Wamendag Roro Esti Ajak Mahasiswa Jadi Pengusaha, Cegah “Bencana Demografi”
Jefri Hadi
– 28 April 2026 | 16:04 – Dibaca 16 kali
Pemaparan Dosen Tamu, Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri saat Kuliah umum bertajuk Young Entrepreneurs di UNAIR. (Foto: Yulian/suaraindonesia.co.id)
BERITA PLUS, SURABAYA – Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, mendorong mahasiswa untuk aktif menjadi wirausaha muda guna memanfaatkan bonus demografi Indonesia.
Hal itu disampaikannya dalam kuliah umum bertajuk Young Entrepreneurs di Aula Garuda Mukti, Gedung Rektorat Universitas Airlangga, Selasa (28/4/2026).
Menurut Roro Esti, kehadiran para pengusaha muda dan asosiasi bisnis di Jawa Timur menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam mencetak generasi wirausaha baru.
“Kehadiran para pelaku usaha ini menunjukkan bahwa pengusaha muda Jawa Timur siap mendukung lahirnya wirausaha dari kalangan mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga sesi diskusi dan berbagi pengalaman untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap peluang usaha yang belum banyak dimanfaatkan.
“Akan ada banyak insight baru yang mungkin belum kita sadari sebelumnya, bahwa peluang itu sebenarnya terbuka luas,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Roro Esti juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor Unair, Muhammad Madyan, beserta jajaran pimpinan kampus yang dinilai terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor.
“Kami akan selalu semangat untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Airlangga, dalam mendorong kewirausahaan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15–64 tahun). Kondisi ini menjadi peluang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jika dikelola secara optimal.
Namun, di sisi lain, tantangan ketenagakerjaan masih cukup besar. Data menunjukkan tingkat pengangguran terbuka mencapai sekitar 7,28 juta orang, dengan tingkat pengangguran sebesar 4,76 persen dari total angkatan kerja.
Selain itu, jumlah angkatan kerja Indonesia tercatat sekitar 65,8 juta orang, dengan dinamika yang menunjukkan adanya peningkatan pengangguran, termasuk di kalangan lulusan perguruan tinggi seperti diploma, sarjana, hingga pascasarjana.
“Kita harus memastikan bonus demografi ini tidak berubah menjadi bencana demografi. Itu bisa terjadi jika kelompok usia produktif tidak terserap dalam dunia kerja atau tidak produktif,” kata Roro Esti.
Ia menegaskan, pemerintah saat ini berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program strategis, mulai dari pendidikan hingga pemenuhan gizi masyarakat.
“Fokusnya adalah pengembangan human capital agar kita memiliki sumber daya manusia yang unggul dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Roro Esti juga menekankan pentingnya kewirausahaan sebagai solusi dalam menekan angka pengangguran. Ia menyebut sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto. Artinya, sektor ini sangat strategis untuk terus dikembangkan, terutama oleh generasi muda,” katanya.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru di tengah tantangan ekonomi global.
“Harapannya, mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sebagai job seeker, tetapi juga job creator,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Airlangga periode 2025–2030, Muhammad Madyan, menegaskan komitmen kampusnya untuk mencetak lulusan berjiwa wirausaha guna menjawab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Dalam kuliah tamu bertema “Young Entrepreneur for a Better Future of Indonesia”, Madyan menyoroti ironi banyaknya lulusan perguruan tinggi yang belum terserap di dunia kerja.
“Berdasarkan data yang kami peroleh, saat ini lebih dari satu juta lulusan universitas di Indonesia masih menganggur. Ini sangat ironis,” ujar Madyan di hadapan mahasiswa.
Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadi dasar transformasi Universitas Airlangga menjadi entrepreneurial university, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda berbasis ilmu pengetahuan.
“Kami tidak ingin Universitas Airlangga menciptakan pengangguran baru. Kami ingin alumni mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Unair mewajibkan seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas untuk mengikuti mata kuliah kewirausahaan beserta praktiknya.
“Mata kuliah kewirausahaan bukan lagi pilihan, tetapi menjadi kewajiban bagi seluruh mahasiswa. Ini penting agar mereka tidak hanya menjadi job seeker, tetapi juga job creator,” kata Madyan.
Ia menjelaskan, kewirausahaan yang dikembangkan di lingkungan kampus memiliki karakter berbeda karena berbasis ilmu pengetahuan dan riset.
“Mahasiswa Unair memiliki bekal akademik yang kuat. Dengan itu, mereka diharapkan mampu menciptakan usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkualitas dan berdampak luas,” ujarnya.
Pewarta: Jefri Hadi
» Klik berita lainnya di Google News BERITA PLUS
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Imam Hairon |
