikan dukungan moral, Mohammad Rafi Azzamy, seorang aktivis mahasiswa dari Universitas Brawijaya.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan empat poster yang menyuarakan luka mendalam dan trauma yang belum pulih. Salah satu poster bertuliskan kalimat tajam: “Dimana hati nurani kalian, menghadirkan Persebaya datang lagi ke Kanjuruhan, trauma kami belum hilang.”

Poster lainnya menegaskan bahwa bagi keluarga korban, Kanjuruhan bukan sekadar arena olahraga, melainkan tempat mereka kehilangan orang-orang tercinta untuk selamanya. Mereka menilai kehadiran tim rival di stadion tersebut akan membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya mengering.

Usai menggelar doa di Gate 13, rombongan bergerak menuju Mapolres Malang untuk menyerahkan surat penolakan resmi. YKTK, yang telah berbadan hukum berdasarkan Keputusan Menkumham RI tahun 2024, membawa tiga poin utama dalam aspirasi mereka:

1.Trauma Mendalam: Penyelenggaraan laga ini dianggap secara sadar akan membuka kembali trauma hebat yang masih membayangi kehidupan keluarga korban.

2.Kurangnya Empati: Panitia pelaksana dinilai tidak memiliki hati nurani dan empati jika memaksakan laga tersebut di lokasi terjadinya tragedi.

3.Risiko Tinggi: Laga Arema FC vs Persebaya merupakan pertandingan kategori High Risk yang berpotensi memicu ketegangan dan situasi tidak kondusif.

Menariknya, aspirasi penolakan ini ternyata juga mendapat simpati dari internal kepolisian. Seorang anggota Polres Malang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa banyak rekan sejawatnya yang bertugas saat pengamanan tragedi 2022 juga masih mengalami trauma.

“Banyak anggota yang saat itu bertugas di lapangan juga masih merasakan trauma tersendiri yang belum hilang sepenuhnya. Harapannya, untuk laga Arema vs Persebaya sementara ini tidak diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan dahulu,” ujarnya singkat.

Hingga berita ini diturunkan, jadwal laga pekan kedua BRI Super League tersebut masih tercatat akan dilaksanakan pada 28 April 2026 dengan Arema FC sebagai tuan rumah. Namun, dengan adanya gelombang penolakan dari keluarga korban, pihak berwenang diharapkan dapat meninjau kembali keputusan tersebut demi menjaga kondusivitas dan menghormati perasaan para penyintas. (*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Aditya Mahatva Yodha
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *