October 17, 2026

Amalia Desiana, Perempuan Pertama Bupati Banjarnegara: Terinspirasi Kartini, Tangguh Hadapi Stigma dan Kritik

0


News
Amalia Desiana, Perempuan Pertama Bupati Banjarnegara: Terinspirasi Kartini, Tangguh Hadapi Stigma dan Kritik

Langkah tegas Bupati Banjarnegara menjadi bukti bahwa perempuan dapat berperan strategis dalam pembangunan daerah. (Foto Istimewa)

BERITA PLUS, BANJARNEGARA – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam kiprah perempuan masa kini. Hal itu tercermin dari sosok Bupati Banjarnegara Amalia Desiana yang menjadi perempuan pertama memimpin daerah.

Sekaligus membuktikan bahwa perempuan mampu berkarya, memimpin, dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

Menurut Amalia Desiana, inspirasi dari Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi juga dorongan nyata bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menciptakan suasana berbeda dalam kepemimpinan. 

“Kartini menjadi contoh bahwa wanita bisa berkarya dan memberikan perubahan,” ujarnya, Senin (20/4/2026). 

Menjadi bupati perempuan pertama di Banjarnegara bukanlah perjalanan yang mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, terutama stigma sosial yang masih memandang perempuan terbatas pada peran domestik.

Pandangan seperti “wanita hanya di dapur”, “tidak bisa bekerja malam”, hingga “tidak setara dengan laki-laki” menjadi hambatan yang harus ia patahkan.

Di lingkungan pemerintahan sendiri, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti, termasuk dalam beradaptasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang mayoritas diisi laki-laki. Tantangan justru lebih banyak datang dari persepsi masyarakat yang sudah mengakar lama.

Selain itu, ia juga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi ekspektasi publik. Banyak masyarakat berharap berbagai persoalan daerah dapat diselesaikan dalam waktu singkat, padahal sejumlah pekerjaan rumah tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ia menegaskan bahwa perubahan membutuhkan proses dan tidak bisa instan.

“Saya tidak bisa menjadi ‘wonder woman’ yang menyelesaikan semua masalah di Banjarnegara dalam sekejap,” ungkapnya.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, ia juga tetap menjalankan peran sebagai ibu. Ia mengakui pentingnya dukungan keluarga, terutama suami, dalam membagi tanggung jawab mengasuh anak-anak yang masih membutuhkan pendampingan.

“Kami berbagi peran, terutama untuk mendampingi anak-anak. Dukungan suami sangat berarti,” jelasnya. 

Sebagai seorang pemimpin sekaligus perempuan, ia mengaku tidak pernah merasa menyerah. Tantangan yang dihadapinya lebih banyak berasal dari komentar negatif sebagian masyarakat, terutama di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa dirinya bukan sosok yang anti kritik. Justru sebaliknya, ia sangat terbuka terhadap saran dan masukan sebagai bahan evaluasi dalam memimpin. 

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana pun menyadari bahwa dirinya tidak sempurna dan memiliki keterbatasan, sehingga peran masyarakat sangat penting dalam proses pembangunan. 

Namun, ia juga menyoroti maraknya kritik yang disampaikan melalui akun anonim yang tidak bertanggung jawab. Menurutnya, hal tersebut sering kali tidak disampaikan secara lugas dan konstruktif. 

“Satu hal yang menguatkan adalah pesan  ayah saya almarhum Budhi Sarwono untuk melanjutkan perjuangannya yang  tidak mudah, saya ingin masyarakat Banjarnegara mendapatkan sesuatu hal yang jauh lebih baik,” katanya.(*)

» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Mahrus Sholih





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *